Sunday, July 5, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Trinil, Situs Manusia Purba di Ngawi yang Diakui Dunia

Redaksi by Redaksi
November 10, 2022 9:46 am
in Pilihan Redaksi
Diorama pithecanthropus erectus di Museum Trinil.

Diorama pithecanthropus erectus di Museum Trinil. Foto/Lizya Kristanti/Tugu Jatim

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Jejak penting manusia purba dalam riset paleontologi ditemukan di Indonesia, tepatnya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Jejak itu adalah fosil manusia purba yang diberi nama pithecanthropus erectus.

Fosil kera berjalan tegak itu ditemukan di daerah yang disebut Trinil, yaitu sebuah kawasan di lembah Bengawan Solo, tepatnya di Jalan Raya Ngawi-Solo KM 13, Desa Kawu, Kecamatan Kedunggalar. Konon, lokasi ini menjadi hunian kehidupan purba, tepatnya zaman pleistosen tengah, sekitar satu juta tahun yang lalu.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Juru Pelihara Museum Trinil Ngawi, Agus Hadi Widiarto, menjelaskan bahwa Trinil merupakan nama situs, bukan nama dusun atau desa.

Agus menunjukkan patung pithecanthropus erectus. Foto/Lizya Kristanti/Tugu Jatim

“Nama situs di mana ditemukan fosil manusia pithecanthropus erectus yang lokasinya di tepian Bengawan Solo, ada di antara tiga desa. Kebetulan lokasinya itu di tepian aliran Bengawan Solo, makanya si penemu memberi nama Trinil, tri artinya tiga desa, nil artinya sungai,” jelasnya, pada tugumalang.id, beberapa waktu lalu.

“Sampai sekarang, nama tersebut dipakai sebagai nama museum yaitu Museum Trinil yang berskala internasional,” imbuh Agus.

Dia menjelaskan, pithecanthropus erectus sendiri merupakan manusia purba yang ditemukan di Ngawi oleh orang Belanda, Eugene Dubois, pada tahun 1890. Berdasarkan lapisan tanah tempat fosil ditemukan, diperkirakan pithecanthropus erectus hidup 1-2 juta tahun yang lalu.

Tampak depan Museum Trinil di Ngawi. Foto/Lizya Kristanti/Tugu Jatim

Eugene Dubois sendiri merupakan ahli anatomi berkebangsaan Belanda yang ingin membuktikan teori evolusi Darwin. Dia melakukan ekspedisi penelitian mulai dari daratan Eropa hingga ke Hindia Belanda (Indonesia).

“Akhirnya dia datang ke Indonesia, ikut tentara KNIL (Koninklijk Nederlands-Indische Leger) sebagai seorang doktor,” jelas Agus.

Di Trinil, Eugene Dubois menemukan fosil berupa tulang rahang, bagian atas tengkorak, geraham, dan tulang kaki. Setelah dikonstruksi, terlihat spesies seperti kera, namun berdiri tegak, sehingga dinamai pithecanthropus erectus.

Poster perjalanan panjang menuju manusia modern yang terpajang di Museum Trinil. Foto/Lizya Kristanti/Tugu Jatim

Ciri-ciri pithecanthropus erectus yakni berbadan tegap dengan alat pengunyah yang kuat, tinggi badan berkisar 165-170 cm, berat badan sekitar 100 kg, berjalan tegak, makanannya masih kasar dengan sedikit pengolahan.

Eugene Dubois mengelompokkan dan menamakan temuannya sebagai pithecanthropus erectus karena bukan termasuk ras kera, juga bukan ras manusia.

Koleksi dan suasana Museum Trinil. Foto/Lizya Kristanti/Tugu Jatim

“Di sini, pithecanthropus erectus kapasitas otaknya 900 cc. Ini bukan ras kera dan bukan ras manusia, makanya diberi nama pithecanthropus erectus, kera berjalan, karena kera kapasitas otaknya 600 cc, manusia modern 1200-1400 cc,” jelasnya.

“Ini penemuan pertama di Indonesia, bahkan jadi temuan pertama kali di dunia,” ujarnya.

Selain fosil pithecanthropus erectus, museum seluas 24.010 meter persegi itu juga menyimpan fosil binatang. Ada fosil gajah purba berupa gading, tulang paha kanan, gigi, hingga geraham.

Patung gajah berada di halaman depan Museum Trinil. Foto/Lizya Kristanti/Tugu Jatim

Lalu fosil banteng dan kerbau purba berupa tulang rusuk, tengkorak kerbau, hingga tengkorak banteng. Serta beberapa fosil pendukung seperti cangkang kerang, kapak genggam, hingga rahang harimau.

Museum bertajuk “The Museum of Fossil Ngawi” ini, kini menyimpan lebih dari 4 ribu fosil. Juga terdapat tugu prasasti penanda berdirinya Trinil. Arti dari tugu itu adalah pithecanthropus erectus, berada 175 meter ke arah timur laut yang digunakan sebagai penunjuk arah tempat penemuan fosil.

Catatan ini adalah bagian dari program Jelajah Jawa-Bali, tentang Inspirasi dari Kelompok Kecil yang Memberi Arti oleh Tugu Media Group x PT Paragon Technology and Innovation. Program ini didukung oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Pondok Inspirasi, Genara Art, Rumah Wijaya, dan pemimpin.id.

Reporter: Lizya Kristanti

Editor: Herlianto. A

Tags: Eugene Duboisjelajah jawa baliManusia PurbaMuseum TrinilNgawiPithecanthropus ErectusSitus Purbakala

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Monday, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Sunday, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Tuesday, 7 Oct 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Tuesday, 7 Oct 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Tuesday, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Monday, 15 Sep 2025
Next Post
Ilustrasi mendapatkan beasiswa.

Beasiswa Djarum Plus, Ini Syarat dan Cara Mendaftarnya

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sepeda Motor Tabrak Pejalan Kaki di Lawang, 3 Orang Luka-luka

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Edi Purwanto, Santri dan Penggerak NU Asal Malang Terpilih Jadi Komisioner KI Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.