Malang, Tugumalang.id – Era Artificial Intelligence (AI) yang serba instan saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi eksistensi nilai-nilai Pancasila. Hal inilah yang menjadi fokus bagi Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP).
Pembahasan itu menjadi bahasan utama dalam ‘Dialog Kebangsaan: Pembinaan Ideologi Pancasila’ yang digelar BPIP dengan Komisi XIII DPR RI di STIE Malangkuçeçwara (ABM), Malang, Jumat (17/10/2025).
Kegiatan yang mengusung tema Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila itu dihadiri puluhan mahasiswa, dosen, serta aktivis muda yang ingin memahami bagaimana nilai-nilai Pancasila dapat diinternalisasi di era teknologi modern.
Anggota Komisi XIII DPR RI yang turut hadir di Dialog itu, Ahmad Basarah menuturkan apresiasi atas digelarnya kegiatan ini. Menurutnya, pembumian kembali nilai pancasila penting untuk memperkuat sinergi antara lembaga pendidikan dan lembaga negara.
Baca juga: 12 Tonggak Sejarah Kecerdasan Buatan: Dari Alan Turing hingga GPT-5
Saat ini, lanjut Basarah, pihaknya tengah menyusun Rancangan Undang-Undang tentang BPIP (RUU BPIP) yang kini telah masuk di Program Legislasi Nasional (Prolegnas). Saat ini, RUU BPIP ini sedang dibahas di Badan Legislasi DPR RI.
“Kami berharap tahun depan RUU BPIP bisa disahkan menjadi undang-undang. Dengan begitu, pembinaan ideologi Pancasila akan semakin kokoh dan berkelanjutan,” jelasnya.
Sebab itu ia mengapresiasi atas peran aktif STIE Malangkuçeçwara sebagai salah satu kampus swasta terbaik di Malang Raya yang berhasil mengintegrasikan nilai kebangsaan dengan inovasi pendidikan.
Menurutnya, inilah bentuk nyata kehadiran negara di tengah masyarakat akademik bukan hanya melalui regulasi, tetapi juga lewat kolaborasi yang membangun kesadaran ideologis generasi muda.
“Di tangan generasi muda berkarakter, berintegritas, dan berpikir kritis, nilai-nilai kebangsaan itu diyakini akan terus hidup bahkan di ruang digital yang serba cepat dan tanpa batas,” tegasnya.
Baca juga: PBB Bahas Kecerdasan Buatan di Dewan Keamanan, Dunia Waspadai Risiko dan Manfaat AI
Sementara. Ketua STIE Malangkuçeçwara, Drs. Bunyamin menyoroti tantangan besar yang dihadapi generasi muda saat ini. Menurutnya, membicarakan dunia digital dan bisnis adalah hal yang mudah. Tapi berbicara tentang Pancasila di tengah revolusi digital adalah ujian yang sesungguhnya.
“Topiknya sudah jelas: peranan perguruan tinggi dalam mempersiapkan generasi yang Pancasilais di era digital. Bicara digital saya percaya diri, bicara bisnis juga percaya diri, tapi bicara Pancasila ini tantangan tersendiri,” ujarnya.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bunyamin memperkenalkan konsep soft skill khas STIE ABM yang telah dikembangkan lebih dari dua dekade terakhir, yakni formula ATTITUDE akronim dari Appreciative, Time Management, Teamwork, Initiative, Thoughtfulness, Usefulness, Dedicative, dan Endless Learning. 8 nilai ini, kata dia merupakan turunan konkret dari nilai-nilai Pancasila yang disesuaikan dengan kebutuhan zaman.
“Misalnya, nilai Teamwork mencerminkan semangat gotong royong sebagaimana Sila Kedua dan Ketiga, sementara Endless Learning sejalan dengan Sila Pertama yang menekankan pentingnya keimanan dan semangat mencari ilmu. Orang yang mau terus belajar biasanya memiliki niat baik. Itu sejalan dengan nilai Ketuhanan. Dalam Islam pun, belajar dianjurkan sejak lahir hingga meninggal,” jelasnya.
Bunyamin menegaskan konsep ATTITUDE bukan sekadar pelengkap kurikulum, tetapi sarana membentuk karakter mahasiswa yang mampu menguasai teknologi dengan bijak.
“Mahasiswa tidak boleh menjadi subjek di bawah AI. Mereka harus menjadi pengendali, bukan yang dikendalikan,” tegasnya.
Sebagai contoh, ia menjelaskan bagaimana Time Management dapat diterapkan melalui pemanfaatan teknologi seperti Google Calendar atau aplikasi AI serupa untuk mengatur jadwal belajar dan menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental.
“AI bisa jadi mitra untuk membantu mahasiswa, bukan ancaman. Yang penting, manusia tetap memegang kendali,” katanya.
Baca juga: Stafsus BPIP dan Rohaniawan Katolik Romo Benny Dimakamkan di TPU Sukun Malang
Namun, ia juga mengingatkan pentingnya integritas dalam penggunaan AI. Menurutnya, kecerdasan buatan harus digunakan secara etis bukan untuk menjiplak karya, melainkan untuk menyalakan inspirasi.
“Yang kita butuhkan adalah integritas, berpikir kritis, dan etika dalam berdialog dengan teknologi. Itu bagian dari semangat Pancasila,” serunya.
Formula ATTITUDE ini, lanjutnya, telah diterapkan secara konsisten melalui Program Pengendalaman Soft Skill Mahasiswa (PSSM) dan diintegrasikan ke dalam seluruh Rencana Pembelajaran Semester (RPS). Selama lebih dari 20 tahun, pendekatan ini terbukti membantu mahasiswa ABM memahami makna moral dan sosial dari setiap langkah mereka dalam dunia profesional.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























