Malang, Tugumalang.id – Dalam beberapa waktu terakhir terjadi polemik di kalangan warga Kota Malang dan juga di media sosial tentang hilangnya Malang The Glory Land yang ditimpa mural lainnya.
Mural yang terletak di Jalan Arif Rahman Hakim, Kota Malang ini tiba-tiba hilang ditimpa mural event musik pada Rabu (19/8/2026).
Peristiwa ini memantik perhatian warga dan juga Aremania yang kecewa dengan hilangnya Malang The Glory Island yang selama ini menjadi salah satu ikon Kota Malang. Buntut dari polemik tersebut, pihak panitia penyelenggara event Festival Mbois meminta maaf dan memberikan klarifikasi atas kejadian tersebut.
Kejadian ini tak hanya memicu pro kontra di media sosial, tetapi juga membuka ruang diskusi tentang etika seni jalanan dan penghargaan terhadap memori kolektif kota.
Terpantau pada Kamis (20/8/2026) sore, panitia event telah menghapus mural baru yang bertuliskan Malang Menyala Bersama dengan cat berwarna biru.
Baca juga: Aremania Kecewa Mural Ikonik Malang The Glory Land Hilang Ditimpa Mural Festival Mbois
Berikut ini fakta seputar mural Malang The Glory Land yang dirangkum dari berbagai sumber dan menarik untuk disimak.
Fakta Mural Malang The Glory Land
1. Lahir Tahun 2016
Mural Malang The Glory Land pertama kali dilukis di tahun 2016 di lokasi yang cukup strategis karena dekat dengan gedung-gedung yang menjadi ikon dari Kota Malang. Kehadiran mural ini menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap visual kota selama 10 tahun terakhir.
Karya ini diciptakan sebagai representasi kejayaan, kebanggaan, dan sejarah panjang bagi warga Malang dan juga komunitas Aremania. Mural ini juga menjadi monumen visual yang menghidupkan semangat di ruang publik.
2. Mahakarya Mendiang Hari Sucahyo (Sam Nyek)
Mural ini digagas dan diciptakan oleh almarhum Hari Sucahyo yang lebih dikenal dengan sapaan Sam Nyek. Ia adalah salah satu sosok tokoh Aremania yang menginisiasi mural Malang The Glory Land.
Sosok Sam Nyek dikenal sering menyampaikan pesan-pesan mendalam melalui simbol dan padanan kata di ruang publik. Mural ini bukan sekadar gambar, tetapi juga dipandang sebagai monumen visual tempat melekatnya memori kolektif dan nilai-nilai sentimental tentang harapan dan kejayaan.
3. Pilihan Kata Malang Ketimbang Arema
Ada filosofi kuat di balik pemilihan kalimat Malang The Glory Land. Mendiang Sam Nyek selaku inisiator mural tersebut sengaja menepis ego dan tidak menggunakan kata Arema agar pesannya merangkul lingkaran yang lebih luas.
Melalui diksi Malang, mural ini ditujukan sebagai seruan persatuan bagi seluruh elemen masyarakat Kota Malang, baik pecinta sepak bola maupun masyarakat umum.
Baca juga: Foto: Seniman Suarakan Kebebasan Pers Lewat Mural di Malang
4. Ditimpa Mural Promosi Acara Malang Menyala Bersama
Penimpaan mural dilakukan oleh pihak Malang Creative Fusion (MCF) selaku panitia acara Festival Mbois 11. Dinding tersebut ditutup cat dasar lalu ditimpa tulisan promo bertuliskan Malang Menyala Bersama.
Inilah yang kemudian memicu kekecewaan warga maupun Aremania karena dianggap mengganti karya bernilai historis demi iklan temporer.
Selain itu juga memicu etika kultur street art, terdapat etika tak tertulis bahwa mural lama yang masih terawat dan memiliki nilai historis tidak boleh ditimpa begitu saja tanpa adanya izin atau komunikasi dengan kreator awal. Penimpaan ini dinilai mengabaikan norma etika seni di ruang publik.
5. Permohonan Maaf Terbuka dari Inisiator
Melihat respons keras dari publik, pihak koordinator MCF menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Pihaknya mengakui kurangnya pemahaman serta komunikasi terkait nilai historis kultural dari karya Malang The Glory Land tersebut.
6. Pengunduran Diri Musisi dan Reaksi Keras
Aksi penimpaan ini memicu reaksi keras dari komunitas suporter Aremania Utas yang melayangkan teguran, hingga pejabat daerah yang mengimbau agar pelaku seni tidak arogan. Imbas dari polemik penimpaan mural Malang The Glory Land, sejumlah musisi yang dijadwalkan tampil di festival musik tersebut, memutuskan untuk mundur sebagai bentuk solidaritas terhadap karya seni lokal.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko




























