Rabu, Juni 3, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Melihat Kota Semarang dari Peninggalan Sejarah Masa Lalu

Redaksi by Redaksi
November 6, 2022 4:49 pm
in Pilihan Redaksi
Kelenteng Laksmana Cheng Ho

Relief di belakang kelenteng yang menggambarkan perjalanan Laksamana Cheng Ho. Foto: Aisyah Nawangsari

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

SEMARANG, Tugumalang – Kota Semarang menyimpan sejuta cerita. Dengan berjalan-jalan di sana, saya merasa seperti dibawa ke masa lampau dan menyaksikan hiruk pikuk masyarakat yang hidup ratusan tahun lalu.

Saya beruntung mendapat kesempatan berkeliling Semarang bersama 16 wartawan dari Kota Malang. Kami mengikuti media gathering yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Pada Jumat (4/11/2022), kami melakukan tur seharian penuh bersama Kepala KPwBI Malang Samsun Hadi. Destinasi yang dipilih cukup menarik karena memiliki sejarah yang panjang, yaitu Kelenteng Sam Poo Kong dan Kota Lama.

Cheng Hoo, sang Pembawa Perdamaian

Patung-patung dewa berjejer di Kelenteng Sam Poo Kong. Foto: Aisyah Nawangsari

Tujuan pertama kami adalah Kelenteng Sam Poo Kong yang berada di Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Ini bukan pertama kalinya saya berkunjung ke sana. Namun, ini pertama kalinya saya mengetahui apa makna setiap bangunan dan bagaimana asal mula didirikannya Klenteng Sam Poo Kong ini.

Di halaman klenteng, berdiri patung Laksamana Cheng Ho setinggi 12 meter. Melihat itu, saya kira ia yang mendirikan kelenteng ini. Tapi ternyata saya salah. Kelenteng ini didirikan oleh masyarakat untuk menghormati Cheng Ho.

Saya jadi berpikir, seberapa karismatik Cheng Ho ini sampai-sampai masyarakat mau membangun kelenteng (dan masjid) untuk menghormatinya? Pertanyaan saya terjawab tatkala kami sampai di sebuah relief yang menggambarkan perjalanan hidup Cheng Ho.

Cheng Ho sendiri adalah seorang utusan kerajaan yang berasal dari Suku Hui di Provinsi Yunnan di Tiongkok. Ia mendapat tugas untuk berkeliling dunia dan melakukan perdagangan di berbagai negara.

Selain berdagang, rupanya Cheng Ho juga melakukan berbagai aktivias kemanusiaan. Ia membantu meredakan konflik di berbagai negara, termasuk di Indonesia.

Misalnya pada tahun 1409, Cheng Ho membantu mendamaikan konflik antara Malaka (Malaysia) dengan Thailand. Selepas dari Malaka, Cheng Ho berlayar ke Kota Palembang. Di sana, ia membantu masyarakat membunuh lima ribu bajak laut yang hendak membakar Kota Palembang.

Di Jawa, 170 orang pasukan Cheng Ho sempat terbunuh pada saat terjadi perang saudara di Kerajaan Majapahit, padahal mereka tidak terlibat. Alih-alih membalas dendam, Cheng Ho berunding dan bernegosiasi dengan Wikramawardhana. Cheng Ho akhirnya mendapat ganti rugi berupa peti-peti berisi emas.

Selain itu, masih ada banyak lagi jasa-jasa Cheng Ho dalam mendamaikan konflik. Jika ia hidup di era sekarang, mungkin ia telah mendapat Penghargaan Nobel.

Melihat Kejayaan Orang Indonesia di Kota Lama

Ada alasan mengapa banyak negara ingin menjajah Indonesia. Kekayaan sumber daya alam di negara ini memang luar biasa. Banyak negara membutuhkan komoditas yang banyak dihasilkan di Indonesia. Misalnya, gula dan kulit.

Gedung Soesmans Kantoor, salah satu gedung di Kota Lama yang dimiliki oleh Oei Tiong Ham. Foto: Aisyah Nawangsari

Lahan yang luas dan tanah yang subur membuat Indonesia, khususnya Pulau Jawa menjadi tempat ideal untuk perkebunan tebu. Di abad ke-19, seorang saudagar Indonesia keturunan Tionghoa, Oei Tiong Ham melihat sebuah peluang untuk berbisnis gula. Gula ini tak hanya dijual di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke luar negeri.

Kerja kerasnya membuahkan hasil dan menjadikan dirinya sebagai orang terkaya di Asia Tenggara. Saat ini, menurut majalah Forbes, orang terkaya di Asia Tenggara juga merupakan orang Indonesia keturunan Tionghoa, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.

Oei Tiong Ham memiliki setidaknya lima gedung di Kota Lama. Salah satunya adalah Gedung Monod Diephuis yang berada di Jalan Kepodang.

Di gedung itu, untuk pertama kalinya dipasang pipa gas sebagai bahan bakar untuk menyalakan lampu. Itu adalah pemasangan pipa gas pertama di Indonesia. Gedung Monod Diephuis juga memiliki tangga rahasia yang memudahkan pemiliknya untuk kabur saat terjadi penggrebekan oleh pihak penjajah.

Brankas milik Oei Tiong Ham yang masih disimpan di Restoran Pringsewu. Foto: Aisyah Nawangsari

Kami berkesempatan masuk ke Gedung Monod Dephuid yang ikonik tersebut. Dari luar, gedung tersebut tak terlihat besar. Namun bagian dalamnya ternyata sangat luas. Gedung tersebut memiliki interior khas masa penjajahan Belanda. Lantainya berwarna hijau tua dan merah bata, kemudian pintunya terbuat dari kayu dan kaca.

Sayangnya kami tidak bisa melihat jelas tangga rahasia yang dimaksud karena pintu menuju tangga tersebut terkunci. Kami hanya bisa melihatnya dari balik kaca.

Di gedung tersebut kami juga melihat meja untuk piringan hitam yang bentuknya sangat unik. Menurut pemandu wisata yang mengantar kami, Rofiq, meja tersebut cukup mahal pada masanya, yaitu tahun 1940-1950an.

Rofiq juga mengantar kami ke gedung milik Oei Tiong Ham lainnya yang saat ini difungsikan menjadi Restoran Pringsewu. Di gedung tersebut terletak brankas milik Oei Tiong Ham. Menurut Rofiq, brankas tersebut bukan untuk menyimpan uang, tetapi untuk menyimpan surat berharga.

Menjelajah ke dalam gedung-gedung lama serta mendengar cerita pemiliknya membuat saya merasa seperti menembus dimensi waktu dan ikut menyaksikan peristiwa yang terjadi pada saat itu.

Gedung Monod Diephuis yang dulu dimiliki oleh Oei Tiong Ham. Foto: Aisyah Nawangsari

Saya menyayangkan akhir hidup Oei Tiong Ham yang memilih mengasingkan diri ke Singapura. Rupanya sebagian besar asetnya disita oleh pemerintah Republik Indonesia di tahun 1960-an. Semuanya keturunannya saat ini berada di luar negeri dan tak ada satu pun yang tinggal di Indonesia.

Selain Oei Tiong Ham, satu saudagar kaya lainnya yang terkenal di Kota Lama adalah Tasripin. Berbeda dengan Oei Tiong Ham yang tak ada jejak keturunannya, keluarga Tasripin sampai saat ini masih tinggal di Semarang.

Tasripin adalah pengusaha kulit yang memanfaatkan kebutuhan orang Eropa akan kulit sapi berkualitas. Meski demikian, ia membenci orang Belanda dan bahkan secara terang-terangan menghina Ratu Wilhelmina.

Salah satu gedung milik Tasripin di sudut Kota Lama. Foto: Aisyah Nawangsari

Sayangnya, ia terlampau serakah. Ia tak mau hartanya jatuh ke orang lain. Akhirnya ia memaksa keturunannya untuk menikah dengan keluarga sendiri. Akibatnya, banyak keturunan Tasripin yang tak sehat karena masalah genetik.

Cerita kedua pengusaha ini cukup menginspirasi. Meski mereka hidup ratusan tahun yang lalu, tapi saya merasa cukup dekat untuk mengetahui perjuangan dan kisah hidup mereka. Mungkin karena saya melihat langsung jejak-jejak kehidupan mereka di Kota Lama.

Memang benar kata Bung Karno. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari sejarah.
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: Jatmiko

Tags: Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) MalangKelenteng Sam Poo Kongkota lamaKota SemarangKPwBI MalangLaksmana Cheng Ho

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
Megaproyek Kereta Gantung di Kota Batu

Megaproyek Kereta Gantung di Kota Batu Ditarget Beroperasi 2024

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.