SEMARANG, Tugumalang – Kota Semarang menyimpan sejuta cerita. Dengan berjalan-jalan di sana, saya merasa seperti dibawa ke masa lampau dan menyaksikan hiruk pikuk masyarakat yang hidup ratusan tahun lalu.
Saya beruntung mendapat kesempatan berkeliling Semarang bersama 16 wartawan dari Kota Malang. Kami mengikuti media gathering yang digelar oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Malang.
Pada Jumat (4/11/2022), kami melakukan tur seharian penuh bersama Kepala KPwBI Malang Samsun Hadi. Destinasi yang dipilih cukup menarik karena memiliki sejarah yang panjang, yaitu Kelenteng Sam Poo Kong dan Kota Lama.
Cheng Hoo, sang Pembawa Perdamaian

Tujuan pertama kami adalah Kelenteng Sam Poo Kong yang berada di Kecamatan Semarang Barat, Kota Semarang. Ini bukan pertama kalinya saya berkunjung ke sana. Namun, ini pertama kalinya saya mengetahui apa makna setiap bangunan dan bagaimana asal mula didirikannya Klenteng Sam Poo Kong ini.
Di halaman klenteng, berdiri patung Laksamana Cheng Ho setinggi 12 meter. Melihat itu, saya kira ia yang mendirikan kelenteng ini. Tapi ternyata saya salah. Kelenteng ini didirikan oleh masyarakat untuk menghormati Cheng Ho.
Saya jadi berpikir, seberapa karismatik Cheng Ho ini sampai-sampai masyarakat mau membangun kelenteng (dan masjid) untuk menghormatinya? Pertanyaan saya terjawab tatkala kami sampai di sebuah relief yang menggambarkan perjalanan hidup Cheng Ho.
Cheng Ho sendiri adalah seorang utusan kerajaan yang berasal dari Suku Hui di Provinsi Yunnan di Tiongkok. Ia mendapat tugas untuk berkeliling dunia dan melakukan perdagangan di berbagai negara.
Selain berdagang, rupanya Cheng Ho juga melakukan berbagai aktivias kemanusiaan. Ia membantu meredakan konflik di berbagai negara, termasuk di Indonesia.
Misalnya pada tahun 1409, Cheng Ho membantu mendamaikan konflik antara Malaka (Malaysia) dengan Thailand. Selepas dari Malaka, Cheng Ho berlayar ke Kota Palembang. Di sana, ia membantu masyarakat membunuh lima ribu bajak laut yang hendak membakar Kota Palembang.
Di Jawa, 170 orang pasukan Cheng Ho sempat terbunuh pada saat terjadi perang saudara di Kerajaan Majapahit, padahal mereka tidak terlibat. Alih-alih membalas dendam, Cheng Ho berunding dan bernegosiasi dengan Wikramawardhana. Cheng Ho akhirnya mendapat ganti rugi berupa peti-peti berisi emas.
Selain itu, masih ada banyak lagi jasa-jasa Cheng Ho dalam mendamaikan konflik. Jika ia hidup di era sekarang, mungkin ia telah mendapat Penghargaan Nobel.
Melihat Kejayaan Orang Indonesia di Kota Lama
Ada alasan mengapa banyak negara ingin menjajah Indonesia. Kekayaan sumber daya alam di negara ini memang luar biasa. Banyak negara membutuhkan komoditas yang banyak dihasilkan di Indonesia. Misalnya, gula dan kulit.

Lahan yang luas dan tanah yang subur membuat Indonesia, khususnya Pulau Jawa menjadi tempat ideal untuk perkebunan tebu. Di abad ke-19, seorang saudagar Indonesia keturunan Tionghoa, Oei Tiong Ham melihat sebuah peluang untuk berbisnis gula. Gula ini tak hanya dijual di dalam negeri, tetapi juga diekspor ke luar negeri.
Kerja kerasnya membuahkan hasil dan menjadikan dirinya sebagai orang terkaya di Asia Tenggara. Saat ini, menurut majalah Forbes, orang terkaya di Asia Tenggara juga merupakan orang Indonesia keturunan Tionghoa, yaitu Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono.
Oei Tiong Ham memiliki setidaknya lima gedung di Kota Lama. Salah satunya adalah Gedung Monod Diephuis yang berada di Jalan Kepodang.
Di gedung itu, untuk pertama kalinya dipasang pipa gas sebagai bahan bakar untuk menyalakan lampu. Itu adalah pemasangan pipa gas pertama di Indonesia. Gedung Monod Diephuis juga memiliki tangga rahasia yang memudahkan pemiliknya untuk kabur saat terjadi penggrebekan oleh pihak penjajah.

Kami berkesempatan masuk ke Gedung Monod Dephuid yang ikonik tersebut. Dari luar, gedung tersebut tak terlihat besar. Namun bagian dalamnya ternyata sangat luas. Gedung tersebut memiliki interior khas masa penjajahan Belanda. Lantainya berwarna hijau tua dan merah bata, kemudian pintunya terbuat dari kayu dan kaca.
Sayangnya kami tidak bisa melihat jelas tangga rahasia yang dimaksud karena pintu menuju tangga tersebut terkunci. Kami hanya bisa melihatnya dari balik kaca.
Di gedung tersebut kami juga melihat meja untuk piringan hitam yang bentuknya sangat unik. Menurut pemandu wisata yang mengantar kami, Rofiq, meja tersebut cukup mahal pada masanya, yaitu tahun 1940-1950an.
Rofiq juga mengantar kami ke gedung milik Oei Tiong Ham lainnya yang saat ini difungsikan menjadi Restoran Pringsewu. Di gedung tersebut terletak brankas milik Oei Tiong Ham. Menurut Rofiq, brankas tersebut bukan untuk menyimpan uang, tetapi untuk menyimpan surat berharga.
Menjelajah ke dalam gedung-gedung lama serta mendengar cerita pemiliknya membuat saya merasa seperti menembus dimensi waktu dan ikut menyaksikan peristiwa yang terjadi pada saat itu.

Saya menyayangkan akhir hidup Oei Tiong Ham yang memilih mengasingkan diri ke Singapura. Rupanya sebagian besar asetnya disita oleh pemerintah Republik Indonesia di tahun 1960-an. Semuanya keturunannya saat ini berada di luar negeri dan tak ada satu pun yang tinggal di Indonesia.
Selain Oei Tiong Ham, satu saudagar kaya lainnya yang terkenal di Kota Lama adalah Tasripin. Berbeda dengan Oei Tiong Ham yang tak ada jejak keturunannya, keluarga Tasripin sampai saat ini masih tinggal di Semarang.
Tasripin adalah pengusaha kulit yang memanfaatkan kebutuhan orang Eropa akan kulit sapi berkualitas. Meski demikian, ia membenci orang Belanda dan bahkan secara terang-terangan menghina Ratu Wilhelmina.

Sayangnya, ia terlampau serakah. Ia tak mau hartanya jatuh ke orang lain. Akhirnya ia memaksa keturunannya untuk menikah dengan keluarga sendiri. Akibatnya, banyak keturunan Tasripin yang tak sehat karena masalah genetik.
Cerita kedua pengusaha ini cukup menginspirasi. Meski mereka hidup ratusan tahun yang lalu, tapi saya merasa cukup dekat untuk mengetahui perjuangan dan kisah hidup mereka. Mungkin karena saya melihat langsung jejak-jejak kehidupan mereka di Kota Lama.
Memang benar kata Bung Karno. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari sejarah.
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: Jatmiko





























