Malang, Tugumalang.id – Struktur diduga bangunan kuno ditemukan di halaman Candi Jago, Desa Tumpang, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang. Temuan ini muncul saat pekerja melakukan pemugaran candi bersejarah tersebut.
Struktur berupa tembok dari batu bata merah yang tersusun rapi itu diperkirakan berasal dari era Kerajaan Majapahit. Selama ratusan tahun, bangunan ini terpendam di bawah tanah dengan kedalaman sekitar 20–30 sentimeter.

Pemugaran Candi Jago sendiri sudah berlangsung sejak 29 Mei 2025. Pada Juni 2025 lalu, ketika pekerja melakukan persiapan pemugaran, mereka secara tidak sengaja menemukan struktur kuno ini, hanya berjarak sekitar dua meter dari bagian depan candi.
Baca juga: Candi Jago di Malang Dipugar Pertama Kalinya, Target Rampung 2027
“Awalnya pekerja menggali tanah untuk mengamankan batu-batu yang diturunkan dari candi agar tidak terkena panas. Saat digali, ternyata ada benda keras di bawah tanah. Setelah dibuka, tampak susunan batu bata besar yang membentuk struktur. Ini di luar ekspektasi kami,” ujar Juru Pelihara Candi Jago, Imam Pinarko, Senin (15/9/2025).
Penggalian lebih lanjut mengungkap bahwa struktur tersebut memiliki bentuk simetris dengan bangunan utama candi. Bahkan, bagian sudut struktur juga berhasil ditemukan di sisi selatan. Hingga kini, sudah ada empat titik lubang galian di sekitar halaman candi untuk memastikan keberadaan bangunan kuno ini.
“Ke depan, penggalian akan dilanjutkan hingga ke ujung halaman untuk mengetahui seberapa luas struktur tersebut,” tambah Imam.
Diduga Peninggalan Majapahit
Imam menduga bangunan ini berasal dari era Majapahit, ditandai dengan penggunaan batu bata merah berukuran seragam. Pada masa kepemimpinan Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada, Majapahit dikenal kerap melanjutkan pembangunan candi yang belum selesai dikerjakan oleh kerajaan sebelumnya.
Baca juga: Candi Jago, Saksi Bisu Kejayaan Dua Kerajaan Besar Hindu Buddha Terbesar dalam Catatan Sejarah Indonesia
Candi Jago sendiri awalnya dibangun pada masa Kerajaan Tumapel atau Singhasari. Namun, diyakini pembangunannya belum rampung hingga akhirnya diteruskan di masa Majapahit.
“Mereka mengutus Adityawarman untuk menyelesaikan pemahatan di Candi Jago. Buktinya, terdapat banyak relief bergambar Surya Majapahit. Sementara di era Tumapel lebih dikenal lambang Nawa Sanga,” jelas Imam.
Kerajaan lain yang menggunakan batu bata merah untuk bangunan-bangunannya adalah Medang yang dipimpin Mpu Sindok. Akan tetapi, kerajaan ini biasanya lebih suka mendirikan bangunan baru daripada menyelesaikan bangunan yang sudah ada.
Era Mpu Sindok juga menggunakan batu bata dengan berbagai ukuran. Mulai dari ukuran tipis, sedang, tebal, hingga berbentuk sudut. “Kalau era Majapahit, batu batanya seragam,” kata Imam.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko


















