Tugumalang.id – Puluhan siswa di SDN Kauman 1, Kota Malang dilaporkan mengalami dugaan keracunan MBG pada Selasa (21/7/2026). Setelah uji lab terhadap sample makanan keluar, kini operasional SPPG Sukoharjo yang dikelola Yayasan Batik Tulis Celaket dihentikan untuk sementara waktu.
Setidaknya, ada sekitar 33 siswa yang dilaporkan mengalami gejala sakit perut, mual hingga muntah pasca mengonsumsi MBG. Bahkan beberapa di antaranya harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Ketua Satgas MBG Kota Malang, Erik Setyo Santoso yang juga merupakan Sekda Kota Malang mengatakan bahwa sejauh ini SPPG Sukoharjo menyuplai 2.608 penerima manfaat MBG baik siswa jenjang KB, SD, SMP dan 3B (Bumil, Busui dan Balita).
Baca Juga: Libur Sekolah, 258 SPPG di Kabupaten Malang Stop Produksi MBG Sementara
“Kalau penerima manfaat di SDN Kauman 1 ada 538 siswa. Jumlah yang sakit perut, mual dan muntah ada 33 siswa,” ungkapnya, Selasa (28/7/2026).
Saat itu, menu MBG terdiri dari nasi, capcay manis, telur ceplok kuah, tempe daun jeruk, dan susu. Dugaan keracunan mulai dilaporkan sehari setelah makanan dikonsumsi. Sedangkan pengambilan sampel untuk pemeriksaan laboratorium dilakukan dua hari pasca kejadian yakni 23 Juli 2026.
Berdasarkan hasil uji laboratorium terhadap sample MBG dari SPPG Sukoharjo, diketahui terdapat bakteri E Colli pada menu telur yang dimasak steam dan saat pengolahan diduga telur tersebut terkontaminasi. Kadar bakteri tersebut ditemukan melebihi batas yang diperbolehkan.
“Dugaan sementara berasal dari telur steam diduga kurang higienis saat proses pengolahan,” ujarnya.
Baca Juga: Libur Sekolah, 258 SPPG di Kabupaten Malang Stop Produksi MBG Sementara
“Dari 4 sample yang diambil, 1 sample yang tidak memenuhi syarat yakni olahan telur,” imbuhnya.
Erik memastikan bahwa Pemkot Malang telah mengambil langkah menghentikan sementara operasional SPPG Sukoharjo yang menjadi penyedia MBG bagi para siswa terdampak SDN Kauman 1.
Penghentian distribusi MBG itu belum dapat dipastikan akan sampai kapan batas waktunya. Dikatakan, pemerintah akan melakukan evaluasi terhadap SOP produksi di SPPG tersebut, sekaligus berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN).
“Untuk sampai kapannya, kami akan melihat pembenahan pembenahan dalam SOP produksi dari SPPG yang bersangkutan,” tegasnya.
Kini, pihaknya juga terus memantau kondisi 33 siswa yang terdampak. Dimana, sebagian diantaran hingga saat ini masih menjalani perawatan di rumah sakit. Dia memastikan seluruh biaya pengobatan menjadi tanggung jawab pihak SPPG bersangkutan.
“Intinya, anak anak ini harus mendapatkan penanganan terbaik dan cepat pulih,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Batik Tulis Celaket, Abdul Hanan Jalil yang merupakan mitra SPPG Sukoharjo menyampaikan permohonan maaf atas insiden tersebut.
Namun, ia juga menyebut harusnya penelusuran penyebab keracunan dilakukan lebih cepat agar hasil investigasi lebih akurat.
Menurutnya, laporan dari pihak sekolah baru diterima sehari setelah makanan dikonsumsi. Sedangkan sampel baru diambil dua hari kemudian. Kondisi tersebut, menyulitkan penelusuran karena masih perlu diketahui makanan lain yang dikonsumsi siswa setelah menerima MBG.
“Karena kejadiannya tidak langsung, jadi kami bingung. Seharusnya pasca makan MBG itu makan apa lagi, itu yang harus ditracking. Jadi jangan setiap persoalan ditimpakan hanya ke SPPG. Sampel telur, nasi dan semua makanan hari Selasa, itu diambil uji lab hari Kamis, kan repot juga kami,” ujarnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


























