Tugumalang.id – Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang atau UIN Malang kembali menegaskan komitmennya sebagai pionir pengembangan integrasi sains dan Islam melalui sebuah kegiatan diskusi akademik pada Sabtu 15 November 2025.
Acara ini menghadirkan dua pembicara, yakni Drs. H. Basri, M.A., Ph.D yang menjabat sebagai Wakil Rektor Bidang Akademik UIN Malang serta Dr. H. M. Luthfi Musthofa, M.Ag selaku Sekretaris LP2M UIN Malang.
Kegiatan ini dipandu oleh Dr. Dewi Chamidah, M.Pd, selaku Ketua Pusat Studi Integrasi Sains dan Moderasi Beragama, yang membuka acara dengan menegaskan pentingnya ruang diskusi terstruktur agar konsep integrasi di UIN Malang semakin terarah.
Baca Juga: Perkuat SDM dan Riset Hukum, UIN Malang Jalin Kerja Sama Strategis dengan Pengadilan Tinggi Agama
Acara diawali dengan sambutan oleh ketua LP2M UIN Malang, Dr. KH. Isroqunnajah, M.Ag, yang menekankan posisi strategis UIN Malang dalam peta pendidikan Islam di Indonesia.

Menurutnya, gagasan integrasi sains dan agama bukan sekadar jargon, tetapi merupakan identitas epistemologis yang sejak lama menjadi pijakan UIN Malang.
Ia mengingatkan bahwa integrasi tersebut membutuhkan kerangka metodologis yang kuat agar ruh keilmuan kampus Ulul Albab tetap terjaga di tengah pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan.
Memasuki sesi inti, pembicara pertama, Drs. H. Basri, M.A., Ph.D, membuka paparan dengan memetakan sejarah panjang gagasan integrasi sains dan agama yang berkembang dalam wacana pemikiran Islam kontemporer.
Ia mengulas kontribusi tokoh-tokoh besar seperti Ismail Raji al-Faruqi, Syed Muhammad Naquib al-Attas, dan Ziauddin Sardar, yang masing-masing menawarkan jalan berbeda dalam mengatasi problem dikotomi ilmu modern dan ilmu-ilmu keislaman.
Baca Juga: Memperkuat Kontribusi Akademik, LP2M UIN Malang Gelar Monitoring dan Evaluasi Penelitian Litapdimas 2025

Al-Faruqi, jelas Basri, menekankan pentingnya Islamization of Knowledge melalui rekonstruksi kurikulum dan paradigma keilmuan; sementara al-Attas lebih fokus pada dewesternisasi ilmu dan pemurnian konsep-konsep epistemik Islam.
Adapun Sardar menawarkan kritik terhadap sains modern sekaligus mendorong pembangunan sains alternatif yang berpijak pada nilai dan etika Islam.
Dr. Basri menegaskan bahwa ketiga tokoh tersebut memberikan pondasi teoretis yang kaya, namun konteks Indonesia membutuhkan pendekatan yang lebih operasional dan aplikatif.
“Kita harus mengapresiasi para pendahulu, tetapi integrasi di Indonesia—khususnya di UIN Malang—memerlukan adaptasi yang sesuai dengan realitas sosial, akademik, dan kultural kita,” ujarnya.
Sesi dilanjutkan dengan pemaparan pembicara kedua, Dr. H. M. Luthfi Musthofa, M.Ag, yang mengambil perspektif epistemik melalui kajian tafsir.
Ia menjelaskan bahwa integrasi sains dan agama bukan hanya soal memasukkan ayat al-Qur’an ke dalam materi sains, tetapi tentang transformasi epistemik dalam memandang objek, metode, dan tujuan ilmu.
Dr. Luthfi mencontohkan bagaimana Tafsir Al-Misbah karya M. Quraish Shihab menyajikan penafsiran yang relevan dengan konteks kontemporer, membuka ruang dialog antara nas dan fenomena ilmiah.
Lebih jauh, ia memperkenalkan paradigma Ma’na Cum Maghza yang dipopulerkan oleh Prof. Dr. Sahiron Syamsudin, M.A sebagai core epistemology dalam proses integrasi.
Paradigma ini tidak hanya mencari makna tekstual (ma’na), tetapi juga pesan signifikan (maghza) yang dapat dibawa ke ranah keilmuan modern.
Dengan pendekatan tersebut, integrasi tidak berhenti pada tataran simbolik, melainkan hadir sebagai kerangka analitis dalam mengembangkan ilmu pengetahuan berbasis nilai-nilai Qur’ani.
Usai pemaparan kedua narasumber, sesi tanggapan berlangsung hangat. Dr. Drs. M. Yunus, M.Si menjadi penanggap pertama yang menyoroti sejumlah contoh nyata integrasi yang telah dilakukan di berbagai fakultas, baik dalam bentuk kurikulum maupun penelitian interdisipliner.
Ia menilai bahwa UIN Malang sebenarnya telah memiliki modal kuat, tinggal memperjelas standar dan indikatornya.
Tanggapan berikutnya datang dari Dr. Halimi, M.Pd, yang menekankan perlunya dimensi spiritualitas dalam setiap bentuk integrasi. Baginya, integrasi tidak hanya soal penggabungan ilmu, tetapi juga pembentukan manusia berkarakter Ulul Albab.
Pernyataan ini segera diamini oleh Prof. Dr. Sudirman, M.A, yang melihat spiritualitas sebagai ruh yang menjaga agar integrasi tidak terjebak dalam sekadar teknokrasi akademik.
Diskusi makin hidup setelah Dr. Muallifah, M.A serta Prof. Dr. Hj. Sutiah, M.Pd menyoroti perlunya rumusan operasional yang jelas.
Keduanya menekankan bahwa setelah puluhan tahun gagasan integrasi digulirkan, UIN Malang perlu melahirkan panduan baku agar civitas akademika memiliki arah yang sama.
Tanggapan terakhir disampaikan Dr. Zaenul Mahmudi, M.A, yang turut menekankan pentingnya penyusunan pedoman institusional sebagai bentuk keseriusan akademik dan kelembagaan.
Menutup kegiatan, moderator merangkum bahwa setelah 21 tahun sejak isu integrasi diperkenalkan pada 2004, UIN Malang telah mencapai banyak capaian, namun belum memiliki pedoman final yang menjadi pegangan bersama.
Karenanya, kegiatan ini menegaskan urgensi tindak lanjut berupa finalisasi konsep serta penyusunan pedoman integrasi sains-agama, yang tetap berpijak pada karakter Ulul Albab sebagai identitas intelektual kampus.
Acara berakhir dengan harapan bersama bahwa momentum ini menjadi langkah strategis menuju integrasi yang lebih matang, terukur, dan berdampak nyata bagi pengembangan ilmu pengetahuan di UIN Malang maupun dunia akademik Islam secara lebih luas.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis UIN Malang
Editor: Herlianto. A





























