Malang, Tugumalang.id – Perkembangan teknologi selalu memunculkan hal baru, termasuk profesi baru yang sebelumnya tidak ada. Profesi baru yang kini mulai ramai diperbincangkan adalah Virtual Assistant atau VA. Tak seperti namanya, profesi ini masih dilakukan oleh manusia, bukan robot Artificial Intelegence (AI).
Kehadiran profesi VA ini sendiri ditengarai muncul di era revolusi industri 5.0 yang menuntut efisiensi dan produktivitas. Profesi ini tidak membutuhkan ruang dan waktu yang esensial seperti halnya perusahaan konvensional.
Namun, VA tetap dapat berkontribusi memberikan layanan administratif dan dukungan bisnis terhadap perusahaan meski dari jarak jauh. Tidak heran jika minat perusahaan terhadap profesi ini mulai tinggi, terutama di luar negeri.
Sebenarnya, profesi ini sudah mulai muncul sejak beberapa tahun yang lalu di luar negeri dan mulai menjalar ke Indonesia. Di Malang, Jawa Timur saja. animo masyarakat yang ingin terjun ke dunia profesi ini sudah banyak. Bahkan sudah ada komunitasnya yang bernama Malang Virtual Assistant Community.
Baca Juga: 8 Organisasi Profesi Guru di Indonesia Serukan Petisi Kemerdekaan Memilih

Tugumalang.id berhasil mewawancarai salah satu pelakunya yang sudah menekuni bidang profesi ini sejak lama. Namanya Teylita Andriyarini. Ibu satu anak usia 35 tahun asal Desa Jedong, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Berikut hasil wawancara kami dengannya:
1. Apa bedanya VA dengan profesi asisten pada umumnya?
Singkatnya, kerja VA ini memang sama seperti di bidang asistensi umumnya. Hanya saja memang dilakukan virtual. Karena virtual, bidang yang dikerjakan gak terbatas personal assistant saja, tapi lebih luas. Bisa bantu manage social media klien, regenerations, content writing dan lain sebagainya.
Profesi ini memang mulai ramai dibicarakan apalagi setelah ada penyebutan istilah VA ini. Sebenarnya, setelah saya tekuni. profesi ini gak jauh-jauh dari teman-teman yang selama ini kerja freelancer dari internet. Ya intinya, kerja remote, dari jarak jauh.
Artinya, siapa saja bisa jadi VA asalkan punya skill asistensi itu tadi. Kebetulan, saya sendiri sudah jadi freelancer sejak 10 tahun yang lalu. Jadi ketika saya melabeli diri sebagai VA, apa yang saya kerjakan ya ya gak jauh beda sama sebelumnya.
Sebelumnya, saya sudah pernah kerja remote jadi Customer Support perusahaan start up di Denmark yang ada di Malang, jadi content writer di media online. Masih juga side job di perusahaan Australia dan mencoba side job remote lainnya. Ya namanya freelancer, kita pasti cari proyek lebih dari satu agar income bulanan kita sustain (stabil).
2. Apa benefit yang anda tawarkan pada klien atau perusahaan?
Kembali ke pengalaman saya jadi freelancer sudah 10 tahun lalu itu, sama pengalaman CS itu akhirnya memperbanyak bidang jasa yang bisa saya jual. Untuk benefit jasa yang saya tawarkan sendiri bisa dilihat di web portofolio saya di tetalogi.com/# .
Mulai jasa Social Media Management, Customer Support, Administrative Support, Personal Assistant, Internet Research hingga Content Writing. Semua pekerjaan teknis itu bisa saya handle, sementara klien bisa fokus membangun optimasi bisnisnya saja.
Baca Juga: Memasuki Era Metaverse: Strategi Pemasaran untuk Dunia Virtual
3. Berapa honor yang didapat dari kerja VA?
Kalau honor gak bisa dipukul rata ya. Karena kan tergantung dengan servis dan jasa yang diminta klien. Bidangnya kan bisa banyak. Misal untuk satu bidang saja, untuk VA pemula tanpa skill spesifik dan pengalaman itu bisa per jamnya dihargai 5 dolar atau setara Rp80 ribu.
Kalau yang portofolio atau jam terbangnya sudah tinggi itu bisa sampai 25 dolar atau Rp400 ribu per jamnya. Kalau saya sendiri kan punya banyak bidang jasa. Jadi, saya nawarinnya beda-beda.
Kalau untuk klien indonesia itu charge-nya sekitar Rp75-150 ribu per jam. Untuk content writing per artikel 1000 kata itu bisa Rp150 ribu dan Rp250 ribu untuk artikel berbahasa Inggris. Sementara untuk manage socmed itu sekitar Rp2,5 juta per klien.
4. Suka duka jadi VA?
Kalau kamu tipikal orang yang suka challenge dan hal baru, profesi ini sangat cocok. Saya sendiri adalah tipikal orang seperti itu. Suka hal dan dunia baru dan dipaksa belajar hal baru. Itu yang bagi saya sangat seru dan terasa Alive!
Selain itu karena jam kerjanya fleksibel dan remote dari jarak jauh, itu sangat membantu dan cocok bagi ibu satu anak seperti saya. Jadi saya masih bisa fokus handle pertumbuhan anak. Saya juga bisa kerja dari rumah, dari coffee shop.
Tapi sedihnya, selama menjalani profesi ini, batas kehidupan kerja dan pribadi itu saya rasa sudah nge- blur atau gak jelas. Jadi kayak kita ini gak ada batas waktu kapan istirahat dan kapan kerja. Tetangga dan keluarga saya juga pada bingung sebenarnya.
Kemudian, karena profensi ini sifatnya freelancer, alhasil agar income bulanan kita sustainable, ya balik lagi ke effort kita buat mencari, memperbanyak klien. Di situ butuh effort, waktu dan pikiran yang ekstra untuk approach langsung ke klien.
5. Boleh bagi tips and trik biar bisa jadi VA ternama dong?
Tips dari saya biar lancar di profesi VA ini itu kita kudu sering-sering upgrade skill, belajar hal baru, tren aplikasi baru. Terus jangan pernah ragu untuk memperluas koneksi karena klien bisa datang dari mana saja. Perluas networking, saling sharing.
Memang mungkin agak sulit di awal-awal, tapi kalau sudah dijalani pasti bisa kok. Profesi VA ini sangat berpotensi dan prospeknya lumayan besar di masa depan. Karena pekerjaan ini butuh evolusi terus-menerus menyesuaikan kebutuhan klien. Jadi, jika kamu orang yang suka challenge, sudah pasti cocok dengan kerjaan ini.
6. Sepatah dua tiga kata buat profesi ini?
Seru dan penuh tantangan! Selamat mencoba.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
editor: jatmiko


























