Kamis, Oktober 15, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

IKA PMII Sunan Ampel Adalah Rumah Besar, Kopi Menjadi Sahabat, dan Rindu Adalah Obat

Redaksi by Redaksi
Mei 7, 2025 8:50 am
in Ruang Cendekia
Suasana halal bi halal IKA PMII Sunan Ampel di Kopi Tani, Dau, Kabupaten Malang pada minggu (4/5/2025). Foto: dok panitia.

Suasana halal bi halal IKA PMII Sunan Ampel di Kopi Tani, Dau, Kabupaten Malang pada minggu (4/5/2025). Foto: dok panitia.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Amrullah Ali Moebin*

Tugumalang.id – Langit Kota Malang siang itu cerah, meski angin membawa kabut tipis dari pegunungan. Saya menggeber motor pinjaman dengan membonceng dua anak dan istri. Di tengah perjalanan kami berbincang tentang kondisi Malang. Kota ini sudah lebih padat dibanding 5 tahun yang lalu. Wajar saja, kami berdua pernah dibesarkan oleh Kota Malang.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Siang itu, kami akan datang di acara halal bihalal yang diselenggarakan IKA-PMII Sunan Ampel Malang tapi untuk yang muda-muda saja. Lokasinya di Kopi Tani, sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari UMM. Saya datang bersama istri sebab istri saya juga alumni PMII.

Orang-orang datang satu per satu dengan senyum, pelukan, dan sapaan-sapaan yang tak berubah sejak terakhir kami berdiskusi di bawah bendera biru-kuning.

Baca Juga: PMII Komisariat Sunan Ampel UIN Malang Resmi Miliki Pengurus Baru Masa Khidmad 2025-2026

Saya melihat wajah-wajah yang dulu pernah bersama mengisi malam-malam dengan diskusi, mimbar bebas, dan aksi turun ke jalan. Tapi kini, rambut mereka mulai memutih, atau justru mulai menghilang. Dan perutnya mulai membuncit. Ah, sepertinya mereka sudah benar-benar tidak lagi busung lapar.

Suasana halal bi halal IKA PMII Sunan Ampel di Kopi Tani, Dau, Kabupaten Malang pada minggu (4/5/2025). Foto: dok panitia.
Suasana halal bi halal IKA PMII Sunan Ampel di Kopi Tani, Dau, Kabupaten Malang pada minggu (4/5/2025). Foto: dok panitia.

Saya menarik napas dalam. Aroma Malang tetap sama, tapi dunia sudah berubah.

Delapan belas tahun lalu, saya adalah kader PMII. Berawal dari Rayon Chondrodimuko, Komisariat Sunan Ampel hingga Pengurus Cabang Kota Malang. Meksi di setiap jenjang kepengurusan saya hanya sebatas numpang tidur di sekretariat.

Saat itu, kami hidup dalam semangat idealisme yang membara. Bicara soal kebangsaan, keadilan sosial, dan cita-cita Islam rahmatan lil alamin, kami tak pernah kehabisan energi. Malam-malam kami dipenuhi diskusi filsafat, tafsir, kebudayaan, hingga strategi advokasi rakyat kecil.

Baca Juga: Rayakan Harlah ke-64, Ini Sejarah Berdirinya PMII Sebagai Organisasi Kemahasiswaan yang Mengusung Ahlussunnah Wal Jamaah

Saya masih ingat bagaimana kami menulis selebaran, menggambar spanduk tangan sendiri, dan memimpin longmarch di tengah kota. Meneriakkan persoalan rakyat.

Kini, di acara ini, anak-anak muda mengenakan jas almamater dengan lambang PMII di dada. Mereka tertawa, berbincang, dan mengabadikan momen dengan ponsel. Saya memperhatikan satu per satu: mereka tampak cerdas, tapi mataku mencari sesuatu yang dulu ada dalam diri kami — kegelisahan.

Seorang kader muda menghampiri saya memperkenalkan diri. Saya lupa namanya. Dia semester enam atau delapan, aktif di bidang media sosial dan konten dakwah digital. Dia bicara dengan lancar soal algoritma, narasi digital, dan bagaimana PMII harus menguasai ruang siber. Saya mengangguk-angguk, terkagum tapi sekaligus gamang.

“Mas dulu ngapain aja di PMII?” tanyanya dengan antusias.

Saya tertawa pelan. “Dulu, kami menulis opini di media cetak, dan demo kalau harga BBM naik.”

Kader PMII tertawa juga, tapi sorot matanya bingung. Mungkin itu terlalu analog untuk generasi yang hidup dalam ketukan jempol.

Di panggung, pembicara mulai berbicara tentang sejarah panjang mengapa acara ini dibuat. Hingga berencana halal bihalal akan terus dilakukan. Tapi pikiran melayang jauh. Saya bertanya dalam hati, apakah PMII masa depan masih menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis, atau hanya menjadi tempat mencari jaringan dan jabatan?

Lalu saya tersadar: zaman memang berganti, tapi nilai dasar tetap bisa diwariskan. Refleksi kami sebagai alumni bukan untuk menghakimi, tapi menjaga api tetap menyala — dengan cara yang berbeda. Dulu kami berjuang lewat selebaran dan demonstrasi.

Kini mereka mungkin berjuang lewat podcast, thread panjang di X (dulu Twitter), dan algoritma TikTok. Esensinya sama: menyuarakan kebenaran, menyemai keadilan.

Saat adzan magrib berkumandang, kami semua berdiri. Di sela-sela doa bersama, saya berdoa lirih: semoga PMII tidak hanya besar dalam nama, tapi tetap menjadi tempat tumbuhnya akal merdeka dan hati yang peduli.

Karena perjuangan tidak pernah selesai. Ia hanya berganti wajah.

PMII, Kopi dan Rindu

Kita kata di atas selalu saja disandingkan. Ketiganya menjadi tema silaturahmi kami bersama alumni. Usai acara kami duduk melingkar membincangkan seperti apa merawat jaringan alumni. Khususnya kami yang bukan dosen di UIN Malang. Ya, kami memiliki latar belakang yang macam-macam.

Iqbal yang dulu adalah konsolidator handal sudah menjadi bos laundry di dekat bandara. Kimo yang dulu ahli strategi pemenangan kini telah menjadi direktur salah satu bank plat merah. Dan masih banyak lainnya. Mereka memang tidak merumput di kampus namun dunia mereka sudah melebar kemana mana.

Lantas kami bersepakat nafas PMII di luar kampus harus tetap dijaga. Lilin perjuangan harus tetap menyala. Dimana saja kita berkarya dan berdampak untuk siapa saja. IKA-PMII Sunan Ampel adalah rumah besar. Kopi menjadi sahabat perekat dan rindu adalah obat. (*)

*Penulis adalah Mantan Presiden BEM UIN Malang, kini dosen di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung. Pernah menjadi wartawan di Jawa Pos Radar Bojonegoro.

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: halalbihalalIKA-PMIIkota malangPMII

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Cak Sindu, pendiri Studi Akting Malang (SAM), yang percaya bahwa akting bukan hanya sekeda seni peran. (Foto: Dohir Herliato/Sindu)

Cak Sindu dari Pentas Rakyat ke Aktor Film, Founder Studi Akting Malang

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.