Mikrolet, Kuliner, dan Rokok

  • Whatsapp

Oleh: Frida Kusumastuti*

Hari minggu lalu saya mengalami hal yang memprihatinkan, dimulai dari usai slow jogging di pagi hari, dilanjutkan dengan mengunjungi lokasi-lokasi yang sifatnya random. Sekedar menikmati Kota Wisata Batu.

Bacaan Lainnya

Begitu merasa cukup, saya mencari angkotan umum untuk pulang. Istilah setempat mikrolet. Masuk mikrolet, penumpang masih minim. Hanya saya dan empat penumpang lainnya. Tiga penumpang nampak sebagai keluarga. Terdiri dari perempuan dewasa, remaja pria, dan anak perempuan sekitar usia 5 tahun. Remaja dan anak tersebut duduk persis di belakang sopir.

Sementara wanita dewasa duduk di depannya sebelah pintu mikrolet. Saya duduk di sebelah kiri anak perempuan.

Sesaat agaknya sopir berniat menunggu penumpang bertambah. Tidak berapa lama, tercium bau asap menyengat. Saya mahfum, sopir mulai merokok. Asap mengepul terbawa angin ke ruang penumpang.

Segera saya menegur sopir, “Pak maaf, asap rokoknya tertiup ke belakang. Ada penumpang anak-anak. Mohon tidak merokok.” Tanpa suara sopir menoleh ke belakang, dan langsung mematikan rokoknya. “Terimakasih pak.” Kata saya. Wanita dewasa di depan saya tersenyum.

Malam hari, saya bersama suami dan anak ke luar rumah. Waktu menunjukkan pukul 21.00. Anak meminta makan di warung. Kami berkeliling mencari warung yang masih buka.

Akhirnya memilih salah satu warung yang masih buka. Setelah melihat menu, kami memilih satu menu. Begitu nota dibawa ke bagian pengolahan, saya langsung tidak mood demi melihat juru pengolah makanan sedang merokok.

Lalu mata saya reflek mengamati sekitar. Tertangkaplah satu lagi karyawan yang sedang merokok. Sepertinya dia bagian menyiapkan peralatan makan. Semakin bad mood sudah.

Selera makan hilang. Saya bilang ke suami, kita pindah atau mereka mematikan rokok dan mencuci tangan.

Baca Juga  Jelang Ultah ke-2 Tugumalang.id, Karangan Bunga Ucapan Selamat Terus Mengalir

Sebenarnya tidak satu dua sopir angkot dan satu dua warung yang saya amati sejauh ini. Beberapa warung juga nampak abai dengan perilaku merokok para karyawan. Saat melayani pelanggan tetap sambil merokok, atau meletakkan rokok tetap menyala di pinggir mejanya. Tidak peduli walau kadang di dalam warung juga ada anak-anak kecil.

Sering dianggap Sepele
Bagi sebagian besar lelaki, merokok memang menjadi kebiasaan, seolah mengalir begitu saja. Otomatis.

Memprihatinkan melihat rendahnya kesadaran mereka bahwa kini banyak pihak yang terganggu dengan kebiasaan itu. Selain memang ketidak pedulian para perokok, juga karena mereka yang tidak suka atau terganggu dengan asap rokok, tidak bersuara.

Bagi yang tidak merokok, asap rokok itu menyebalkan. Baik baunya maupun situasinya yang bikin udara pengap. Selain itu banyak orang yang mulai menyadari bahaya asap rokok mengandung aneka zat aditif yang tidak ramah pada kesehatan. Menyebabkan berbagai penyakit. Jahatnya lagi bagi yang terpapar asap rokok tapi tidak merokok, malah disebut sebagai “perokok pasif.”

Dukungan Kota Wisata
Kota Batu telah menasbihkan diri sebagai Kota Wisata dengan singkatan KWB (Kota Wisata Batu). Berbagai objek wisata dibangun melengkapi wisata alam yang sebelumnya sudah terkenal. Topografi Kota Batu memang sangat mendukung sebagai kota wisata. Alamnya yang indah dikelilingi pegunungan dan hawa yang sejuk cocok untuk berbagai komoditas pertanian tanaman tropis.

Setelah menasbihkan diri sebagai Kota Wisata, infrastruktur Kota Batu juga dibenahi. Fasilitas hotel dan restaurant memadai. Berbagai kebijakan dan program pemerintah juga berfokus pada pengembangan wisata dan budaya. Setiap tahun selalu ada atraksi wisata yang ditunggu-tunggu para pelancong. Seperti festival bantengan, bersih desa, jelajah motor trail, karnaval mobil hias, dsb.

Baca Juga  Pandemi tak Berarti Produktivitas Terhenti, Dr Aqua Dwipayana Kian Aktif Menebar Inspirasi ke Pelosok Negeri (bagian 1 dari 3 tulisan)

Semua upaya infrastruktur dan kebijakan itu patut dipuji, meski tidak terlepas dari kritik soal konservasi lingkungan, misalnya. Masalahnya yang masih perlu dibangun lebih getol lagi adalah soal budaya masyarakat sebagai tuan rumah Kota Wisata.

Tidak semua pelaku usaha wisata memang warga Batu asli. Namun, ketika dia sebagai bagian dari yang mengambil manfaat Kota Wisata Batu dengan berbagai bisnis penunjang wisata, maka masuklah dia dalam lingkungan sebagai tuan rumah.

Transportasi dan kuliner salah satunya. Perilaku para sopir dan pelaku usaha kuliner juga mesti dibenahi. Hal yang nampak sepele, seperti kebiasaan merokok yang tidak pada tempatnya jelas menurunkan nilai pelayanan excellent.

Tidak hanya soal kepantasan, dan soal higienitas, melainkan juga kesadaran terhadap isu-isu global perlu ditanamkan. Tentunya ini tidak sebatas pada pelaku usaha. Seluruh warga diharapkan bisa berpartisipasi dalam menumbuhkan kebiasaan yang baik.

Masih banyak terlihat orang-orang merokok di setiap tempat, bahkan yang mestinya bebas dari asap rokok. Abai pada hak orang lain yang tidak merokok. Yuk, suarakan.

*Dosen Universitas Muhammadiyah Malang, Pengurus AAKPT Indonesia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *