Meski Pandemi, Hasil Kreasi Sulam Tangan Emak-Emak Asal Malang ini Tembus Pasar Internasional

  • Whatsapp
Koleksi Almira Fashion. @IG Almira

MALANG– Ekonomi kreatif di Kota Malang rupanya terus bangkit. Tak hanya seni, wisata dan teknologi tapi juga fashion. Seperti kreasi teknik sulam tangan milik Nurul Hidayati yang bahkan sampai tembus ke pasar global melalui berbagai macam platform.

Koleksi Bordiran milik Almira Fashion. foto: Feni Yusnia

Pemilik karya Almira Fashion ini menjadi salah satu perempuan yang cukup mencuri perhatian publik karena kreasi fashionnya yang terbilang sederhana namun selalu istimewa.

Menurut Nurul, sapaannya, produk fashionnya terbilang menarik lantaran handmade atau buatan tangan sendiri dengan teknik sulam. Berada di kawasan Jl Sunan Muria II, Lowokwaru, Kota Malang, deretan karya yang dihadirkan Almira Fashion banyak yang mengambil tema classic.

Selain mudah diterima, juga paling laris di pasaran. Adapun beberapa produk yang kerap diburu, antara lain seperti aneka mukena, baju atasan, hingga kerudung atau jilbab.

“Produk kami ini sifatnya handmade, biasanya kami sering menerima pesanan sesuai dengan request dari costumer, tapi kami juga menyediakan stok banyak untuk bisa langsung dibeli, kebanyakan mereka memilih tema-tema classic,” ujarnya.

Mukenah koleksi Almira Fahsion.

Lama tidaknya proses pembuatan satu busana, masih kata Nurul, tergantung dari motif sulaman. Pasalnya, ia tak mau asal dalam menghasilkan sebuah karya. Untuk mempercepat waktu, iapun mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk dilatih dan aktif bekerja membantu dalam proses menyulam.

“Prosesnya tergantung motif sulamannya karena kita pakao sulam tangan. Rata-rata untuk motif yang sederhana saja bisa 2 sampai 3 hari selesai. Tapi kalau motifnya rumit bisa sampai satu minggu lebih,” tukas dia

Pun, di masa pandemi ini selayaknya berkah baginya. Keaktifannya memasarkan beragam produk melalui berbagai platform, membuat produk dengan segmentasi pasar di kalangan usia 30 tahun keatas ini berhasil menarik minat pasar internasional.

Baca Juga  Dua Mahasiswa Unikama Sabet Medali Perak dalam Seni Tarung Tradisonal Jepara

“Saat pandemi ini justru pemasarannya bisa sampai Jerman dan Spanyol. Karena kami aktif memanfaatkan semua platform media sosial,” jelas Nurul

Mayoritas baju yang dipesan, untuk dikenakan sehari-hari saat musim semi atau musim semi. Tak ayal jika harga yang dipatok berkisar Rp 85 ribu sampai Rp 1.25 juta. Bergantung dari desain dan kerumitan teknik sulam.

“Semakin rumit dan sulit motif dan desain yang diinginkan maka harganya juga semakin mahal,” imbuhnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *