MALANG, Tugumalang.id – Hanya berjarak beberapa puluh meter dari Stasiun Singosari, sebuah toko buku sederhana perlahan tumbuh dengan sejuta cerita. Baru tiga bulan berdiri, Toko Buku Sani mulai mencuri perhatian pecinta literasi berkat lokasinya yang unik sekaligus romantis.
Bangunan toko ini terbilang mungil, berukuran sekitar 2,5 x 2 meter. Rak buku menjulang memenuhi dinding kanan dan kiri, sementara sebuah jendela di bagian belakang toko menghadap langsung ke area dalam Stasiun Singosari.

Di sela-sela berburu buku, pengunjung bisa menikmati pemandangan kereta yang datang dan berangkat. Aktivitas penumpang yang lalu lalang dengan barang bawaan mereka turut menjadi daya tarik tersendiri. Suasana ini menjadikan Toko Buku Sani bukan sekadar tempat jual beli buku, melainkan ruang singgah yang hangat untuk menikmati literasi.
Baca juga: 5 Toko Buku Terbaik di Kota Malang, Surga Literasi Murah dan Lengkap
Pemilik toko pun terbuka bagi siapa saja yang ingin mampir sekadar mengobrol santai, ditemani suara gemuruh lokomotif yang sesekali melintas.
Koleksi Lengkap di Ruang yang Sederhana
Di balik ukurannya yang kecil, koleksi Toko Buku Sani terbilang mengesankan. Beragam genre tersedia, mulai dari buku agama, psikologi, self-development, ekonomi, politik, hukum, parenting, hingga novel dan buku anak-anak.
Selain buku baru, toko ini juga menyediakan buku preloved hingga buku lawas yang kerap diburu kolektor.
“Buku yang sedang viral, saya usahakan selalu ada stoknya,” ujar pemilik Toko Buku Sani, Anindya Sani, beberapa waktu lalu.
Ia menuturkan, sang suami telah berkecimpung di dunia penerbitan buku sejak 2010. Pengalaman tersebut membuat mereka memiliki akses ke berbagai penerbit, sehingga relatif mudah melengkapi koleksi buku di toko.
Sebelum membuka toko di dekat Stasiun Singosari, Sani lebih dulu mengelola toko buku dari rumahnya di wilayah Kecamatan Singosari. Ia juga menjalankan toko buku secara online melalui platform Shopee.
Keputusan membuka toko fisik di dekat stasiun diambil karena lokasinya yang lebih dekat dengan jalan raya dan mudah ditemukan pembeli.
“Kebetulan ada kios dekat stasiun yang kosong, kayaknya kok bisa dibuat kios yang estetik,” ujar Ninda.
Dari Pesimistis hingga Menemukan Titik Balik

Sebelum membuka Toko Buku Sani, Ninda sempat merasa pesimistis. Penjualan buku yang terus menurun, rendahnya minat baca, hingga persaingan dengan penjual buku bajakan menjadi tantangan berat.
“Penjualan online itu kalah banget dengan orang yang jual buku bajakan. Penjualan kami makin tahun makin menurun,” kata Ninda.
Namun keputusan membuka toko fisik justru menjadi titik balik. Meski tiga minggu pertama nyaris tanpa pembeli, kini Toko Buku Sani terbilang cukup ramai. Bahkan, penjualannya disebut mampu melampaui penjualan online.
Ninda menyadari bahwa minat baca di Singosari dan Lawang sebenarnya masih cukup tinggi. Selama ini, para pembaca hanya terkendala akses dan ketiadaan ruang untuk bertemu serta berbincang seputar literasi.
Selama ini, toko buku kerap identik dengan perjalanan jauh ke kota, ditambah harga buku di toko besar yang tidak selalu terjangkau.
Kehadiran Toko Buku Sani pun menjadi jawaban atas kebutuhan tersebut. Lokasinya dekat, koleksinya beragam, dan harganya ramah di kantong.
Harga buku di Toko Buku Sani dimulai dari Rp5 ribu untuk buku anak-anak dan Rp15 ribu untuk buku umum. Secara umum, harga buku di toko ini setidaknya lebih murah sekitar 20 persen dibandingkan toko buku besar.
Buku Lawas Jadi Incaran Kolektor
Di luar dugaan, buku-buku lawas justru menjadi salah satu magnet utama Toko Buku Sani. Para kolektor dikenal gigih berburu judul incaran mereka.
Ninda bercerita, satu judul buku bisa langsung diserbu pembeli dari berbagai daerah setelah diunggah ke media sosial Threads. Tak sedikit yang rela datang langsung ke toko karena khawatir kehabisan.
Karya-karya Pramoedya Ananta Toer menjadi incaran serius. Novel Orang-orang Banten pernah dilepas dengan harga Rp400 ribu, sementara Cerita dari Blora mencapai Rp800 ribu.
Awalnya, Ninda mengaku belum sepenuhnya memahami dunia buku lawas. Namun dari para pembeli itulah ia belajar bahwa kecintaan terhadap buku sering kali melampaui logika harga.
“Mungkin bagi kita harganya mahal, tapi bagi orang lain itu tidak masalah,” katanya.
Perlahan namun pasti, Toko Buku Sani terus berkembang. Media sosial pun dimanfaatkan untuk menjangkau para pecinta buku. Tak jarang, unggahan sederhana justru menarik perhatian dan mendatangkan pengunjung baru, baik secara langsung maupun melalui pembelian online dari luar daerah.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























