Rabu, Oktober 14, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Psikologi Komunikator, Catatan untuk Kantor Kepresidenan

Redaksi by Redaksi
April 19, 2025 10:06 am
in Ruang Cendekia
Ilustrasi kantor kepresidenan. Foto/Pinterest

Ilustrasi kantor kepresidenan. Foto/Pinterest

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Khoiruddin Hidayatullah*

Tugumalang.id – Indonesia sudah memiliki pemerintahan baru yang berjalan selama beberapa bulan pasca pesta demokrasi tahun 2024. Sayangnya di usia pemerintahan yang masih dini banyak kecaman dari masyarakat mengenai kontroversi pemerintah yang melakukan blunder dalam memberikan pernyataan publik.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Kasus terbaru dari bentuk blunder pemerintah dalam memberikan pernyataan publik yaitu kepala kantor kepresidenan memberikan sebuah penyataan yang tidak tepat mengenai teror pengiriman kepala babi di depan salah satu kantor media dan ditujukan pada salah satu jurnalis yang kritis dalam meliput berita.

Pernyataan yang disampaikan oleh kepala kantor kepresidenan memiliki maksud untuk menjelaskan bahwa kebebasan pers masih dijamin keamanannya sehingga masyarakat tidak perlu takut maupun panik dengan fenomena ini.

Baca Juga: Bertemu LPSK, KKJ Indonesia Laporkan Teror Kepala Babi Terhadap Jurnalis Tempo

Namun banyak kalangan masyarakat menilai bahwa pemerintah sangat nir-empati dengan fenomena ini karena isi pernyataannya menghimbau supaya kepala babi yang dikirimkan bisa dimasak saja, sehingga faktor keselamatan jurnalis tersebut ke depannya bisa dipertanyakan melalui fenomena intimidatif tersebut dan pemerintah dinilai tidak serius dalam menghadapi kasus ini.

Tulisan ini akan membahas bagaimana psikologi komunikator memainkan perannya dalam membangun komunikasi, dimana pemerintah memiliki peran sebagai penyampai pesan dan masyarakat sebagai penerima pesan.

Psikologi komunikator memiliki tiga dimensi utama yaitu kredibilitas, daya tarik, dan memiliki kekuasaan. Seorang komunikator dikatakan kredibel dalam menyampaikan suatu pesan apabila memiliki keahlian dalam suatu bidang, kharisma, dan mendapat kepercayaan dari penerima pesan.

Idealnya kredibilitas komunikator juga diiringi oleh daya tarik yang dimilikinya, sehingga pesan yang disampaikan memiliki sifat persuasif dan mampu menciptakan kondisi komunikasi yang disebut Homophily, di mana timbul perspektif yang sama antara penyampai pesan dan penerima pesan. Seorang penyampai pesan juga akan lebih terpandang apabila memiliki suatu kekuasaan.

Baca Juga: KKJ Indonesia Mengecam Keras Teror Kepala Babi pada Jurnalis Tempo

Macam-macam dari jenis kekuasaan ada lima seperti kekuasaan koersif, kekuasaan keahlian, kekuasaan informasional, kekuasaan rujukan dan kekuasaan legal. Namun kekuasaan yang dimiliki oleh penyampai pesan akan digunakan apabila kredibilitas dan daya tarik tidak mampu mempengaruhi penerima pesan.

Pesan yang disampaikan oleh seorang komunikator sendiri juga memiliki makna psikologis dan terbagi menjadi dua bentuk, yaitu pesan verbal dan non-verbal.

Unsur pesan verbal terdiri dari fonologis, sintaksis dan semantik, yang mana kunci utama dari psikologi pesan adalah sintaksis serta semantik. Sintaksis mengkaji tentang kata dan kelompok kata yang membentuk frasa dan klausa, sedangkan semantik merupakan ilmu yang menelaah makna dari suatu kata.

Kemudian pesan non-verbal merupakan bentuk ekspresi seorang komunikator ketika menyampaikan suatu pesan, bahkan dalam beberapa momen pesan non-verbal lebih efektif dibandingkan pesan verbal.

Pesan non-verbal terdiri dari gerak tubuh, suara, bahkan atribut yang dikenakan oleh seorang komunikator. Jika pesan verbal serta non-verbal diorganisasikan dengan baik, maka penyampaian makna pesan diharapkan mampu dicerna oleh penerima pesan.

Masalah komunikasi yang kerapkali terjadi adalah ketidakmampuan penyampaian makna dari suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator. Sebuah kata yang diucapkan oleh seorang komunikator belum tentu memiliki makna yang sama ketika kata tersebut diproses oleh penerima pesan.

Hal ini bisa didasari beberapa hal seperti tidak memenuhi salah satu unsur psikologi komunikator dan pemilihan kata yang menimbulkan kerancuan makna.

Bayangkan saja jika Anda dihadapkan di situasi untuk hadir suatu seminar namun pematerinya merupakan seseorang yang kredibilitasnya patut untuk dipertanyakan dan tidak memiliki daya tarik tersendiri untuk menarik perhatian audiens.

Belum lagi jika padanan kata yang digunakan memiliki makna yang ambigu dan pembawaan yang dimiliki oleh seorang pemateri mencerminkan bahwa ia tidak layak untuk berbicara di depan publik.

Inilah pentingnya kondisi komunikasi harus mencapai homophily, sebab jika suatu komunikasi tidak mencapai kondisi tersebut maka sulit bagi penerima pesan untuk memahami apa yang disampaikan oleh seorang komunikator.

Jika teori di atas dikaitkan dengan kasus pengiriman kepala babi, sangat masuk akal apabila masyarakat akan mengecam pemerintah karena makna yang disampaikan memiliki arti ketidakpedulian pemerintah terhadap kebebasan pers.

Hal yang menarik dari kejadian ini adalah bagaimana proses masyarakat dalam merespon informasi yang dikemukakan oleh pemerintah. Terdapat teori psikologi sosial yang mampu menjelaskan hal ini yaitu Elaboration Likelihood Model (ELM).

ELM merupakan teori psikologi sosial yang menjelaskan bagaimana perubahan sikap bisa terjadi akibat dampak dari suatu persuasi. Salah satu hal yang mampu mengubah sikap penerima pesan adalah seberapa kuat pernyataan yang disampaikan oleh seorang komunikator.

Pernyataan yang dikemukakan oleh seorang komunikator memiliki dampak yang sangat tinggi apabila komunikator memiliki relevansi personal yang sama dengan penerima pesan. Proses informasi di dalam teori ELM memiliki dua jalur, yaitu jalur sentral dan jalur peripheral.

Individu yang memproses informasi secara mendalam sehingga terjadi perubahan sikap merupakan cerminan dari individu yang memilih jalur sentral, sedangkan jika individu memproses informasi tanpa proses berpikir yang panjang merupakan cerminan dari individu yang memilih jalur periferal.

Faktor yang mendasari pemilihan jalur pemrosesan sentral ada dua, yaitu faktor motivasi dan kemampuan dalam memproses informasi yang datang. Jika salah satu faktor tersebut tidak terpenuhi, maka individu memilih jalur pemrosesan periferal.

Jenis pesan yang disampaikan oleh pemerintah memiliki makna persuasif, yangmana masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dalam menyikapi fenomena pengiriman kepala babi kepada salah satu karyawati di kantor media.

Di sini masyarakat terbagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok masyarakat yang menggunakan jalur sentral dan kelompok masyarakat yang menggunakan jalur periferal.

Kelompok periferal dalam kasus ini cenderung tidak memiliki relevansi personal yang sama dengan pemerintah, sehingga perubahan sikap yang terjadi adalah meragukan pemerintah dalam mendukung kebebasan pers di masa reformasi dan memberikan kecaman terkait pernyataan yang diberikan oleh pemerintah.

Kelompok sentral lebih berupaya dalam mendalami makna dari pernyataan yang telah diberikan oleh pemerintah. Pertanyaannya disini adalah apakah kondisi komunikasi homophily yang diinginkan oleh pemerintah telah terjadi pada kelompok sentral?

Kondisi homophily mungkin telah terjadi pada kelompok sentral, namun bukan berarti kelompok sentral mendukung secara penuh pernyataan dari pemerintah.

Justru kelompok sentral sangat menyayangkan fenomena ini telah terjadi, sehingga hal inilah yang menjadi bentuk perubahan sikap kelompok sentral dalam menanggapi kasus ini.

Apalagi kecenderungan perubahan sikap yang dialami oleh kelompok sentral cenderung dilakukan secara konsisten dibandingkan kelompok periferal.

Fenomena ini mengajarkan kepada kita semua bahwa makna kata yang kita sampaikan belum tentu akan sama dengan apa yang ditangkap oleh lawan bicara.

Kemudian tidak semua orang mampu untuk menjadi pembicara yang baik bagi perwakilan suatu instansi, sehingga diharapkan untuk ke depannya pemerintah mampu mengevaluasi kejadian ini sehingga persepsi masyarakat terhadap pemerintah tidak semakin negatif.

Masyarakat juga dihimbau untuk jauh lebih kritis dan memproses informasi melalui jalur sentral, sehingga kita semua terbiasa untuk tidak mudah terpengaruh dengan informasi yang tidak kredibel.

 

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Penulis adalah Magister Sains Psikologi Universitas Brawijaya

Editor: Herlianto. A

Tags: Kantor KepresidenanKepala BabipsikologiTempo

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Jadwal Seleksi Mandiri UM tahun 2025/2026 sebagai referensi bagi calon mahasiswa. /Foto: Dok.UM

Jadwal Seleksi Mandiri Universitas Negeri Malang 2025/2026

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.