MALANG, Tugumalang.id – Deretan becak motor atau bentor berjejer rapi di Jalan Kyai Tamin, Kota Malang, pada Kamis (14/08/2025). Mereka bukan sedang latihan berbaris untuk upacara kemerdekaan RI ke-80, tetapi sedang menunggu penumpang yang tak kunjung datang.
Bentor itu catnya mulai pudar, joknya aus dimakan waktu, namun suara mesinnya tetap setia menunggu panggilan pelanggan. Meski tak banyak penggunanya, tetapi masih ada sebagian warga Kota Malang yang menggunakan jasa mereka. Tak banyak.
Becak motor di Kota Malang memang laksana perahu kecil yang bertahan di ombak besar di tengah lalu-lalang ojek online yang sedang menguasai jalanan. Maraknya ojek online ini membuat pengemudi becak motor kehilangan pelanggan mereka satu per satu.
Baca Juga: RS Hermina Disebut Teledor Tangani Pasien Kritis hingga Meninggal Dunia
Salah satu pengemudi Bentor bernama Mujianto duduk santai di jok sambil memandang kosong ke arah jalan. Dia terlihat lelah menunggu penumpang yang tak kunjung datang. “Sekarang ini penumpang itu gak ada. Jarang,” ujarnya pelan.
Dia sudah puluhan tahun mengemudikan becak motor, menjadikannya sebagai sumber nafkah utama bagi keluarganya. Namun sejak ojek online menjamur, penghasilannya merosot tajam.
Mujianto sudah memutar otak mencari penghasilan lain selain mengemudikan becak motor. “Kadang sehari cuma dapat satu penumpang. Kalau gak ada, ya duduk saja, nunggu,” tambahnya.
Baca Juga: Gandeng Komunitas Difabel, Tugu Media Group Bagikan Paket Buka Puasa untuk Santri dan Tukang Becak
Bukan hanya Mujianto, Karyo, rekan sesama pengemudi Bentor juga merasakan hal yang sama. Dia mengaku telah menekuni jasa becak motor selama 30 tahun lebih.
Namun setelah munculnya ojek online, dia merasakan bahwa minat pelanggan sudah tidak seperti dahulu kala. Bahkan dapat memungkinkan pelanggan hanya ingin menaiki becak motor karena kasihan terhadap pengemudi yang sepi pelanggan.
“Akeh seng ngalih nang GO-JEK (banyak yang berpindah ke GO-JEK),” katanya dengan penuh getir.
Mereka tahu zaman sudah berubah, namun pilihan mereka terbatas. Bagi sebagian pengemudi becak motor, bertahan bukan sekadar perkara cinta profesi, tapi juga keterpaksaan.
Usia yang sudah tak muda lagi, fisik yang tak sekuat dulu, menjadi kriteria ketat di dunia kerja yang membuat mereka sulit beralih profesi. “Kalau suruh kerja apa saja saya masih bisa. Kerja bangunan, saya masih kuat. Tetapi, tidak ada yang mau menerima,” imbuh Karyo.
Di tengah gempuran teknologi, becak motor di Kota Malang menjadi potret kecil dari perjuangan mempertahankan hidup masyarakat kota.
Mereka mungkin tak lagi jadi pilihan utama masyarakat saat ini, tapi bagi pengemudinya, selama mesin masih bisa menyala, becak motor akan tetap melaju meski pelan, melawan arus zaman.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Siti Nur Fadia (Magang)
Editor: Herlianto. A





























