Malang, Tugumalang.id – Terbatasnya ketersediaan guru yang siap mengajar pada pendidikan inklusif, menjadi sorotan serius Universitas Brawijaya (UB). Menanggapi tantangan ini, tim dosen dari Departemen Psikologi UB menginisiasi program psikoedukasi guna memperkuat kesiapan mental pendidik agar mampu menjadi guru tangguh di lingkungan pendidikan inklusif.
Berdasarkan data per Desember 2023, hanya 5.956 sekolah yang memiliki guru pembimbing khusus dari total 40.164 sekolah formal yang memiliki siswa berkebutuhan khusus. Artinya, baru sekitar 14,83% sekolah yang memiliki guru pendamping khusus. Fakta ini menunjukkan kesenjangan signifikan dalam pemenuhan tenaga pendidik inklusif di Indonesia.
Psikologi UB Tawarkan Solusi melalui Program Psikoedukasi
Melihat urgensi tersebut, tim dosen Psikologi UB menggelar kegiatan bertajuk “Menjadi Guru Tangguh: Kesiapan Mental dan Pendekatan Psikologis dalam Merajut Keberagaman untuk Pendidikan Inklusif” pada Jumat (16/5/2025) di SMPN 10 Malang.

Kegiatan ini melibatkan tiga dosen psikologi UB, yakni Ulifa Rahma, M.Psi., Yuliezar Perwira Dara, M.Psi., dan Naila Kamaliya, M.Psi., serta lima mahasiswa sebagai asisten pengabdian masyarakat.
Baca juga: Segini Besaran UKT di Universitas Brawijaya untuk Jalur SNBT dan Mandiri
Kepala SMPN 10 Kota Malang, Hasbullah, S.Pd., S.E., dalam sambutannya berharap kegiatan ini bisa memperkuat kapasitas guru dalam menghadapi tantangan keberagaman siswa di sekolah inklusif.
“Saya berharap seluruh bapak dan ibu guru dapat memperdalam strategi menjadi pendidik inklusif dengan menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan psikologis,” ujarnya.
Dalam sesi materi, Ulifa Rahma, M.Psi. menekankan pentingnya kesiapan mental sebagai fondasi guru yang tangguh di sekolah inklusif. Ia menjelaskan bahwa tekanan lingkungan dan kondisi psikologis pribadi adalah faktor kunci yang mempengaruhi performa guru dalam merespons kebutuhan siswa berkebutuhan khusus.
“Guru perlu menyadari berbagai faktor kontekstual dan personal yang memengaruhi kesiapan mental mereka dalam proses belajar mengajar,” terang Ulifa.
Senada, Yuliezar dan Naila turut membagikan strategi praktis untuk meningkatkan daya tahan mental guru. Salah satu hal penting yang mereka angkat adalah pentingnya dukungan sosial dari rekan sejawat demi menjaga kesehatan mental dan kompetensi pendidik secara berkelanjutan.
Baca juga: Wajib Disimak Calon Mahasiswa Baru! Berikut Daftar Prodi Sarjana yang Ada di Universitas Brawijaya
Mereka juga mengupas karakteristik perkembangan siswa, baik dari sisi kognitif, sosial, maupun emosional. Pemahaman ini dinilai krusial agar guru dapat menyusun pendekatan pembelajaran yang lebih empatik dan tepat sasaran, khususnya untuk siswa dengan disabilitas.
Salah satu guru peserta kegiatan mengaku mendapat wawasan baru setelah mengikuti sesi pelatihan.
“Saya jadi sadar, kondisi psikologis saya sendiri dan lingkungan sekitar sangat memengaruhi cara saya mengajar. Saya harus lebih peduli terhadap kesehatan mental agar bisa mendidik anak-anak secara optimal,” tuturnya.
Melalui kegiatan pengabdian ini, tim Psikologi UB ingin mendorong terciptanya ekosistem pendidikan inklusif yang lebih kuat. Kesiapan mental guru diharapkan menjadi langkah awal membentuk ruang belajar yang sehat, adil, dan berpihak pada semua peserta didik, dengan dukungan berkelanjutan dari sekolah, pemerintah, dan orang tua.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko





























