Tugumalang.id – Komunitas Swara Pertiwi di RW 09 Merjosari, Kota Malang, menjadi pusat perhatian dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Pemanfaatan Seni Peran untuk Membangun Kesadaran Sosial Budaya”.
Program ini diprakarsai oleh Bidang Seni dan Budaya Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Kelurahan Merjosari, Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang.
Tim pendamping yang terdiri dari Eko Budi Siswandoyo (Pendamping Manajemen Pertunjukan), Dohir Herliato (Pendamping Pelatihan, Penulis Naskah, dan Sutradara), serta Mohammad Irwan Aka (Pendamping Artistik dan Kostum).
Baca Juga: Inovasi Pengabdian Masyarakat UM Bantu Peternak Sambigede Melalui Mesin Pencacah Pakan Ternak Double Intake
Melalui program ini, komunitas diarahkan untuk lebih memahami peran seni pertunjukan dalam mempertebal kesadaran sosial budaya dan memperkuat rasa kebersamaan di lingkungan tempat tinggal.
Latar Belakang Program
Seni peran memiliki potensi besar sebagai media komunikasi yang mampu menjembatani beragam persoalan sosial, budaya, dan identitas.
Komunitas Swara Pertiwi, yang terdiri dari ibu-ibu rumah tangga di RW 09 Merjosari, seni pertunjukan tidak hanya dilihat sebagai sarana hiburan tetapi juga sebagai media pembelajaran.

Tim pendamping menyadari bahwa seni peran dapat menjadi alat yang efektif untuk mempertebal kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan budaya lokal yang selama ini mulai terpinggirkan.
Komunitas Swara Pertiwi telah lama aktif dalam kegiatan kesenian di lingkungannya, namun belum memiliki struktur program yang fokus pada pengembangan kesadaran sosial budaya melalui seni peran.
Baca Juga: Mahasiswa UMM Pengabdian Masyarakat Aplikasikan Ilmu Akuntansi dan Managemen
Melalui pelatihan dan pendampingan intensif yang dilakukan oleh tim, komunitas ini diharapkan mampu mengeksplorasi potensi tersebut dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan Program
- Meningkatkan kesadaran budaya, mengedukasi anggota komunitas tentang pentingnya memahami dan melestarikan nilai-nilai budaya lokal.

- Mendorong keterlibatan komunitas, mengajak masyarakat untuk aktif berpartisipasi dalam kegiatan seni peran, sehingga mereka merasa terlibat dan bertanggung jawab terhadap pelestarian budaya.
- Menciptakan ruang ekspresi, memberikan platform bagi anggota komunitas untuk mengekspresikan diri melalui seni peran, sekaligus menyampaikan pesan-pesan sosial yang relevan.
Proses Pelatihan dan Pendampingan
Pelatihan seni peran yang diselenggarakan oleh tim Bidang Seni Budaya LPMK Kelurahan Merjosari pada Komunitas Swara Pertiwi berlangsung selama dua bulan, dengan pertemuan rutin dua kali setiap minggu.
Program ini dibagi menjadi beberapa tahapan, yang masing-masing dirancang untuk meningkatkan keterampilan teknis dan pemahaman konseptual para peserta.
1. Pelatihan Dasar Seni Peran
Pada tahap awal, peserta dikenalkan pada teknik-teknik dasar seni peran, termasuk pemahaman tentang ekspresi tubuh, intonasi suara, dan emosi.
Dohir Herliato, yang berperan sebagai sutradara, memberikan arahan kepada para peserta untuk memahami peran masing-masing dalam naskah yang disusun. Pelatihan dasar ini bertujuan untuk membangun fondasi keterampilan seni peran bagi anggota komunitas.
2. Penulisan Naskah dan Penerapan Isu Sosial
Setelah penguasaan teknik dasar, peserta mulai diajak untuk terlibat dalam proses kreatif penulisan naskah. Naskah yang ditulis oleh Dohir Herliato ini mengangkat berbagai tema sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti kesetaraan gender, tanggung jawab sosial, serta pelestarian budaya lokal.

Peserta didorong untuk merefleksikan pengalaman mereka dalam konteks isu-isu ini dan menuangkannya ke dalam dialog dan adegan pertunjukan.
4. Manajemen Pertunjukan
Manajemen pertunjukan yang dipandu oleh Eko Budi Siswandoyo merupakan tahap penting dalam memastikan bahwa setiap proses produksi seni berjalan lancar.
Eko mengajarkan kepada para peserta tentang peran penting manajemen, mulai dari perencanaan jadwal latihan, koordinasi antar-divisi, hingga pengelolaan sumber daya untuk pertunjukan.
Hal ini memberikan pemahaman kepada komunitas bahwa seni pertunjukan bukan hanya soal akting di atas panggung, tetapi juga tentang pengelolaan tim dan alur kerja yang baik.
4. Desain Artistik dan Kostum
Mohammad Irwan Aka, selaku pendamping bidang artistik dan kostum, mengajarkan peserta tentang pentingnya elemen visual dalam seni pertunjukan.
Peserta belajar bagaimana memilih dan membuat kostum yang sesuai dengan karakter dan tema pertunjukan, serta bagaimana memanfaatkan elemen visual untuk mendukung cerita yang ingin disampaikan.
Pengetahuan ini memberikan sentuhan estetika yang lebih dalam bagi pertunjukan, sehingga pesan sosial yang disampaikan bisa lebih kuat dan mempengaruhi penonton secara emosional.
Tantangan dan Solusi
Selama proses pendampingan, tim menghadapi beberapa tantangan, di antaranya keterbatasan waktu latihan karena kesibukan peserta yang merupakan ibu rumah tangga.
Namun, dengan pendekatan yang fleksibel dan memahami kebutuhan komunitas, tim pendamping berhasil menyesuaikan jadwal latihan yang lebih adaptif.
Selain itu, keterbatasan sumber daya juga menjadi salah satu kendala, terutama dalam hal properti dan kostum. Untuk mengatasi hal ini, peserta diajak untuk memanfaatkan bahan-bahan daur ulang dan lokal dalam pembuatan kostum dan dekorasi.
Hasil dan Dampak Program
Program pengabdian masyarakat ini berhasil menciptakan pertunjukan seni peran yang menggugah kesadaran sosial dan budaya para peserta dan penonton.
Melalui pertunjukan ini, anggota Komunitas Swara Pertiwi tidak hanya mendapatkan keterampilan baru dalam seni peran, tetapi juga memperkuat ikatan sosial di antara mereka.
Peserta merasa lebih percaya diri untuk menyuarakan pandangan mereka tentang isu-isu sosial yang mereka hadapi melalui media seni.
Salah satu peserta, Ibu Eni Wulansari, menyatakan bahwa keterlibatannya dalam program ini memberikannya kesempatan untuk mengekspresikan diri dan mengenal lebih dalam tentang budaya lokal yang selama ini terlupakan.
“Saya merasa seni peran ini membuat saya lebih peka terhadap kondisi sosial di sekitar, dan saya senang bisa ikut ambil bagian dalam pelestarian budaya kita,” ujarnya.
Selain itu, pertunjukan seni ini juga berhasil menarik perhatian warga sekitar dan pihak luar, yang kemudian membuka peluang bagi Komunitas Swara Pertiwi untuk terlibat dalam berbagai festival seni lokal.
Dampak positif lainnya adalah tumbuhnya kesadaran di kalangan anggota komunitas tentang pentingnya pelestarian budaya lokal serta kontribusi mereka dalam memajukan seni di lingkungan mereka.
Hasil dari pelaksanaan program ini mencakup, peningkatan kesadaran budaya, perubahan sikap dan pola pikir, dan partisipasi sosial yang meningkat.
Program berhasil mendorong anggota komunitas untuk lebih terlibat dalam kegiatan sosial, menandakan adanya rasa kepemilikan terhadap komunitas dan inisiatif untuk mengorganisir kegiatan sendiri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis
Editor: Herlianto. A





























