Senin, Agustus 31, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Pantai

Redaksi by Redaksi
Juni 23, 2025 2:16 pm
in Catatan
Oleh: Sujatmiko, Redaktur Tugumalang.id

Oleh: Sujatmiko, Redaktur Tugumalang.id

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Sujatmiko, Redaktur Tugumalang.id

Tugumalang.id – Sejumlah pantai di Malang selatan sebagian besar sudah saya kunjungi. Mulai dari Balekambang, Kondang Merak, Sendang biru, Pantai Tiga Warna, Pantai Goa Cina, Pantai Ngliyep, dan Pantai Modangan.

READ ALSO

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Semua pantai itu sebenarnya tidak memiliki perbedaan yang signifikan. Kecuali pantai tiga warna dan Modangan. Modangan punya keistimewaan, lantaran di Modangan ada tempat peluncuran para layang, yang diprakarsai pemuda setempat sekitar tahun 2018.

Beberapa pantai di antaranya lansung terhubung ke laut lepas. Tidak ada karang yang menonjol antara bibir pantai dan laut lepas.

Sebagian besar tanpa penghalang karang yang menonjol alias ombak yang datang dari laut langsung berakhir di bibir pantai. Seperti pantai Balekambang. Sedangkan pantai Sendangbiru dan Pantai Tiga Warna, laut lepas masih dihalangi dengan Pulau Sempu.

Baca Juga: 30 Rekomendasi Wisata Pantai di Malang

Beberapa pantai mudah diakses dari jalan raya lintas selatan. Seperti pantai Sendangbiru, Pantai Goa China, atau Pantai Balekambang.

Sedangkan sisanya harus melalui jalan desa untuk sampai ke pantai. Seperti Pantai Modangan, dan sejumlah pantai lainnya.

Bagi sebagian orang, laut adalah pemandangan sehari-hari, tempat bermain, mencari nafkah, atau sekadar bersantai di senja hari.

Namun, bagi anak-anak yang tumbuh jauh dari pesisir, pengalaman pertama melihat pantai bisa menjadi momen yang sangat magis. Langit yang luas, aroma asin air laut, dan ombak besar yang menggulung ke pantai menciptakan pengalaman estetika yang mendalam.

Baca Juga: Libur Lebaran Seru di Pantai Bantol Malang, Pasir Putih dan Ombak Tenang!

Rasa takjub itu wajar. Namun di balik keindahan tersebut, tersimpan potensi bahaya yang tidak disadari, terutama oleh mereka yang belum mengenal karakter laut.

Pantai selatan Jawa dikenal dengan ombaknya yang tinggi dan arus baliknya yang mematikan. Tiap tahun, berita duka datang dari wisatawan yang terseret ombak, dan tak jarang, korban adalah anak-anak dari daerah yang tempat tinggalnya jauh dari pantai.

Mengapa ini sering terjadi? Teori kognitif Piaget menyebutkan bahwa anak-anak membangun pemahaman dari pengalaman. Tanpa pengalaman atau bimbingan tentang laut, mereka tidak memiliki skema untuk mengenali bahaya.

Apa yang bagi anak pantai tampak sebagai “ombak berbahaya” mungkin hanya terlihat sebagai permainan seru bagi anak gunung.

Perbedaan lingkungan tumbuh kembang juga berperan penting. Menurut teori ekologi Bronfenbrenner, anak-anak dari daerah pegunungan dibentuk oleh mikrosistem yang tidak mengenal laut.

Sebaliknya, anak pesisir dibesarkan dalam budaya yang mengajarkan bagaimana menghormati laut — mulai dari larangan bermain di jam tertentu, hingga mitos lokal yang sejatinya adalah sistem pengingat keselamatan. Di sinilah letak pentingnya edukasi lintas-budaya dan pengenalan terhadap lingkungan baru.

Laut memang indah, tetapi seperti semua kekuatan alam, ia harus dikenali dan dihormati. Ketika anak-anak dari daerah non-pesisir berkunjung ke pantai, pengalaman mereka seharusnya tidak hanya diisi dengan takjub, tetapi juga pemahaman.

Karena hanya dengan pemahaman, rasa kagum bisa berjalan berdampingan dengan keselamatan.

Anak gunung itu hidupnya sederhana. Bangun pagi lihat kabut, siang ke ladang atau nongkrong di warung kopi, sore mendengakan ayam pulang kandang, malam tidur tanpa AC tapi pakai jaket tebal.

Hidup damai. Kalem. Sering kali, saking damainya, mereka pikir dunia itu ya cuma sampai pohon pinus terakhir di bukit sebelah. Sampai suatu hari, diajak piknik ke pantai.

Begitu turun dari mobil dan melihat lautan biru tanpa ujung, anak gunung atau anak daratan yang tinggalnya jauh dari pantai, biasanya langsung diam. Bukan karena takjub semata, tapi karena bingung. “Ini danau? Kok luas banget? Dan kenapa airnya bergerak-gerak kayak lagi gelisah?”

Kisah Teman

Temanku, Parjo— anak gunung tulen dari kaki Gunung Lawu — pertama kali lihat laut saat liburan sekolah, langsung nyeletuk, “Loh, ini tuh laut ya? Kirain sawah gagal panen yang kebanjiran.” Terus dia buka sepatu, lari ke bibir pantai, terus kepleset ombak. Berdiri lagi, terus ngomel, “Woi, ini airnya asin! Kenapa nggak manis seperti es teh?”

Ya iyalah, Jo. Ini bukan air galon.

Di sinilah perbedaan mulai terasa. Anak pesisir sejak kecil sudah kenal sama laut. Mereka tahu kapan laut lagi kalem dan kapan dia lagi PMS — Pasang, Menggulung, dan Seret.

Mereka diajarin untuk hormat pada laut, bukan karena takut hantu, tapi karena tahu laut itu bukan tempat main-main. Ada waktu di mana laut mengundang, dan ada waktu di mana dia hanya ingin sendiri. Baper? Bukan. Laut cuma pengen dihargai.

Anak gunung atau anak daratan jauh dari pantai beda cerita. Mereka datang ke pantai bawa semangat petualang. Lihat ombak besar, bukan takut, malah bilang, “Wah, keren nih buat video TikTok!” Padahal itu ombak selatan.

Sekali gulung, bisa langsung masuk berita — bukan di segmen hiburan, tapi di rubrik duka cita.

Kalau kata para ahli, ini soal skema. Anak-anak belajar dari lingkungan mereka. Anak gunung tumbuh dengan cerita tentang lereng, longsor, dan babi hutan.

Anak pantai tumbuh dengan kisah ombak, arus balik, dan jangan main air kalau angin dari selatan. Ilmu ini turun-temurun. Nggak perlu gelar sarjana kelautan, tapi instingnya tajam — kayak tahu kapan harus mundur sebelum ombak ngajak ribut.

Masalahnya, anak gunung nggak punya “bahasa laut”. Mereka datang tanpa kamus, tanpa translator, dan tanpa pemandu wisata yang ngerti kapan laut sedang murka. Akibatnya, banyak kasus wisatawan dari pegunungan atau kota jadi korban karena mengira laut itu cuma air gede doang.

Bahkan mitos lokal pun sering dianggap guyonan. “Jangan pakai baju hijau ke laut selatan, nanti hilang.” Anak gunung? Baju wajibnya ya hijau army. Lengkap dengan tas carrier dan topi rimba.

Dia pikir laut itu tempat camping, bukan wilayah kerajaan mistis. Padahal mitos itu kadang adalah bentuk edukasi terselubung: cara orang tua jaman dulu bilang, “Jangan macam-macam sama alam.”

Laut itu indah, tapi juga punya aturan main. Nggak semua tempat bisa dijadikan lokasi main bola atau selfie. Kadang yang terlihat sepi justru paling mematikan. Dan ini bukan soal mistis atau horor. Ini soal pengetahuan — atau ketiadaan pengetahuan.

Kalau anak pesisir bisa membaca laut seperti membaca mood ibu mereka, maka anak gunung perlu waktu – dan bimbingan – untuk bisa memahami bahwa air biru itu bukan kolam renang raksasa.

Butuh edukasi wisata, papan peringatan yang jelas, dan paling penting: cerita. Cerita dari orang yang tahu laut, yang bisa bilang, “Kalau ombaknya begini, mending jangan.” Karena pada akhirnya, laut memang bukan tempat sembarang.

Dia indah, luas, mempesona. Tapi juga bisa murka. Bukan karena benci, tapi karena kita lupa: semua keindahan alam datang dengan tanggung jawab untuk memahaminya.

Jadi kalau kamu anak gunung dan suatu hari berdiri di depan laut — jangan langsung lari-lari gaya sinetron. Diam dulu. Dengarkan debur ombak. Cium aroma garam di udara.

Lihat ke kanan, lihat ke kiri. Dan tanya dalam hati: “Apakah laut sedang tersenyum… atau sedang ingin menyendiri?”

Kalau ragu, mending beli es kelapa dulu. Aman, segar, dan nggak bikin kamu diseret ke dunia lain.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Editor: Herlianto. A

Tags: anak gunungpantaiPantai BalekambangPantai Selatanpesisir pantai

Related Posts

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas
Catatan

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Senin, 31 Agu 2026
Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah
Catatan

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Minggu, 30 Agu 2026
Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Next Post
Mengatasi Overthinking

Cara Ampuh Mengatasi Overthinking dan Menenangkan Pikiran

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.