Minggu, Agustus 23, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Arsitektur Sebagai Sarana Pelestarian Rumah Adat: Interaksi Budaya Lintas Generasi Menembus Ruang dan Peradaban

Redaksi by Redaksi
Agustus 3, 2025 10:38 am
in Catatan
Bara Andana Subagyo. Foto/dok

Bara Andana Subagyo. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Bara Andana Subagyo*

Tugumalang.id – Di tengah arus disrupsi informasi dan modernisasi, peradaban masa kini menghadapi dilema besar. Arus informasi yang mengalir tanpa batas mendorong modernisasi yang berlangsung nyaris tanpa jeda.

READ ALSO

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Dalam dunia arsitektur, hal ini membuka peluang inovasi, namun di sisi lain nilai-nilai luhur tradisional terancam tenggelam. Ketika arsitektur lokal kehilangan tempatnya, manusia pun kian jauh dari jati diri, lingkungan, dan kekayaan budaya sendiri.

Maka, arsitektur harus mampu melampaui wujud fisiknya, berfungsi sebagai penghubung antar generasi yang merealisasikan “Beyond Interaction.”

Sama halnya dengan bidang lain, arsitektur tanpa upaya penyegaran akan kehilangan relevansinya seiring waktu. Jika ini terjadi, kita sebagai masyarakat akan kehilangan pemahaman tentang identitas dan gaya khasnya.

Baca Juga: Siap Kerja, 53 Mahasiswa Elektro ITN Malang Lulus Sertifikat Cisco CCNA-ITN 

Menggali dan mengungkapkan jati diri arsitektur Indonesia sama saja dengan menjelajahi perjalanan budaya dan peradaban bangsa.

Penting bagi kita untuk setidaknya memahami pengetahuan ini agar interaksi kebudayaan tidak terputus dan terus bergerak dinamis seiring perkembangan zaman.

Ilustrasi arsitektur sebagai sarana pelestarian rumah adat. Foto/dok
Ilustrasi arsitektur sebagai sarana pelestarian rumah adat. Foto/dok

Sebenarnya, keterkaitan arsitektur dengan dinamika budaya ini sudah menjadi bukti sejarah sejak dulu. Hadirnya Arsitektur Nusantara terjadi secara alamiah dan wajar, melalui lingkungan melahirkan suatu ide yang disepakati secara bersama.

Melahirkan norma berupa aturan sistematis mengenai pandangan hidup semesta (kosmologi) hingga melahirkan tradisi. Kata tradisi berasal dari bahasa latin traditionem, dari kata traditio yang berarti “serah terima” atau “estafet”. Kata ini merujuk pada kepercayaan atau kebiasaan yang diajarkan dan diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Proses arsitektur berawal dari percikan ide yang merespons suatu masalah, lalu secara alami membentuk upaya pemecahan masalah tersebut.

Misalnya, masalah iklim merupakan tantangan umum dalam arsitektur, namun setiap tempat/lokasi memiliki adaptasinya sendiri menghadapi iklim.

Baca Juga: ITN Malang dan Pemprov Jatim Gelar Workshop Tingkatkan Kapasitas Daerah dalam Penataan Tata Ruang

Ini terlihat dari penggunaan atap berbentuk verhang (memanjang), baik melengkung ke atas maupun melebar ke samping, seperti pada rumah adat Uma Mbatangu dan Bokulu di Kepulauan Sumba, Tanean Lanjhang di Madura, Joglo di Jawa, dan lain-lain.

Dari berbagai suku bangsa yang mendiami daerah di Indonesia sejak berabad-abad lamanya telah membentuk karakteristik budaya dan arsitekturnya masing-masing.

Itulah sebabnya terjadi aneka ragam bangunan tradisional mulai dari bentuk yang sederhana, hingga bentuk yang sempurna, berdiri berkelompok maupun yang tunggal, masing-masing mempunyai ciri khas atau kekhususan sesuai pandangan masing-masing suku.

Perkembangan arsitektur tradisional bersamaan dengan perkembangan suatu suku bangsa, menjadikannya identitas dari suatu suku atau masyarakat yang mendukungnya, dan dalam arsitektur tradisional tercermin kepribadian masyarakat pendukungnya. (Lullulangi & Sampebua’ 2007, h. 10).

Pertanyaannya kini, bagaimana membawa pengalaman budaya tersebut dapat diteruskan kepada generasi sekarang dan masa depan? Perlu sebuah kesadaran bersama dari berbagai lini sosial.

Namun, peran sentral justru pada ranah akademis. Kaum terpelajar termasuk pengajar, dan mahasiswa didukung oleh instansi terkait baik perguruan tinggi, dan pemerintah.

Pada konteks ini peran akademisi sangat diperlukan dalam upaya pelestarian/konservasi bangunan adat dengan memiliki kewajiban melaksanakan aktivitas penelitian dan pengembangan.

Pendidikan dan teknologi bekerja sebagai mediator sekaligus katalisator membawa nilai-nilai kolektif lintas generasi dalam bentuk baru.

Namun, teknologi kerap terjebak dalam pusaran kapitalisasi yang dipakai sebatas alat produksi massal, komodifikasi gaya, atau visualisasi arsitektur demi kepentingan industri.

Arsitektur tradisional pun tak luput dari eksploitasi ini yang dikemas dalam bentuk tiruan estetis tanpa makna, serta kehilangan konteks sosial budayanya.

Arsitektur tradisional tidak semata hadir untuk eksistensi visual, tetapi juga harus menjelma sebagai ruang interaksi dan dialog budaya yang melampaui batas ruang dan waktu.

Maka, jati diri arsitektur kultural terbentuk bukan dari konstruksi instan, melainkan melalui proses interaksi budaya yang hidup dan terus berkembang.

Beyond Interaction bukan hanya konsep, tetapi cara pandang bahwa pelestarian warisan bukanlah nostalgia masa lalu, melainkan jembatan menuju masa depan.

Secara etimologis, kata “beyond” mengandung makna melampaui batas baik secara fisik maupun konseptual sementara “interaction” menandakan keterlibatan aktif antara dua entitas atau lebih.

Gagasan ini mendorong kita untuk tidak lagi memandang rumah adat atau arsitektur tradisional sebagai objek yang pasif, tetapi sebagai entitas hidup yang terus berdialog dengan manusia melalui waktu dan ruang.

Lewat teknologi seperti Building Information Modeling (BIM) dan Geographic Information System (GIS), warisan arsitektur Nusantara dapat direkam, dimodelkan, dan dimaknai ulang dalam bentuk digital yang interaktif.

Ini bukan sekadar dokumentasi, melainkan upaya menghadirkan kembali nilai-nilai tradisional dalam dunia pendidikan, riset, dan pengembangan masyarakat.

Masyarakat Sumba bisa mengenali dirinya lewat atap-atap menjulang yang menantang langit, masyarakat Jawa memaknai budayanya melalui ruang yang sarat filosofi, sementara masyarakat Madura menemukan semangat juangnya dalam keteguhan struktur rumahnya.

Di balik keragaman rupa tersembunyi pesan-pesan lintas generasi yang menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar warisan, melainkan peristiwa hidup yang terus tumbuh dan bertransformasi.

Arsitektur tradisional tak semestinya lekang oleh zaman, tak boleh larut oleh derasnya nilai-nilai asing. Justru, ia harus hadir sebagai tonggak identitas yang kokoh, menjadi representasi budaya yang mampu menembus batas ruang dan peradaban.

Maka, arsitektur bukan hanya soal bangunan, tetapi ruang perjumpaan: antara masa lalu dan masa depan, antara warisan dan inovasi, antara jati diri dan dunia. “Jamahlah arsitektur Nusantara sebelum ia tinggal nama dalam buku sejarah dan tak bernyawa.”

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Penulis adalah mahasiswa Arsitektur S-1 ITN Malang, angkatan 2022.

Editor: Herlianto. A

Tags: ArsitekturITN MalangperadabanRumah Adat

Related Posts

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan
Catatan

Fotografi Produk Jadi Jalan UMKM Bertahan

Rabu, 19 Agu 2026
SEKATEN
Catatan

SEKATEN

Selasa, 18 Agu 2026
Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU
Catatan

Tambakberas, dari Darah Ranggalawe ke Muktamar NU

Jumat, 14 Agu 2026
Digital Holopis Kuntul Baris dan Ketahanan Sosial Kita
Catatan

Digital Holopis Kuntul Baris dan Ketahanan Sosial Kita

Senin, 10 Agu 2026
21 Jam Ngaji Gus Baha Malang-Rembang
Catatan

21 Jam Ngaji Gus Baha Malang-Rembang

Sabtu, 8 Agu 2026
Next Post
Pintu gerbang Ponpes Darul Mujtaba di Pakisaji. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Pengasuh Ponpes di Pakisaji Jadi Tersangka Penganiayaan Santri 

BERITA POPULER

  • Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    Hiburan Seru! Jadwal Karnaval Malang Raya Sepanjang 18-25 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.