MALANG, Tugumalang.id – Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Prof. Dr. H. M. Zainuddin, M.A menghadiri forum Knowledge Innovation Technology Alliance (KITA) High Level Dialogue yang dihelat di Bali, Jumat (13/12/2024).
KITA High Level Dialogue mengangkat tema Convension Higher Education, Science and Technology in Alignment with Indonesia’s National Development Priority Agenda.
Forum akademik yang diselenggarakan di UiD Kawasan Ekonomi Khusus Bali merupakan hasil kerja sama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama United in Diversity Foundation, SDSN Southeast Asia, dan Tsinghua Southeast Asia Center.
Baca Juga: Bangga! UIN Malang Resmi Ditunjuk sebagai Tuan Rumah Induction Day English Access Scholarship Program 2024-2026
Forum tersebut dihadiri oleh Menteri Pendidikan, Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Dr. Ir. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Wakil Menteri Pendidikan, Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Stella Christie, Ph.D, serta para pemimpin dan pemangku utama dari sektor pendidikan tinggi di Asia Tenggara. Termasuk para rektor dan wakil rektor dari berbagai perguruan tinggi.
Dalam sesi knowledge dialogue roundtable, Prof. Zainuddin memaparkan realitas pendidikan tinggi di Indonesia berdasarkan pengalamannya langsung sebagai seorang akademisi dan pimpinan universitas.
Baca Juga: Luar Biasa! UIN Malang Resmikan 20 Cabang Baru Halal Center di 20 Provinsi
Pihaknya menyoroti tantangan utama yang dihadapi oleh perguruan tinggi, khususnya dalam hal keseimbangan antara pengajaran dan penelitian.
Menurutnya sebagian dosen di Indonesia lebih banyak menghabiskan waktu untuk mengajar daripada melakukan penelitian. Situasi tersebut bagi Prof. Zainuddin disebabkan oleh beberapa faktor mendasar. Pertama, beban administratif yang terlalu besar.
“Para dosen seringkali terlalu sibuk dengan pelaporan administratif, terutama terkait keuangan sehingga waktu untuk fokus pada penelitian menjadi sangat terbatas,” tuturnya.
Kedua, masalah pendanaan penelitian yang dirasa bahwa anggaran untuk penelitian di Indonesia masih sangat minim. Kondisi ini membuat banyak potensi riset tidak dapat dikembangkan lebih lanjut karena keterbatasan sumber daya.
Sementara masalah ketiga adalah hasil penelitian dari perguruan tinggi seringkali kurang mendapat pengakuan atau apresiasi dari pihak industri.
“Hal ini menghambat terjadinya kolaborasi yang erat antara universitas dan perusahaan. Sehingga inovasi yang dihasilkan dari penelitian sulit untuk disalurkan atau diterapkan secara praktis,” jelas Prof. Zainuddin.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya untuk melihat peluang untuk perbaikan dan pengembangan dimana universitas di Indonesia perlu memperkuat orientasi mereka pada penelitian berbasis dampak.
Perguruan tinggi harus mulai mengintegrasikan best practice dari universitas dunia, meningkatkan pendanaan riset, dan membangun hubungan yang lebih erat dengan industri.
Dalam agenda forum internasional tersebut, Rektor UIN Malang ditunjuk sebagai group leader dalam showcasing best practice di pendidikan tinggi. Acara dilanjutkan dengan penandatanganan MoU antara Tri Hita Karana Centre for Future Knowledge Between The KITA dengan perwakilan perguruan tinggi yang hadir.
Informasi lebih lanjut seputar UIN Malang dapat diakses melalui laman ini (klik di sini).
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























