Oleh: Amrullah Ali Moebin*
Tugumalang.id – Langit Kota Malang siang itu cerah, meski angin membawa kabut tipis dari pegunungan. Saya menggeber motor pinjaman dengan membonceng dua anak dan istri. Di tengah perjalanan kami berbincang tentang kondisi Malang. Kota ini sudah lebih padat dibanding 5 tahun yang lalu. Wajar saja, kami berdua pernah dibesarkan oleh Kota Malang.
Siang itu, kami akan datang di acara halal bihalal yang diselenggarakan IKA-PMII Sunan Ampel Malang tapi untuk yang muda-muda saja. Lokasinya di Kopi Tani, sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari UMM. Saya datang bersama istri sebab istri saya juga alumni PMII.
Orang-orang datang satu per satu dengan senyum, pelukan, dan sapaan-sapaan yang tak berubah sejak terakhir kami berdiskusi di bawah bendera biru-kuning.
Baca Juga: PMII Komisariat Sunan Ampel UIN Malang Resmi Miliki Pengurus Baru Masa Khidmad 2025-2026
Saya melihat wajah-wajah yang dulu pernah bersama mengisi malam-malam dengan diskusi, mimbar bebas, dan aksi turun ke jalan. Tapi kini, rambut mereka mulai memutih, atau justru mulai menghilang. Dan perutnya mulai membuncit. Ah, sepertinya mereka sudah benar-benar tidak lagi busung lapar.

Saya menarik napas dalam. Aroma Malang tetap sama, tapi dunia sudah berubah.
Delapan belas tahun lalu, saya adalah kader PMII. Berawal dari Rayon Chondrodimuko, Komisariat Sunan Ampel hingga Pengurus Cabang Kota Malang. Meksi di setiap jenjang kepengurusan saya hanya sebatas numpang tidur di sekretariat.
Saat itu, kami hidup dalam semangat idealisme yang membara. Bicara soal kebangsaan, keadilan sosial, dan cita-cita Islam rahmatan lil alamin, kami tak pernah kehabisan energi. Malam-malam kami dipenuhi diskusi filsafat, tafsir, kebudayaan, hingga strategi advokasi rakyat kecil.
Baca Juga: Rayakan Harlah ke-64, Ini Sejarah Berdirinya PMII Sebagai Organisasi Kemahasiswaan yang Mengusung Ahlussunnah Wal Jamaah
Saya masih ingat bagaimana kami menulis selebaran, menggambar spanduk tangan sendiri, dan memimpin longmarch di tengah kota. Meneriakkan persoalan rakyat.
Kini, di acara ini, anak-anak muda mengenakan jas almamater dengan lambang PMII di dada. Mereka tertawa, berbincang, dan mengabadikan momen dengan ponsel. Saya memperhatikan satu per satu: mereka tampak cerdas, tapi mataku mencari sesuatu yang dulu ada dalam diri kami — kegelisahan.
Seorang kader muda menghampiri saya memperkenalkan diri. Saya lupa namanya. Dia semester enam atau delapan, aktif di bidang media sosial dan konten dakwah digital. Dia bicara dengan lancar soal algoritma, narasi digital, dan bagaimana PMII harus menguasai ruang siber. Saya mengangguk-angguk, terkagum tapi sekaligus gamang.
“Mas dulu ngapain aja di PMII?” tanyanya dengan antusias.
Saya tertawa pelan. “Dulu, kami menulis opini di media cetak, dan demo kalau harga BBM naik.”
Kader PMII tertawa juga, tapi sorot matanya bingung. Mungkin itu terlalu analog untuk generasi yang hidup dalam ketukan jempol.
Di panggung, pembicara mulai berbicara tentang sejarah panjang mengapa acara ini dibuat. Hingga berencana halal bihalal akan terus dilakukan. Tapi pikiran melayang jauh. Saya bertanya dalam hati, apakah PMII masa depan masih menjadi ruang pembentukan kesadaran kritis, atau hanya menjadi tempat mencari jaringan dan jabatan?
Lalu saya tersadar: zaman memang berganti, tapi nilai dasar tetap bisa diwariskan. Refleksi kami sebagai alumni bukan untuk menghakimi, tapi menjaga api tetap menyala — dengan cara yang berbeda. Dulu kami berjuang lewat selebaran dan demonstrasi.
Kini mereka mungkin berjuang lewat podcast, thread panjang di X (dulu Twitter), dan algoritma TikTok. Esensinya sama: menyuarakan kebenaran, menyemai keadilan.
Saat adzan magrib berkumandang, kami semua berdiri. Di sela-sela doa bersama, saya berdoa lirih: semoga PMII tidak hanya besar dalam nama, tapi tetap menjadi tempat tumbuhnya akal merdeka dan hati yang peduli.
Karena perjuangan tidak pernah selesai. Ia hanya berganti wajah.
PMII, Kopi dan Rindu
Kita kata di atas selalu saja disandingkan. Ketiganya menjadi tema silaturahmi kami bersama alumni. Usai acara kami duduk melingkar membincangkan seperti apa merawat jaringan alumni. Khususnya kami yang bukan dosen di UIN Malang. Ya, kami memiliki latar belakang yang macam-macam.
Iqbal yang dulu adalah konsolidator handal sudah menjadi bos laundry di dekat bandara. Kimo yang dulu ahli strategi pemenangan kini telah menjadi direktur salah satu bank plat merah. Dan masih banyak lainnya. Mereka memang tidak merumput di kampus namun dunia mereka sudah melebar kemana mana.
Lantas kami bersepakat nafas PMII di luar kampus harus tetap dijaga. Lilin perjuangan harus tetap menyala. Dimana saja kita berkarya dan berdampak untuk siapa saja. IKA-PMII Sunan Ampel adalah rumah besar. Kopi menjadi sahabat perekat dan rindu adalah obat. (*)
*Penulis adalah Mantan Presiden BEM UIN Malang, kini dosen di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung. Pernah menjadi wartawan di Jawa Pos Radar Bojonegoro.
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News





























