Senin, Oktober 12, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Arsitektur Sebagai Sarana Pelestarian Rumah Adat: Interaksi Budaya Lintas Generasi Menembus Ruang dan Peradaban

Redaksi by Redaksi
Agustus 3, 2025 10:38 am
in Ruang Cendekia
Bara Andana Subagyo. Foto/dok

Bara Andana Subagyo. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Bara Andana Subagyo*

Tugumalang.id – Di tengah arus disrupsi informasi dan modernisasi, peradaban masa kini menghadapi dilema besar. Arus informasi yang mengalir tanpa batas mendorong modernisasi yang berlangsung nyaris tanpa jeda.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Dalam dunia arsitektur, hal ini membuka peluang inovasi, namun di sisi lain nilai-nilai luhur tradisional terancam tenggelam. Ketika arsitektur lokal kehilangan tempatnya, manusia pun kian jauh dari jati diri, lingkungan, dan kekayaan budaya sendiri.

Maka, arsitektur harus mampu melampaui wujud fisiknya, berfungsi sebagai penghubung antar generasi yang merealisasikan “Beyond Interaction.”

Sama halnya dengan bidang lain, arsitektur tanpa upaya penyegaran akan kehilangan relevansinya seiring waktu. Jika ini terjadi, kita sebagai masyarakat akan kehilangan pemahaman tentang identitas dan gaya khasnya.

Baca Juga: Siap Kerja, 53 Mahasiswa Elektro ITN Malang Lulus Sertifikat Cisco CCNA-ITN 

Menggali dan mengungkapkan jati diri arsitektur Indonesia sama saja dengan menjelajahi perjalanan budaya dan peradaban bangsa.

Penting bagi kita untuk setidaknya memahami pengetahuan ini agar interaksi kebudayaan tidak terputus dan terus bergerak dinamis seiring perkembangan zaman.

Ilustrasi arsitektur sebagai sarana pelestarian rumah adat. Foto/dok
Ilustrasi arsitektur sebagai sarana pelestarian rumah adat. Foto/dok

Sebenarnya, keterkaitan arsitektur dengan dinamika budaya ini sudah menjadi bukti sejarah sejak dulu. Hadirnya Arsitektur Nusantara terjadi secara alamiah dan wajar, melalui lingkungan melahirkan suatu ide yang disepakati secara bersama.

Melahirkan norma berupa aturan sistematis mengenai pandangan hidup semesta (kosmologi) hingga melahirkan tradisi. Kata tradisi berasal dari bahasa latin traditionem, dari kata traditio yang berarti “serah terima” atau “estafet”. Kata ini merujuk pada kepercayaan atau kebiasaan yang diajarkan dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Proses arsitektur berawal dari percikan ide yang merespons suatu masalah, lalu secara alami membentuk upaya pemecahan masalah tersebut.

Misalnya, masalah iklim merupakan tantangan umum dalam arsitektur, namun setiap tempat/lokasi memiliki adaptasinya sendiri menghadapi iklim.

Baca Juga: ITN Malang dan Pemprov Jatim Gelar Workshop Tingkatkan Kapasitas Daerah dalam Penataan Tata Ruang

Ini terlihat dari penggunaan atap berbentuk verhang (memanjang), baik melengkung ke atas maupun melebar ke samping, seperti pada rumah adat Uma Mbatangu dan Bokulu di Kepulauan Sumba, Tanean Lanjhang di Madura, Joglo di Jawa, dan lain-lain.

Dari berbagai suku bangsa yang mendiami daerah di Indonesia sejak berabad-abad lamanya telah membentuk karakteristik budaya dan arsitekturnya masing-masing.

Itulah sebabnya terjadi aneka ragam bangunan tradisional mulai dari bentuk yang sederhana, hingga bentuk yang sempurna, berdiri berkelompok maupun yang tunggal, masing-masing mempunyai ciri khas atau kekhususan sesuai pandangan masing-masing suku.

Perkembangan arsitektur tradisional bersamaan dengan perkembangan suatu suku bangsa, menjadikannya identitas dari suatu suku atau masyarakat yang mendukungnya, dan dalam arsitektur tradisional tercermin kepribadian masyarakat pendukungnya. (Lullulangi & Sampebua’ 2007, h. 10).

Pertanyaannya kini, bagaimana membawa pengalaman budaya tersebut dapat diteruskan kepada generasi sekarang dan masa depan? Perlu sebuah kesadaran bersama dari berbagai lini sosial.

Namun, peran sentral justru pada ranah akademis. Kaum terpelajar termasuk pengajar, dan mahasiswa didukung oleh instansi terkait baik perguruan tinggi, dan pemerintah.

Pada konteks ini peran akademisi sangat diperlukan dalam upaya pelestarian/konservasi bangunan adat dengan memiliki kewajiban melaksanakan aktivitas penelitian dan pengembangan.

Pendidikan dan teknologi bekerja sebagai mediator sekaligus katalisator membawa nilai-nilai kolektif lintas generasi dalam bentuk baru.

Namun, teknologi kerap terjebak dalam pusaran kapitalisasi yang dipakai sebatas alat produksi massal, komodifikasi gaya, atau visualisasi arsitektur demi kepentingan industri.

Arsitektur tradisional pun tak luput dari eksploitasi ini yang dikemas dalam bentuk tiruan estetis tanpa makna, serta kehilangan konteks sosial budayanya.

Arsitektur tradisional tidak semata hadir untuk eksistensi visual, tetapi juga harus menjelma sebagai ruang interaksi dan dialog budaya yang melampaui batas ruang dan waktu.

Maka, jati diri arsitektur kultural terbentuk bukan dari konstruksi instan, melainkan melalui proses interaksi budaya yang hidup dan terus berkembang.

Beyond Interaction bukan hanya konsep, tetapi cara pandang bahwa pelestarian warisan bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan jembatan menuju masa depan.

Secara etimologis, kata “beyond” mengandung makna melampaui batas baik secara fisik maupun konseptual sementara “interaction” menandakan keterlibatan aktif antara dua entitas atau lebih.

Gagasan ini mendorong kita untuk tidak lagi memandang rumah adat atau arsitektur tradisional sebagai objek yang pasif, tetapi sebagai entitas hidup yang terus berdialog dengan manusia melalui waktu dan ruang.

Lewat teknologi seperti Building Information Modeling (BIM) dan Geographic Information System (GIS), warisan arsitektur Nusantara dapat direkam, dimodelkan, dan dimaknai ulang dalam bentuk digital yang interaktif.

Ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan upaya menghadirkan kembali nilai-nilai tradisional dalam dunia pendidikan, riset, dan pengembangan masyarakat.

Masyarakat Sumba bisa mengenali dirinya lewat atap-atap menjulang yang menantang langit, masyarakat Jawa memaknai budayanya melalui ruang yang sarat filosofi, sementara masyarakat Madura menemukan semangat juangnya dalam keteguhan struktur rumahnya.

Di balik keragaman rupa tersembunyi pesan-pesan lintas generasi yang menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan peristiwa hidup yang terus tumbuh dan bertransformasi.

Arsitektur tradisional tak semestinya lekang oleh zaman, tak boleh larut oleh derasnya nilai-nilai asing. Justru, ia harus hadir sebagai tonggak identitas yang kokoh, menjadi representasi budaya yang mampu menembus batas ruang dan peradaban.

Maka, arsitektur bukan hanya soal bangunan, tetapi ruang perjumpaan: antara masa lalu dan masa depan, antara warisan dan inovasi, antara jati diri dan dunia. “Jamahlah arsitektur Nusantara sebelum ia tinggal nama dalam buku sejarah dan tak bernyawa.”

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Penulis adalah mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang, angkatan 2022.

Editor: Herlianto. A

Tags: ArsitekturITN MalangperadabanRumah Adat

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Pintu gerbang Ponpes Darul Mujtaba di Pakisaji. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Pengasuh Ponpes di Pakisaji Jadi Tersangka Penganiayaan Santri 

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.