MALANG, Tugumalang.id – Pesantren Luhur Baitul Hikmah menggelar acara Puncak Hilang Tahun Ke-14 yang dirangkaikan dengan Temu Alumni pada Minggu (14/12/2025). Kegiatan tersebut berlangsung di kompleks Pesantren Luhur Baitul Hikmah dan diisi dengan ngaji bersama serta diskusi keilmuan.
Rangkaian acara diawali dengan penyerahan kado berupa buku-buku karya civitas Pesantren Luhur Baitul Hikmah. Hingga memasuki usia ke-14, pesantren ini tercatat telah melahirkan 76 karya, yang terdiri dari buku, jurnal ilmiah, tesis, dan disertasi.
Setelah prosesi penyerahan karya, kegiatan dilanjutkan dengan ngaji bersama yang dipandu langsung oleh Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah, Ach. Dhofir Zuhry. Ngaji tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Fahruddin Faiz, Pengasuh Ngaji Filsafat MJS, serta Kang Maman, penulis dan pegiat literasi.

Baca juga: Pesantren Luhur Baitul Hikmah Kepanjen Bedah 2 Buku, Tanya Jawab Logika dan Tentang Ateisme
Dalam pembukaan diskusi ngaji, Gus Dhofir menyoroti persoalan penerjemahan Al-Qur’an yang menurutnya memiliki dampak besar terhadap perkembangan pemahaman keislaman.
“Salah satu penyebab kemunduran agama Islam saat ini, menurut dugaan saya adalah pembiaran terhadap terjemahan Al-Qur’an yang dilakukan secara keliru oleh Depag atau hari ini Kementerian Agama,” ujarnya.
Sementara itu, Dr. Fahruddin Faiz menekankan pentingnya sikap kritis di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat.
“Kita didukung teknologi yang bisa memenuhi kebutuhan kita apa pun. Sementara kita tidak kritis secara proses dan mindset kita cari senang saja, maka peradaban pelan-pelan akan suffer,” katanya.
Fahruddin Faiz juga memaparkan konsep kesadaran kritis dengan merujuk pada pemikiran filsuf Brasil, Paulo Freire. Menurutnya, terdapat empat jenis kesadaran, yakni kesadaran magis, kesadaran naif, kesadaran fanatik, dan kesadaran kritis.

Dalam kesempatan yang sama, Kang Maman menyoroti tujuan literasi pendidikan yang tidak semata-mata bersifat akademik. Ia menyebut literasi memiliki tiga tujuan utama, yakni bahagia, bermakna, dan memuliakan.
“Mampu tidak gelar yang kita miliki itu memuliakan diri sendiri sekaligus memuliakan orang lain,” ujarnya.
Baca juga: Tahun Baru Lurah Baru, Pesantren Luhur Baitul Hikmah Teladani Hijrah Nabi
Ia menambahkan, “Karena kata teman-teman saya yang miskin, mereka mengatakan bahwa hal yang paling menyakitkan adalah cara orang lain memandang kami.”
Melalui peringatan Hilang Tahun Ke-14 ini, Pesantren Luhur Baitul Hikmah menegaskan komitmennya dalam merawat tradisi literasi dan ngaji intelektual sebagai bagian dari kontribusi pesantren dalam pengembangan keilmuan dan kebudayaan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Muhammad Jazuli (magang)
redaktur: jatmiko





























