Tugumalang.id – Pemerintah Kota Batu di bawah kepemimpinan Wali Kota Nurochman dan Wakil Wali Kota Heli Suyanto mulai melakukan percepatan untuk merealisasikan Spiritual Botanical Garden. Ini menjadi salah satu dari 15 program prioritas Mbatu Sae yang juga konsen membidik segmentasi pasar wisata deep tourism.
Bukan sekadar taman rekreasi biasa, Spiritual Botanical Garden merupakan konsep kebun raya konservasi yang memadukan wisata spiritual. Infonya, program ini sudah masuk dokumen resmi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Batu 2025-2030.
Baca Juga: Wali Kota Batu Nurochman Dorong Santri Jadi Pelopor Kemajuan Peradaban Dunia

Wali Kota Batu, Nurochman menjelaskan proyek ini merupakan jawaban konkret atas pergeseran tren pariwisata global yang kini mulai jenuh dengan wisata hiburan konvensional. Terbaru, pihaknya tengah ingin beralih ke arah deep tourism yang lebih bersifat healing.
Nurochman memandang ada urgensi besar isu kesehatan mental (mental health) di tengah masyarakat modern saat ini. Di mana wisatawan tidak lagi hanya mencari spot foto, namun lebih ke arah mencari ketenangan, mediasi, dan ruang untuk kontemplasi diri.
Baca Juga: Wali Kota Batu Nurochman Ikuti Pembekalan di Magelang dengan Nuansa Militer
”Spiritual Botanical Garden ini kami siapkan sebagai penawar kejenuhan tersebut, memanfaatkan potensi lanskap yang ada, hutan-hutan hingga pegunungan Kota Batu,” ujar Cak Nur, sapaan akrabnya, Senin (22/6/2026).
Secara konsep, pengembangan Spiritual Botanical Garden Kota Batu dirancang agar wisatawan tinggal lebih lama (length of stay yang tinggi).
Masa tinggal wisatawan bisa lebih lama karena deep tourism menawarkan aktivitas spiritual, yoga, dan pemulihan mental memerlukan waktu berkala sehingga akan mendongkrak perputaran ekonomi lokal.
”Program ini memang terinspirasi dari kesuksesan kebun raya berbasis budaya di Bali. Tapi untuk di Kota Batu akan dikemas secara universal agar dapat merangkul semua latar belakang agama, suku, dan golongan,” jelasnya.
Sebagai program yang berjalan beriringan dengan kelestarian ekologi, Pemkot Batu juga membangun laboratorium khusus hortikultura, penyediaan kebun tanaman usada (obat tradisional) sebagai bagian dari wisata pemulihan fisik dan mental hingga pusat pelatihan bagi generasi baru petani lokal.
Lebih lanjut, mengingat proyek ini membutuhkan anggaran besar di tengah berkurangnya dana transfer pusat, Cak Nur memastikan realisasi program ini tidak akan membebani kapasitas fiskal daerah.
Ia membeberkan Pemkot Batu memakai sistem investasi melalui skema Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) dan kemitraan swasta. ”Jadi, pembangunan infrastruktur monumental ini tetap berjalan profesional tanpa mengorbankan anggaran APBD untuk sektor mendasar prioritas lainnya,” jelas dia.
Godok Lokasi Ideal
Saat ini, proyek Spiritual Botanical Garden telah memasuki tahapan studi kelayakan yang dilakukan Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Batu.
Hingga saat ini, kajian mendalam untuk menentukan titik lokasi ideal terus bergulir seperti salah satunya di kawasan Jalibar, Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu.
Selain itu, Pemkot juga berkoordinasi dengan Perhutani serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) demi menjaga kawasan hutan berkelanjutan.
Begitu juga, regulasi pendukung berupa pembentukan Unit Pelaksana Teknis (UPT) pariwisata berbasis hutan sedang digodok agar tata kelolanya berjalan profesional.
“Kami optimis, perpaduan konsep antara keindahan alam, riset hortikultura, dan aspek spiritual healing ini akan mengantar citra pariwisata Kota Batu lebih jauh lagi di dunia internasional,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A


























