Tugumalang.id – Kian membanggakan, Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN) Malang terus meningkat kualitas layanan pendidikan guna menyongsong international reputasion and recognation.
Diantaranya, kampus Ulul Albab ini meresmikan Laboratorium dan Museum Pendidikan Islam Indonesia yang digagas oleh Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Maliki Malang.
Diketahui, Laboratorium dan Museum Pendidikan Islam ini diresmikan oleh Rektor UIN Maliki Malang, Prof Dr Zainuddin MA, serta didampingi oleh Dekan FITK UIN Maliki Malang, Dr H Agus Maimun, dan Ketua Pengelola Laboratorium dan Museum Pendidikan Islam Indonesia, Yhadi Firdiansyah MPd.

Prof Dr Zainuddin MA menyebut, gagasan Laboratorium dan Museum Pendidikan Islam ini merupakan sesuatu hal yang besar dan harus direalisasikan. “InsyaAllah ini satu-satunya di Indonesia. Oleh sebab itu mesti disiarkan atau viralkan,” katanya.
Dia berharap, museum ini dapat berkembang menjadi pusat pembelajaran dan khazanah bersama tentang sejarah pendidkan Islam di Indonesia.
“Harapan kita supaya betul-betul berkembang menjadi museum yang bisa dihadiri dan didatangi oleh banyak orang dan menjadi khazanah kita bersama. Saya sangat bangga,” imbuh Zainuddin.
Sementara itu, Dr H Agus Maimun menambahkan, Laboratorium dan Museum Pendidikan Islam ini sudah digagas sejak tahun 2018.
“Ketika awal dari periode kepemimpinan dekanat di FITK, kita dimana-mana belum menemukan museum pendidkan Islam. Yang ada Museum Pendidikan Nasional di Bandung. Kalau museum pendidkan islam belum punya. Akhirnya kita bentuk tim untuk mencari dokumen,” paparnya.
Diakui oleh Maimun, berburu dokumen merupakan bagian yang paling sulit. Pasalnya, tidak sembarangan dokumen dapat diletakkan di museum, melainkan harus memiliki nilai sejarah tersendiri.
“Saya apresiasi pada tim yang sudah menemukan beberapa dokumen manuskrip dari salah satu ulama Indonesia yang ditemukan dan hadir di kita. Meski jumlah koleksi kita belum banyak tapi kita akan berusaha terus melengkapi koleksi di museum ini,” ujarnya.
Sementara Yhadi Firdiansyah MPd menjelaskan, laboratorium dan museum ini memberisikan 4 macam koleksi. Antara lain: tokoh pendidikan Islam beserta pemikirannya, tentang pondok pesantren dan madrasah yang memiliki peran terhadap pendidikan Islam di Indonesia, hingga dokumen atau manuskrip berupa kitab atau karya dari para dosen UIN Malang.
Dijelaskan oleh Yadhi, dalam rangka terwujudnya museum tersebut, dia bersama tim kemudian membuat strategi.
Langkah awalnya, dengan melakukan studi banding di salah satu museum di Lamongan, Indonesia Islamic Art Museum.
“2019 kami berhasil mendapatkan manuskrip pertama di salah satu Ponpes di Jakarta. Dokumen atau manuskrip itu asli, berupa kitab yang berusia lebih dari 300 tahun. Selain itu kita juga lakukan pelacakan manuskrip sekaligus rancangan konsep,” bebernya.
Kemudian sampai di tahun 2020, pihaknya berkesempatan melakukan diskusi dengan prosesor di UIN Jakarta sekaligus kolektor manuskrip untuk belajar bagaimana strategi pelacakan manuskrip.
“Kami dapat masukan positif yang ke depan akan kita jadikan acuan untuk bangun museum ini,” katanya.
“Ini merupakan langkah awal untuk kami melanjutkan perjuangan mewujudkan keinginan dan cita-cita UIN untuk memiliki museum, utamanya museum pendidkan Islam Indonesia,” pungkasnya.(ads)
Reporter: Feni Yusnia
Editor: Lizya Kristanti