Tugumalang.id – Berdasarkan data e-PGGBM, jumlah balita stunting di Kota Malang hingga Oktober 2025 mencapai 8,51 persen atau sebanyak 2.887 balita. Di tengah isu efisiensi anggaran pada 2026 mendatang, Pemerintah Kota Malang memastikan penanganan stunting tetap akan menjadi prioritas.
Wakil Wali Kota Malang, Ali Muthohirin mengatakan, penyusutan anggaran tak akan mempengaruhi program penanganan stunting di Kota Malang. Sebab, masih ada ribuan anak yang berpotensi stunting.
“Efisiensi tak akan mempengaruhi. Masih ada 2 ribu anak lebih yang punya potensi stunting dan ini menjadi fokus kami,” kata Ali.
Baca Juga: Alami Stunting, Balita 2,5 Tahun di Ngajum Ternyata Idap Kelainan Jantung Bawaan
Menurutnya, program penurunan angka stunting telah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029.
Selain itu, program Makan Bergizi Gratis (MBG) juga diarahkan untuk mencegah potensi stunting. Setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG diwajibkan menyalurkan 10 persen ke ibu hamil sebagai upaya pemenuhan gizi anak sejak dini.
“Sebenarnya di program MBG itu 10 persen kuota dapur wajib disalurkan untuk ibu hamil, ada kewajibannya. Itu diarahkan untuk penuntasan stunting, sehingga efisiensi tidak terlalu berpengaruh pada penanganan stunting,” tegasnya.
Baca Juga: 3 dari 20 Bayi di Jawa Timur Alami Stunting, Program PASTI Jadi Harapan Baru
Adapun strategi Pemkot Malang dalam percepatan penanganan stunting dilakukan dari hulu hingga ke hilir. Seperti bimbingan perkawinan rutin di KUA maupun di majelis keagamaan hingga pemeriksaan kesehatan calon pengantin.
Kemudian peningkatan cakupan ASI ekslusif, pemberiaan PMT pada ibu hamil dan balita kekurangan gizi, pemberian pendampingan untuk keluarga resiko stunting, penguatan ketahanan pangan bergizi, pengoptimalan peran Tim Percepatan Penanganan Stunting, hingga penguatan pemenuhan data perkembangan stunting.
Ali menyebut, permasalahan stunting bersifat multidimensi. Sehingga penanganannya memerlukan pendekatan lintas sektor yang terpadu, terencana dan berkelanjutan. Untuk itu, pengoptimalan penanganan stunting dilakukan secara kolaboratif bersama seluruh elemen pentahelix.
“Sinergi kolaborasinya, ada kebijakan, dibantu oleh kelompok kelompok dari luar, baik swasta, pengusaha dan semuanya itu untuk mempercepat pengentasan stunting yang ada di Kota Malang,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A





























