Kota Batu, Tugumalang.id – Optimisme kebangkitan sektor pariwisata menguat dalam Musyawarah Daerah DPD Asosiasi Pelaku Pariwisata Indonesia (MUSDA V DPD ASPPI) Jawa Timur, meski kondisi ekonomi nasional tengah melesu akibat berbagai tekanan, termasuk kebijakan efisiensi anggaran pemerintah.
Melemahnya daya beli masyarakat, ketidakpastian situasi global, hingga kebijakan efisiensi anggaran menjadi isu utama yang dirasakan langsung para pelaku wisata. Kondisi tersebut berdampak nyata di sejumlah daerah, termasuk Malang Raya, yang mengalami penurunan kunjungan wisata dalam beberapa waktu terakhir.
Agenda Musda ke-V DPD ASPPI Jatim yang digelar di Malang, Kamis (22/1/2026), membahas beragam tantangan strategis yang dihadapi industri pariwisata saat ini. Selain itu, forum ini juga menjadi ajang pemilihan ketua baru yang diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antar pelaku industri dalam menghadapi tekanan ekonomi yang semakin kompleks.
Mengusung tema “Guyub Rukun, Jatim Digjaya, Berkolaborasi untuk Tangguh, Bertransformasi untuk Jaya,” Musda kali ini juga mencatat sejarah baru karena untuk pertama kalinya digelar di Malang, setelah empat gelaran sebelumnya selalu berlangsung di Surabaya.

Dampak Efisiensi Anggaran Terhadap Industri Pariwisata
Ketua DPD ASPPI Jatim, Eko Mujiono, membenarkan bahwa industri pariwisata saat ini tengah berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Menurutnya, kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak sistemik terhadap menurunnya daya beli masyarakat, yang berimbas langsung pada sektor wisata.
“Dampaknya nyata sekali, hampir semua pelaku pariwisata ‘tiarap’. Kondisinya hampir sama seperti masa pandemi COVID-19 lalu. Banyak pengusaha hotel dan transportasi yang terpaksa melepas aset atau menjual unit kendaraan karena tidak sanggup menutup biaya operasional dan cicilan,” bebernya.
Selain tekanan ekonomi makro, Eko juga menyoroti hambatan regulasi, seperti isu hak cipta lagu di restoran dan bus, yang dinilai semakin menambah beban operasional pelaku usaha pariwisata.
“Banyak pengusaha hotel terpaksa menjual asetnya, pengusaha transportasi jual armada busnya. Kan tidak semua armada itu beli cash, ada juga yang nyicil,” ujarnya.
Baca juga: Semangat Kebangkitan Pariwisata Indonesia Menggema di Kota Malang
Kolaborasi Lintas Sektor Jadi Kunci Kebangkitan
Meski dihadapkan pada kondisi sulit, optimisme tetap menguat dalam MUSDA V DPD ASPPI Jatim. Siapa pun ketua yang terpilih nantinya diharapkan mampu menghadirkan terobosan baru dan memperkuat sinergi lintas sektor.
Eko menegaskan bahwa kebangkitan pariwisata tidak bisa dilakukan secara parsial, melainkan harus melalui kolaborasi yang solid antar pelaku industri.
“Kami tidak bisa berdiri sendiri. ASPPI harus merangkul dinas pariwisata, asosiasi profesi seperti pemandu wisata (guide), restoran, hingga pelaku jasa transportasi. Kami ingin menyuarakan ke kementerian melalui DPP mana kebijakan yang layak dilanjutkan dan mana yang harus dievaluasi demi kelangsungan hidup industri ini,” tambahnya.
DPP ASPPI Dorong Integrasi Manfaat hingga Daerah
Menjawab hal tersebut, Ketua Umum DPP ASPPI, Azwani Alwi, menegaskan komitmen organisasinya untuk terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai mitra dan sponsor. Ia menekankan pentingnya integrasi manfaat dari level nasional hingga ke daerah.
“Dari kami di DPP fokus memberi stimulus kepada teman-teman daerah dalam bentuk kemitraan dan sponsorship. Tujuannya agar manfaatnya terus terintegrasi, dari DPP ke DPD, lalu ke anggota, hingga akhirnya dirasakan masyarakat luas,” ujarnya.
Baca juga: Malang 108 Rise & Shine Kayutangan Heritage, Titik Balik Kebangkitan Pariwisata
Ia menutup dengan optimisme bahwa sektor pariwisata tetap memiliki kekuatan besar untuk bangkit.
“Pariwisata harus bangkit karena ini menyangkut kebahagiaan orang banyak. Kami tetap optimis, terus bergerak, dan tidak akan patah semangat demi pariwisata Jawa Timur yang lebih maju untuk Nusantara,” pungkasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























