Tugumalang.id – Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menjadi momen penegasan bahwa pendidikan hari ini harus menjadi solution center excellence. Momen itu juga sekaligus menjadi ajang mengkritisi wacana penutupan program studi (prodi) yang tak relevan.
Di hadapan ribuan dosen dan karyawan, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., menekankan bahwa perguruan tinggi tidak boleh lagi sekadar menjadi menara gading, melainkan harus bertransformasi menjadi Solution Center Excellence.
Ia menuturkan bahwa tantangan modern seperti menipisnya daya dukung Sumber Daya Alam (SDA) dan pesatnya perkembangan IPTEK menuntut dunia pendidikan untuk lebih adaptif, inovatif dan solutif. Menurut Nazar sapaan akrabnya, tantangan global saat ini tidak bisa lagi dihadapi dengan pendekatan pendidikan yang konvensional.
Baca Juga: Top 15 Universitas Terbaik di Indonesia Versi THE Asia University Ranking 2026, Salah Satunya Ada di Malang!
Sebab itu, kata dia, pendidikan tinggi harus menjadi solution center excellence. UMM harus hadir sebagai pusat layanan unggul, mitra solusi industri, serta inkubator inovasi dan talenta.
”Peran tersebut hanya dapat dicapai melalui perbaikan kualitas pendidikan secara menyeluruh, mulai dari proses pembelajaran, tata kelola institusi, hingga relevansi lulusan dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia menjadikan pemikiran Ki Hajar Dewantara sebagai pondasi pendidikan nasional yang harus diterjemahkan secara kontekstual dalam menghadapi tantangan modern. Dengan demikian, pendidikan tidak berhenti pada simbol historis semata, melainkan menjelma menjadi kekuatan transformasi sosial.
Baca Juga: Hebat! Fakultas Hukum Terbaik di Indonesia Versi Scimago 2026: UIN Malang Masuk 15 Besar
Untuk mewujudkan hal tersebut, UMM menetapkan tiga pilar strategis pengembangan universitas. Ketiga pilar tersebut meliputi Service Excellence Hub yang menitikberatkan pada peningkatan kualitas layanan pendidikan, Industry Solution Partner yang berperan aktif dalam menjawab kebutuhan riil dunia industri, serta Innovation and Talent Incubator yang bertujuan mendorong lahirnya inovasi dan pengembangan talenta-talenta unggul.
“Ketiga pilar ini bukan sekadar konsep, tetapi harus diwujudkan dalam praktik nyata. Implementasi pilar tersebut menjadi indikator keberhasilan perguruan tinggi dalam menjawab tantangan zaman. Universitas tidak hanya menghasilkan lulusan, tetapi juga solusi konkret bagi masyarakat,” tegasnya.
Momentum Hardiknas di UMM ini mempertegas bahwa pendidikan tidak bisa lagi berjalan di jalur yang sama (status quo). Komitmen itu menjadi penanda kuat bahwa perguruan tinggi dituntut untuk bergerak lebih kritis, responsif, dan solutif. Di tengah dinamika global, pendidikan harus hadir sebagai jawaban yang nyata, bukan sekadar wacana.
Penutupan Prodi, Pandangan yang Sempit
Sementara, menanggapi isu penutupan Prodi yang dianggap tidak relevan dengan dunia kerja, Rektor UMM memiliki pandangan berbeda. Ia menilai isu kebijakan menutup prodi hanya karena alasan serapan kerja linear merupakan pandangan yang sempit.
Menurutnya, esensi pendidikan tidak hanya sebatas link and match dalam artian bekerja sesuai ijazah, melainkan pembekalan life skill (keterampilan hidup) dan penguatan daya pikir intelektual.
“Itu adalah pandangan yang sempit saya kira. Tidak ada program studi yang jenuh. Bidang ilmu itu luas. Jika pendidikan hanya dilihat secara linear, maka itu sangat membatasi. Lulusan kita harus memiliki kualitas untuk menjalankan seluruh aspek kehidupan yang bermartabat dan mampu bekerja di bidang apa pun karena memiliki daya pikir yang kuat,” jelasnya.
Sebab itu, ia memastikan bahwa UMM tidak akan menutup prodi, termasuk prodi keguruan yang di beberapa tempat mengalami penurunan minat. Sebaliknya, UMM justru akan terus berinovasi dengan memunculkan prodi lintas bidang baru lainnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A


















