Tugumalang.id – KH. Abdurrahman Wahid, Gus Dur, nilai dan keteladananya bagaikan samudera yang tak pernah habis untuk dikuras. Nilai dan perjuangannya senantiasa relevan sepanjang masa. Keyakinan itu tak ubahnya keyakinan yang mantap di benak hadirin yang ikut mendoakan Gus Dur, mendoakan Indonesia, sore tadi, Kamis, 05 Maret 2026.
Gus Dur berpulang pada 30 Desember 2009, peringatan haul Gus Dur mulai ramai Desember 2025. Tapi, peringatan haul Gus Dur tak ada batasan waktu. Maka, Garuda Malang (GUSDURian Muda Kota Malang) berikhtiar untuk mendoakan dan mengenang Gus Dur pada Ramadan 2026, tepat pada tanggal 15 Ramadan 1447 H, di Gazebo Raden Wijaya Universitas Brawijaya.

Acara dibungkus gayeng dan santai. Ada berbagai penampilan di antaranya penampilan musik oleng Mamang dan Kak Fey, serta musikalisasi puisi yang dibacakan oleh Raza. Tidak hanya itu, grup sholawat dan banjari IPNU IPPNU kota Malang pun turut menggemakan Gazebo Raden Wijaya.
Baca Juga: Humor Gus Dur dan Orang Madura, Anak Juara Matematika Ngukur Tiang Bendera
Anindya Ulhaq memandu acara dengan asyik dan hangat. Dengan lincah Anin memandu acara dan menyapa setiap hadirin yang datang. Ratusan peserta yang hadir terdiri dari berbagai agama, komunitas, dan individu: Hindu, Budha, Islam, Kristen, Katolik, Bahai, dan kelompok agama seperti Ahmadiyah dan Syiah, serta komunitas literasi dan budaya.
Rida, salah satu peserta Haul Gus Dur ke-16 mengaku senang bisa hadir dan berjumpa dengan tokoh lintas agama. Dirinya senang bisa belajar dan merasakan perbedaan yang hangat.
“Saya senang bisa belajar dengan banyak tokoh lintas agama. Beberapa hari lalu saya diajak berkunjung dan belajar bersama saudara Kristen di GKI Bromo dan Budha di Vihara Dharma Mitra Arama. Dan hari ini saya bisa berjumpa dengan banyak orang dengan beragam warna. Saya senang sekali,” tuturnya.

Khanifah Asadiyah selaku ketua panitia mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak yang sudah membantu. Dia mengaku bahwa Haul Gus Dur sore itu merupakan rangkaian puncak dari Safari Damai Ramadhan di GKI Bromo dan Vihara.
Baca Juga: Selamat! Ini Daftar Juara STMJ 2025 dalam Rangka Haul Gus Dur ke-15
“Kali ini kita mengangkat tema marilah mendoa Indonesia bahagia. Harapannya kita bisa terus memikirkan Indonesia, menggerakkan Indonesia, dengan semangat membangun nilai yang telah diwariskan Gus Dur,” tambah Khanifah.
Haul Gus Dur ke-16 GUSDURian Malang ini berkolaborasi dengan UPT PKPK Universitas Brawijaya, serta didukung berbagai komunitas atau lembaga; Gubuk Tulis, Bhumi Literasi, GKJW, UEM, IPNU IPPNU, GKI Bromo, dan Vihara Dharma Mitra Arama.
“Acara ini terselenggara dengan baik atas kebaikan banyak pihak dan individu. Kami ucapkan beribu terima kasih,” pungkas perempuan asal Batu dan seorang guru SMP itu.
Dr. Mohamad Anas memberikan apresiasi setingginya kepada rekan-rekan GUSDURian Malang yang dengan semangat penuh turut peduli dengan bangsa dan negara, dengan mengenang sosok luar biasa, KH. Abdurrahman Wahid, Gus Dur.
Pak Anas, selaku kepala UPT PKPK UB menyambut baik kolaborasi lintas sektor untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik, dengan perjumpaan lintas iman dan misi membangun bangsa yang adil dan sejahtera.
“Saya senang dengan semangat mudan rekan-rekan GUSDURian Malang. Semangat ini perlu dirawat, dan kami dari UPT PKPK UB mempersilahkan tempat/Gazebo Raden Wijaya UB untuk GUSDURian Malang,” pungkas kepala UPT PKPK UB yang juga ketua Lakpesdam NU Kota Malang.
Semakin petang, acara dilanjutkan dengan sarasehan kebangsaan. Sarasehan kebangsaan dipandu oleh Adiba Sofinadya dengan dua narasumber luar biasa, Dr. Mohamad Mahpur dan Uun Triya Tribuce.
Pak Mahpur selaku pembina GUSDURian Malang menyampaikan banyak hal tentang nilai Gus Dur, kiprah Gus Dur, dan bagaimana memprektakkan toleransi deng efektif – yakni dengan melakukan perjumpaan. Dengan perjumpaan kita akan menjadi lebih mengeti dan bijaksana.
“Belajar perbedaan dan toleransi itu bukan sekadar wacana saja, tapi hendaknya juga melakukan perjumpaan dengan yang berbeda, salah satunya dengan berkunjung ke tempat ibadah umat berbeda dan belajar dari pada umatnya,” tamnbah pria yang juga akademisi UIN Malang itu.
Sedangkan Uun Trya Tribuce bercerita tentang toleransi. Dalam praktiknya masih ada diskriminasi terhadap umat minoritas. Seperti halnya di kampus, tempat ibadah hanya mengakomodir yang Islam saja.
“Banyak pembuat kebijakan di negeri ini yang mempromosikan toleransi, tapi praktinya masih ada ketimpangan,” tambah perempuan pemikir dan rohaniawan budhis itu.
Uun berharap ke depan banyak kebijakan yang adil dan setara terhadap semua kelompok dan juga dipraktikkan dengan baik di lapangan.
Dialog kebangsaan berjalan dengan lancar. Acara dipungkasi dengan doa lintas iman, dipimpin oleh tokoh agama Budha, Hindu, Katolik, Kristen, Bahai, dan Islam. Paling puncak dan yang ditunggu-tunggu adalah buka bersama.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis
Editor: Herlianto. A





























