MALANG, Tugumalang.id – Tragedi Kanjuruhan masih segar di ingatan, khususnya bagi warga Malang. Dua tahun usai terjadinya peristiwa 1 Oktober 2022 tersebut, Kapolres Malang, AKBP Putu Kholis Aryana menulis buku yang berjudul Move in Silence: Untold Story of Kanjuruhan Disaster.
Buku yang dicetak pertama kali pada September 2024 ini berisi kisah dari berbagai pihak yang menyaksikan dan pihak yang menangani Tragedi Kanjuruhan.
Mulai dari keluarga korban, polisi, hingga pihak-pihak lain yang ikut terjun dalam penanganan.
Baca Juga: Diskusi Publik 2 Tahun Tragedi Kanjuruhan, Rawat Ingatan Masyarakat Atas Peristiwa yang Renggut 135 Nyawa
Garis besar buku ini di antaranya berisi curahan isi hati keluarga korban, pengalaman pihak kepolisian dalam mengamankan dan mengevakuasi korban, tanggapan dari berbagai pihak seperti supporter, jurnalis, tokoh-tokoh, akademisi, serta Kompolnas dan Komnas HAM.

Buku ini juga berisi tantangan perwira baru Polres Malang yang dituntut beradaptasi dengan kondisi, serta curahan hati AKBP Ferli Hidayat yang menjabat sebagai Kapolres Malang saat Tragedi Kanjuruhan terjadi.
Buku dengan cover warna biru gelap ini dibedah secara gamblang oleh Kholis di acara Bedah Buku Move in Silence: Untold Story of Kanjuruhan yang digelar pada Jumat (20/12/2024) di Auditorium Nuswantara, FISIP Universitas Brawijaya.
Pada kesempatan ini, Kholis menjelaskan buku ini bukan sekedar catatan peristiwa, melainkan pengingat penting bagi institusi kepolisian untuk terus belajar dari sejarah kelam tersebut.
Ia menegaskan, pendekatan hukum saja tidak cukup untuk menangani dampak tragedi. Buku ini juga mengupas pendekatan sosial, budaya, dan kemanusiaan yang telah dan akan terus dilakukan oleh Polres Malang.
“Saya bersama teman-teman dibantu para pejabat Polres Malang ingin memberikan gambaran kepada masyarakat tentang apa yang kami rasakan, apa yang kami kerjakan, baik saat ini mapun di masa depan,” ujar Kholis.
Kepada para undangan yang hadir, Kholis pun membeberkan momen-momen krusial yang terjadi pasca tragedi.
Ia juga menyinggung berbagai gugatan yang dilayangkan berbagai pihak, baik di Pengadilan Negeri Kepanjen, Pengadilan Negeri Kota Malang, maupun di Pengadilan Negeri Surabaya.
Saat ini, buku Move in Silence: Untold Story of Kanjuruhan Disaster hanya dicetak dalam jumlah yang terbatas. Namun, Kholis berharap buku ini bisa diakses masyarakat luas secara gratis.
“Saya inginnya memberi gratis ke masyarakat. Kalau diperjualbelikan, saya mengambil keuntungan,” kata Kholis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
Editor: Herlianto. A





























