MALANG, Tugumalang.id – Mahasiswa Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang siap bertanding di ajang internasional Bridge Design Competition (BDC) 2025 yang akan digelar di Nanyang Technological University (NTU), Singapura pada 12–13 April 2025.
Tim perwakilan dari ITN Malang yang bernama Spectra Doa Ortu terdiri dari dua mahasiswa Teknik Sipil, yakni Legat Bestari dan Stevan Joseph Tuhuleruw, di bawah bimbingan dosen Krisna Febrian Anugerahputra, ST., MT., M.Sc.
Rektor ITN Malang, Awan Uji Krismanto, ST., MT., Ph.D., menyampaikan rasa bangga dan apresiasi kepada tim yang berhasil lolos ke final tingkat internasional.
“Terlepas dari hasil akhirnya, lolos ke tingkat internasional sudah merupakan prestasi yang membanggakan. Kami memberikan dukungan penuh dan doa terbaik. Selamat berkompetisi!” ujarnya.
Baca juga: Jelajah Pedalaman, Mahasiswa ITN Malang Rancang Kota Masa Depan Mahakam Ulu
Tentang Bridge Design Competition NTU 2025
BDC merupakan kompetisi tahunan bergengsi yang diselenggarakan oleh Civil and Environmental Engineering (CEE) Club NTU. Ajang ini menantang mahasiswa dari berbagai negara untuk merancang struktur jembatan inovatif yang solutif terhadap permasalahan nyata.
Tahun ini, kompetisi diikuti oleh 172 tim dari berbagai negara, termasuk Malaysia, India, Vietnam, dan Indonesia. Dari ITN Malang, dua tim dikirim, namun hanya tim Spectra Doa Ortu yang berhasil lolos ke babak final, bersama 69 tim lainnya, termasuk dari kampus lain di Malang seperti UMM, UB, dan UM.
Tantangan dan Persiapan Menuju Final
Pada babak penyisihan bulan Maret lalu, peserta diminta menyelesaikan skenario desain jembatan kendaraan dengan beban terpusat lateral. Mereka menggunakan software Bridge Designer 2016 yang disediakan panitia.
“Kami membuat model jembatan pelengkung dan dinilai berdasarkan efisiensi struktural, kelayakan ekonomi, keberlanjutan lingkungan, dan homogenitas desain,” jelas Legat.
Setelah dinyatakan lolos, tim memiliki waktu sekitar satu bulan untuk mempersiapkan diri menghadapi final. Mereka rutin berlatih merakit jembatan mini dari kayu balsa, yang akan menjadi bahan utama dalam kompetisi nantinya.
Menurut Legat, studi kasus final baru akan diberikan saat lomba berlangsung. Penilaian akhir akan mencakup aspek ekonomis, kekuatan struktur (testing), dan estetika desain.
Baca juga: Ciptakan Penyedap Rasa Alami, Mahasiswa ITN Malang Dapat Hibah Riset dari Indofood
Stevan mengungkapkan rasa bangganya bisa menembus ajang internasional untuk pertama kali.
“Saya tidak pernah menyangka bisa ikut lomba hingga ke luar negeri. Ini pengalaman yang luar biasa dan sangat berkesan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa kompetisi tahun ini akan digelar secara offline untuk pertama kalinya, setelah sebelumnya selalu dilakukan daring. Final akan memperebutkan gelar juara 1, 2, 3, serta nominasi Best Design dan Consolation Award.
Kendala dan Harapan Tim
Dosen pembimbing, Krisna Febrian, mengakui bahwa pengumuman lomba yang mendadak membuat waktu persiapan menjadi terbatas. Bahkan salah satu anggota, Daniel Juanito Tolan, tidak bisa ikut ke Singapura karena kendala paspor.
“Ini adalah kali pertama mahasiswa Teknik Sipil ITN Malang lolos ke final internasional. Momen ini sangat berharga dan belum tentu terulang,” jelasnya.
Pada babak final nanti, tim akan diberi waktu 4 jam untuk mendesain jembatan secara manual di atas kertas dan membuat prototipe dari kayu balsa. Krisna menekankan pentingnya kemampuan berpikir cepat, tenang, dan adaptif terhadap kasus yang diberikan secara spontan.
“Secara teori dan teknis mereka sudah cukup siap. Tantangan utamanya adalah bagaimana menyusun solusi terbaik dalam waktu terbatas dan kondisi real time,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko





























