MALANG, Tugumalang.id – Pusat perbelanjaan Sarinah Malang yang lokasinya tak jauh dari Alun-Alun Malang, bukan sekedar tempat belanja modern yang ikonik tapi juga menyimpan nilai historis.
Berada di jantung Kota Malang, sejarah gedung Sarinah Malang dulunya adalah Societeit Concordia atau gedung bola. Sebelum Sarinah eksis, Societit Concordia menjadi pusat hiburan para kaum elite Eropa yang tinggal di Malang.
Keberadaan Gedung Societeit Concordia pada masa pemerintahan kolonial Belanda selalu ada di beberapa kota besar, seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.
Baca Juga: Pedagang Terdampak Kebakaran Malang Plaza Pindah ke Mal Sarinah Secara Mandiri
Dosen Program Studi Sejarah Universitas Negeri Malang (UM), Dr. Reza Hudiyanto, S.S, M.Hum saat ditemui Tugumalang.id menjelaskan bahwa dahulu Mal Sarinah adalah Societeit Concordia sebagai sebuah gedung pertemuan dan juga hiburan bagi kaum bangsa Eropa di Malang.
Tetapi masyarakat pada saat itu menyebut gedung tersebut sebagai rumah bola, yang menurut Reza merujuk pada bentuk gedung yang memiliki area cukup luas di dalamnya seperti ballroom.

“Itu (Sarinah Malan) dulunya Societeit Concordia atau rumah bola yang ada di foto dan sebelum dipugar, bentuk aslinya ada di tahun 1925,” kata Reza, Minggu (3/8/2025).
“Istilah bola memang belum diketahui datanya secara asli, tetapi besar kemungkinan merujuk pada ballroom yang luas. Kalau di Eropa seperti Basilika, ada ruang yang sangat luas di tengahnya di mana bisa menampung banyak orang dan untuk acara dansa biasanya,” jelasnya.
Baca Juga: Pedagang Terdampak Kebakaran Malang Plaza Pindah ke Mal Sarinah Secara Mandiri
Keberadaan gedung Societeit Concordia pada masa itu memang tak bisa dilepaskan dari budaya orang Eropa yang kerap kali menggelar acara pertemuan, dansa, maupun ceramah publik.
Menurut Reza hal itu wajar karena dari sejarah perkembangan Kota Malang yang berkaitan dengan pemerintahan kolonial Belanda, sehingga gaya arsitektur bangunan dan tata kota mirip dengan di Eropa, khususnya Belanda.
Sejarah pembangunan Societeit Concordia di Malang diperkirakan dibangun sebelum tahun 1900-an.
Menjadi Saksi Sejarah Perjuangan Bangsa
Gedung Societeit Concordia menjadi saksi bisu dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Pada tahun 1947 Gedung ini menjadi tempat sidang Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) yang merupakan cikal bakal Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI).
Beberapa tokoh nasional pun hadir di sidang KNIP tersebut, seperti Soekarno, Hatta, Sutan Sjahrir, serta tokoh nasional lainnya.
“Dulu pernah digunakan sebagai tempat sidang KNPI dan semua tokoh nasional pada saat itu datang ke sini (Malang),” ungkap Reza.
Mereka berkumpul di Gedung Societeit Concordia untuk membahas perjuangan bangsa Indonesia yang baru merdeka serta menghadapi Agresi Militer Belanda pada tahun 1947 yang mencoba kembali menguasai Republik Indonesia.
Agresi Militer Belanda, Malang Bumi Hangus, dan Berganti Menjadi Sarinah
Situs sejarah yang pernah menjadi saksi dari perjuangan bangsa Indonesia, Societeit Concordia berakhir saat Agresi Militer Belanda pada tahun 1947 di Malang. Gedung tersebut hancur ketika taktik Malang Bumi Hangus diterapkan oleh para pejuang agar gedung-gedung penting seperti Societeit Concordia tidak dikuasai Belanda.
Gedung Concordia pun ikut hangus dan hilang bersama gedung-gedung lainnya dalam peristiwa bersejarah tersebut.
Sejak tahun 1960-an, sisa-sisa bangunan asli Concordia yang bernilai sejarah mulai berganti rupa menjadi pusat perbelanjaan modern bernama Sarinah.
Reza menilai bergantinya Gedung Societeit Concordia ke Sarinah tak lepas dari recovery ekonomi pasca perang. Fokus pemerintah pada saat itu adala berupaya bangkit dari keterpurukan ekonomi, maka yang pertama kali dibangun adalah pasar atau pusat perbelanjaan. Apalagi posisi Concordia yang sangat strategis.
“Karena habis perang yang dipikirkan adalah recovery bangkit dari keterpurukan ekonomi, maka yang pertama kali dibangun adalah pasar,” terang Reza.
“Tempat perdagangan harus dibangun, akhirnya Sarinah dibangun mungkin karena posisinya dianggap strategis. Kedua, karena kepemilikan negara, jadi tidak sulit membangun di atas tanah milik negara,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A
























