Tugumalang.id – Beragam pendidikan diperoleh para murid Pondok Pesantren Modern Al-Izzah Kota Batu selama dua pekan Masa Pengenalan Pesantren dan Lingkungan Sekolah (MPPLS). Mereka mendapat pendidikan anti-bullying, kekerasan hingga bahaya penggunaan narkoba.
Edukasi tersebut juga melibatkan langsung dari para praktisi termasuk dari unsur kepolisian Polres Batu, Pemkot Batu, BNN, psikolog hingga Kejari Kota Batu.
Masa MPPLS Al-Izzah sendiri berlangsung mulai 14 – 27 Juli 2025 mendatang. Masa MPPLS-nya memang lebih lama karena para murid juga sekaligus nyantri.
Baca Juga: Target 10 Besar Tercapai, Tapi Paralayang Kota Batu Nihil Emas di Porprov Jatim 2025
Mohammad Budi Utomo, Humas Al-Izzah Kota Batu membenarkan jika proses MPLS di sana butuh waktu lama karena tidak hanya orientasi belajar dan sekolah saja yang dikenalkan, tapi juga bagaimana mereka dapat mengenal aspek kehidupan pesantren yang mandiri.
”Kami ambil tema MPPLS kali ini Projadi (Program Jati Diri Insan Rabbani) untuk memberikan arahan dan gambaran utuh tentang kehidupan dan proses pendidikan di pesantren. Tema ini diadopsi dari tema MPLS Ramah yang digagas Dinas Pendidikan Jatim,” ungkap Budi.
Baca Juga: Pengangguran di Kota Batu Capai 4.667 Orang, Pemkot Dorong Vokasi dan UMKM
Dalam tahun ajaran 2025-2026 ini, total ada 397 siswa terdiri dari 211 siswa SMP dan 186 siswa SMA yang mengikuti. Mereka datang dari berbagai daerah di Indonesia, terjauh ada yang datang dari Timika, Papua.
Selain menuntut ilmu, mereka diajarkan untuk juga merapikan kamar, adab makan hingga cara menjalin persahabatan. Dalam kehidupan pesantren atau boarding school, tentunya model pendidikannya bersifat kompleks.
Mulai pembentukan karakter hingga penanaman nilai-nilai spiritual, sosial, serta kedisiplinan.
”Apalagi di usia-usia seperti ini adalah masa-masa pembuktian diri. Ini jadi momeh penting sehingga tugas kita adalah membantu dan mendampingi mereka menemukan jati diri sebagai calon pemimpin yang memiliki akhlak dan budi pekerti sesuai ajaran islam,” jelasnya.
Berbagai edukasi holistik ini seperti tampak pada Sabtu (19/7/2025) yang mengundang jajaram Polres Batu, antara lain Plt. Kasikum Polres Batu Iptu Supriadi dan Kasubsibankum Sikum Polres Batu Aipda Deny Yuswantoro.
Keduanya mengisi materi tentang upaya preventif dalam mencegah terjadinya praktik kekerasan hingga bullying.
“Kekerasan di lingkungan pelajar bisa berdampak panjang terhadap tumbuh kembang anak. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak seluruh siswa dan guru untuk bersama-sama mencegah tindak kekerasan, termasuk kekerasan seksual yang sering kali tidak disadari bentuk dan dampaknya,” jelas Iptu Supriadi.
Selain penyampaian materi hukum dan sosial, kegiatan ini juga diisi dengan psikoedukasi yang membahas pentingnya memahami bentuk-bentuk kekerasan seksual, dampak traumatis yang bisa timbul, hingga cara melindungi diri dan melaporkan apabila menjadi korban atau mengetahui adanya kejadian kekerasan.
Dalam sesi tanya jawab berlangsung interaktif, para siswa menunjukkan minat dan keberanian untuk menyampaikan pandangan serta bertanya seputar persoalan yang sering muncul dalam pergaulan remaja, terutama yang berkaitan dengan bullying, kekerasan berbasis gender, hingga tekanan sosial yang dapat memicu gangguan psikologis.
Menurut Budi Utomo dari Al-Izzah, pendekatan holistik seperti ini penting agar para santri tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tapi juga memahami kehidupan secara utuh dari berbagai aspek.
Tak hanya itu, ada juga penguatan kesehatan mental hingga pemahaman dasar hukum serta konsekuensi perilaku menyimpang di kalangan remaja.
”Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan untuk membentuk karakter siswa yang kuat secara mental dan moral juga prestasi serta menumbuhkan keberanian dalam menyuarakan kebenaran dan keadilan,” ucapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























