Malang, Tugumalang.id-Serangan siber terhadap situs web terus meningkat seiring berkembangnya layanan digital yang semakin bergantung pada koneksi internet. Selama ini, Distributed Denial of Service (DDoS) menjadi salah satu ancaman paling dikenal karena mampu menghentikan layanan hanya dalam waktu singkat.
Namun, DDoS bukan satu-satunya metode yang digunakan pelaku untuk mengganggu atau merusak sistem. Ada berbagai teknik lain yang juga berisiko tinggi terhadap keamanan sebuah situs.
Serangan Siber yang Umum Targetkan Website
DDoS (Distributed Denial of Service)
DDoS merupakan serangan yang membanjiri server dengan lonjakan trafik dari berbagai sumber secara bersamaan. Ketika kapasitas server tidak mampu menangani volume tersebut, situs akan melambat, menampilkan error, atau tidak bisa diakses sama sekali. Meskipun tidak merusak data, serangan ini dapat mengganggu operasional dan membuat layanan digital lumpuh.
SQL Injection
SQL Injection terjadi ketika pelaku menyisipkan perintah SQL berbahaya melalui kolom input atau URL. Jika celah keamanan terbuka, penyerang bisa mengakses database, mengubah data, atau mengambil informasi sensitif. Serangan ini biasanya menargetkan situs yang sistem pengolahan datanya tidak memiliki validasi input yang kuat.
Cross-Site Scripting (XSS)
Cross-Site Scripting adalah metode ketika penyerang menanamkan skrip berbahaya ke halaman web. Skrip tersebut dapat mencuri cookie, mengambil alih sesi pengguna, atau mengalihkan korban ke situs palsu. XSS sering muncul karena input pengguna yang tidak difilter dengan benar oleh sistem.
Baca juga: Apa Itu DDoS dan Kronologi Gangguan Cloudflare yang Bikin Banyak Situs Mendadak Down
Brute Force Attack
Serangan brute force dilakukan dengan mencoba berbagai kombinasi kata sandi secara berulang-ulang. Targetnya umumnya adalah panel admin atau halaman login. Password yang lemah atau tidak menggunakan perlindungan tambahan membuat serangan ini lebih mudah berhasil.
Malware Injection
Serangan ini dilakukan dengan memasukkan file atau skrip berbahaya ke sistem website. Pelaku dapat menanamkan backdoor, web shell, atau membuat pengunjung diarahkan ke situs lain. Malware Injection sering terjadi akibat celah pada plugin, tema, atau konfigurasi server yang tidak aman.
Man-in-the-Middle (MitM)
Man-in-the-Middle terjadi ketika penyerang mencegat komunikasi antara pengguna dan situs. Jika koneksi tidak terenkripsi dengan baik, data login atau informasi penting lain dapat dicuri. Risiko semakin tinggi pada situs yang belum menggunakan HTTPS atau pengguna yang mengakses jaringan publik.
DNS Spoofing atau DNS Hijacking
DNS Spoofing dilakukan dengan memanipulasi server DNS sehingga saat pengguna mengetik alamat asli, mereka diarahkan ke situs palsu. Metode ini sering digunakan untuk mencuri data login atau menipu pengunjung dengan tampilan situs yang menyerupai aslinya.
Baca juga: Mengenal Ransomware yang Bikin Pemerintah Kelabakan, Begini Cara Menangkalnya
Credential Stuffing
Dalam serangan ini, pelaku menggunakan email dan password yang bocor dari layanan lain lalu mencobanya di situs yang berbeda. Banyak pengguna memakai kata sandi yang sama di berbagai platform, sehingga metode ini sering berhasil tanpa perlu melakukan peretasan langsung.
Zero-Day Attack
Zero-Day Attack memanfaatkan celah keamanan yang belum terdeteksi atau belum memiliki perbaikan resmi. Targetnya bisa berupa CMS, plugin, library, atau sistem pendukung server. Karena belum ada patch, serangan ini sangat sulit dicegah jika pemilik situs tidak melakukan pemantauan berkala.
Ancaman-ancaman tersebut menunjukkan bahwa keamanan website bukan hanya soal melindungi server dari DDoS saja. Pemilik situs perlu memastikan seluruh komponen sistem diperbarui, memantau aktivitas mencurigakan, dan menerapkan strategi keamanan berlapis untuk mengurangi risiko serangan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: jatmiko
redaktur: jatmiko
























