Fenomena: “Nanti Dulu, Masih Bisa Besok”
Malang, Tugumalang.id – Pernahkah kamu punya tugas penting, tapi malah memilih menundanya? Fenomena ini dikenal dengan istilah prokrastinasi. Meski sering disalahpahami sebagai bentuk kemalasan, riset menunjukkan bahwa prokrastinasi adalah masalah pengaturan diri (self-regulation), bukan sekadar tidak mau bekerja.
Piers Steel, seorang peneliti terkemuka dalam bidang psikologi motivasi, menjelaskan bahwa prokrastinasi terjadi ketika seseorang gagal mengatur perilaku secara tepat waktu. Akibatnya, tugas yang penting kalah oleh aktivitas yang memberi imbalan instan, seperti bermain ponsel atau menonton hiburan digital. Kemudahan akses media sosial semakin memperburuk kecenderungan ini, terutama saat tugas terasa berat, membosankan, atau memicu rasa takut gagal.
Self-Regulation Failure: Gagal Mengarahkan Diri

Psikolog sosial Baumeister dan Heatherton menyebutkan bahwa kontrol diri adalah kemampuan kognitif yang memerlukan energi mental. Ketika energi ini terkuras, seseorang menjadi lebih rentan terhadap godaan. Prokrastinasi sering menjadi strategi “coping” emosional untuk menghindari rasa tidak nyaman, seperti kecemasan atau rendah diri.
Baca juga: 6 Tips Mengatasi Kebiasaan Menunda Pekerjaan
Misalnya, jika seseorang merasa tugasnya terlalu sulit atau ragu pada kemampuannya, ia cenderung menunda sebagai cara menghindari stres. Sayangnya, kebiasaan ini justru memicu lingkaran setan: semakin menunda → semakin stres → semakin sulit memulai.
Ego Depletion: Energi Mental yang Terbatas
Teori ego depletion dari Baumeister menggambarkan bahwa kontrol diri bekerja layaknya otot—bisa lelah jika digunakan berlebihan. Setelah melalui hari yang penuh keputusan dan pekerjaan berat, energi mental akan menurun. Inilah sebabnya banyak orang lebih produktif di pagi hari, sementara di sore atau malam hari mereka cenderung menunda-nunda tugas yang menantang.
Baca juga: Menunda yang Positif, Ini Caranya
The Procrastination Equation: Rumus Menunda Versi Piers Steel

Piers Steel, profesor dari University of Calgary, merumuskan The Procrastination Equation untuk memahami mengapa seseorang menunda pekerjaan:
Motivasi = (Expectancy × Value) / (Impulsiveness × Delay)
-
Expectancy: Keyakinan akan kemampuan menyelesaikan tugas.
-
Value: Seberapa penting atau bermakna tugas tersebut.
-
Impulsiveness: Kecenderungan mudah tergoda oleh hal-hal yang lebih menyenangkan.
-
Delay: Jarak waktu antara usaha dan hasil yang didapatkan.
Jika nilai expectancy dan value rendah, sementara impulsiveness dan delay tinggi, maka peluang menunda akan semakin besar. Itulah mengapa seseorang bisa rajin di pekerjaan yang ia sukai, tapi sering menunda tugas lain yang dianggap membosankan atau kurang berarti.
Kesimpulan
Prokrastinasi bukanlah tanda kemalasan, melainkan masalah dalam pengaturan diri yang dipengaruhi oleh motivasi, energi mental, dan distraksi digital. Memahami penyebabnya dapat membantu kita menemukan strategi yang lebih efektif untuk mengatasi kebiasaan menunda.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko
























