MALANG, Tugumalang.id – Melihat nilai-nilai nasionalisme mulai luntur di kalangan anak muda. Ketua Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Kota Malang, Drs. Heri Sunarko, M.Si merasa Pramuka menjadi wadah yang pas untuk membentuk character building dan memupuk rasa nasionalisme generasi muda di Indonesia.
Di tengah peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Pramuka ke-63 tahun 2024, Heri mengatakan Gerakan Pramuka melalui Tri Satya dan Dasa Darma adalah tuntunan bagi anak muda untuk menggali nilai dan karakter keluhuran bangsa Indonesia.
“Gerakan Pramuka adalah tempat yang pas untuk pembentukan karakter. Itu terus terang saja, dua dua sumber yang luar biasa yakni Tri Satya dan Dasa Darma sebagai sebuah tuntunan sekaligus panutan kepada anggota Pramuka baik di Indonesia maupun universal untuk melaksanakan tugas baktinya kepada negara,” ungkapnya kepada Tugumalang.id.
Baca Juga: 312 Peserta se-Jawa Bali Meriahkan Lomba Keagamaan Pramuka 2024 di Unisma
Pandangan Heri perihal menurunnya rasa nasionalisme anak muda bukan tanpa alasan. Ia mengambil contoh dari pelaksanaan upacara pengibaran bendera merah putih. Pria yang menjabat Ketua Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Malang periode 2020-2025 itu melihat banyak anak muda yang tak serius saat prosesi pengibaran bendera merah putih.
Sikap yang menurutnya berbeda dengan anggota Pramuka, saat prosesi pengibaran bendera merah putih sebagai lambang kebesaran negara selalu dalam sikap siap dan khidmat menghormati prosesi tersebut.
Lunturnya nilai dan semangat nasionalisme juga tak terlepas dari tantangan perkembangan zaman dengan teknologi yang begitu canggih dan selalu melekat dalam kehidupan sehari-hari terutama bagi anak muda.
Dalam genggaman tangan mereka dapat mengakses informasi dari seluruh penjuru dunia termasuk pengaruh budaya asing. Jika tidak dibentengi dengan wawasan kebangsaan dapat mengikis rasa nasionalisme anak muda.
Keadaan itulah yang dirasa Heri, Pramuka menjadi tempat yang pas untuk kembali memupuk rasa nasionalisme di kalangan anak muda atau yang Heri menyebutnya sebagai generasi strawberry.
“Nilai-nilai nasionalisme saat ini kata orang banyak menurun di generasi strawberry. Ini yang coba kita kuatkan di Pramuka. Kita masih melihat adik-adik kita ketika ada pengibaran bendera merah putih tidak serius,” ucapnya.
Baca Juga: Rekor! 600 Anggota Pramuka Garuda Kota Malang Dilantik, Terbanyak dari MIN 1
“Beda dengan anggota Pramuka sungguhan ketika merah putih selalu sikap sempurna. Sedangkan mereka (anak muda) hanya sekedar memakai seragam Pramuka tapi bercanda, lirak lirik, guyon sama temannya,” sambungnya.
Heri menceritakan bagaimana Pramuka memiliki peran penting dalam sejarah perjuangan bangsa merebut dan menjaga kemerdekaan Indonesia. Sejak dulu Pramuka selalu mengambil peran penting untuk terlibat dalam perjuangan bangsa.
Banyak anggota Pramuka atau dulu di masa perjuangan kemerdekaan bernama kepanduan yang gugur di medan perang untuk merebut kemerdekaan dari tangan penjajah dan juga mempertahankan kemerdekaan.
Bagi Heri sangat miris apabila generasi muda saat ini tidak meneladani sikap-sikap luhur dan rasa nasionalisme yang telah diwariskan oleh para pejuang bangsa termasuk para Pramuka atau Pandu.
“Gerakan Pramuka sudah mewarnai sejarah perjalanan bangsa ini, sebelum ada Pramuka namanya kepanduan. Pada waktu itu persiapan sebelum kemerdekaan, menuju merdeka, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Bayangkan berapa juta nyawa anggota Pramuka atau Pandu yang meninggal dalam pertempuran merebut dan mempertahankan kemerdekaan,” beber Heri.
Lebih lanjut, Heri merasa beruntung Pramuka menjadi ekstrakurikuler wajib di sekolah dan masih bisa mempertahankan eksistensinya di tengah arus perubahan zaman yang begitu cepat.
Di sisi lain, pihaknya mengungkapkan permasalahan yang dihadapi oleh Kwarcab Kota Malang dan mungkin juga dirasakan anggota Pramuka di seluruh Indonesia. Heri menyebut terjadi kejomplangan antara jumlah Pembina Pramuka dengan jumlah peserta didik di sekolah.
Mengatasi masalah tersebut, perekrutan dan pembinaan para pembina Pramuka baru menjadi perhatiannya. Apalagi Kwarcab Gerakan Pramuka Kota Malang memiliki program zero accident sehingga Heri ingin mencetak para pembina Pramuka yang berkompeten.
Menurutnya akan sangat beresiko apabila anak muda yang mengikuti kegiatan Pramuka dibina oleh para pembina yang kurang berkompeten.
“Pembina baru harus punya kualifikasi, jangan jadi Pembina Pramuka tanpa ijazah karena bahaya sekali. Di Kwarcab Kota Malang ada program zero accident pada Gerakan Pramuka Kota Malang dan mungkin juga seluruh Indonesia. Karena itu kita kuatkan di Kwarcab Kota Malang, kursus-kursus pencetak pembina baru,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
editor: jatmiko





























