Minggu, Mei 31, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Lumbung Padi dan Ketahanan Pangan ala Warga Desa Adat Kampung Naga

Redaksi by Redaksi
September 2, 2022 10:44 am
in Pilihan Redaksi
Desa Adat Kampung Naga, Tasikmalaya

Suasana kampung naga di Tasikmalaya, Jawa Barat. Foto: Herlianto.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

TASIKMALAYA | TuguMalang.id – Pemasukan akan cukup untuk memenuhi kehidupan. Tapi, tidak akan cukup untuk gaya hidup. Adagium ini tampaknya tepat jika menggambarkan warga Desa Adat Kampung Naga, di Tasikmalaya, Jawa Barat.

Saat tim ‘ Jawa Bali, Mereka yang Memberi Arti’ oleh Tugu Media Group dan PT Paragon Technology and Innovation melakukan eksplorasi ke kampung tersebut, Kamis (1/9), salah satu yang menarik dari kampung ini adalah soal kesederhanaan dan ketahanan pangan warga kampung.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Penduduk kampung adat yang tidak memakai listrik dan alat elektronik seperti handphone dan televisi ini, mayoritas pemasukannya dari bertani padi.

Cahyan, 52 tahun, salah seorang penduduk mengatakan, mayoritas warga kampung ini mempunyai lahan padi sebanyak 100-150 bata atau tumbak. Bata atau tumbak adalah penanda untuk 13 meter persegi lahan pertanian yang digarap.

Cahyan, salah seorang warga kampung naga. Foto: Herlianto.

Jika memiliki 100 tumbak, artinya setiap warga desa ini mempunya sekitar 1.300 meter persegi lahan pertanian berupa sawah. Rata-rata, dengan lebar tersebut, dalam enam sekali, mereka panen 4 kwintal gabah atau padi yang belum ditumbuk.

Sebagai langkah swasembada pangan, semua warga di tempat ini, akan menyimpan hasil panen, untuk persiapan hidup enam bulan kedepan.”Jadi kita sering kekurangan uang, tapi tidak akan kekurangan nasi untuk di makan,” kata Cahyan lalu terseyum lebar.

Dia menambahkan, dari 4 kwintal beras yang dia panen tersebut, biasanya dia menyimpan buat keperluan keluarga 2,5 kwintal. Beras atau paadi tersebut, lantas ditaruh di Lumbung Padi atau Leit.

pesantren attamur“Sedangkan sisanya yakni 1,5 kwintal saya jual, mungkin dapat Rp 600 ribu,” imbuhnya.
Uang Rp 600 ribu itu sebenarnya bukan pemasukan bersih, karena ada untuk keperluan pupuk dan bibit. Sedangkan untuk pendapatan uang lain, Cahyan dapat dari menjadi tour guide dan membantu jika ada tetangga butuh tenaganya seperti memotong kayu.

Untuk Tour Guide, Cahyan tidak menentukan tarif.”Karena kita ini desa adat, bukan desa wisata, jadi gak boleh menentukan tarif, seikhlasnya saja, dan di sini ada sekitar 10 guide, jadi gantian yang antar tamu,” katanya.

Saban bulan, untuk keperluan hidup dia, istri dan dua orang anaknya, pengeluaran Cahyan sekitar Rp 1 juta.”Sering juga sih gak punya uang, kurang. Tapi disyukuri saja karena bisa hidup dengan adanya lumbung padi,” imbuhnya.

Seperti inilah lumbung padi yang ada di setiap rumah kampung naga. Lumbung padi ini bisa untuk bertahan hidup enam bulan kedepan. Foto: Irham Thoriq

Ma’un, 88 tahun, tokoh adat juga mengatakan hal serupa, bahwa tumpuan utama dia dan warganya ada pada sawah yang ada di sekitar kampung naga.
Selain dari sawah, dia membuat aneka rupa kerajinan tangan.”Lumayan buat tambahan,” katanya.

desa adat kampung naga, tasikmalaya
Suasana dapur warga desa kampung naga di Tasikmalaya, Jawa Barat. Foto: Irham Thoriq

Untuk diketahui, desa adat ini berada di sebuah lembah. Untuk mendatangi desa ini, dari parkiran mobil, harus jalan kaki sekitar 20-30 menit. Kita menuruni sekitar 444 anak tangga.

Di tempat ini, tidak ada listrik. Tidak adanya listrik bukan karena warga di sini menolak kemajuan. Tapi, takut ada konsleting listrik, yang membuat rumah terbakar.
Ini karena rumah di desa adat ini sangat berdempetan, dan dibuat dari kayu serta anyaman bambu. Rumah di sini tidak memakai bahan semen sama sekali.

Dari sekitar 101 Kepala Keluarga (KK), hanya ada sekitar 5 keluarga yang mempunyai televisi. Itupun, televisi hitam putih, yang dihidupkan dengan Accu. Sedangkan untuk handphone, mayoritas warga tidak punya.”Misal kayak keluarga saya, ada empat orang, handphone satu rumah cukup satu. Dan banyak juga rumah yang sama sekali tidak punya handphone,” kata Cahyan.

Karena inilah, warga kampung naga bisa dibilang hidup dengan alam. Tim jelajah terlihat menyaksikan anak-anak yang sangat asyik bermain dengan teman-temannya di alam terbuka.”Main kita ya seperti ini, saya tidak pakai pernah pakai handphone, dan enjoy,” kata Rapka, 8 tahun.

Catatan ini adalah bagian dari program Jelajah Jawa-Bali, tentang Inspirasi dari Kelompok Kecil yang Memberi Arti oleh Tugu Media Group x PT Paragon Technology and Innovation. Program ini didukung oleh Gerakan Wartawan Peduli Pendidikan (GWPP), Pondok Inspirasi, Genara Art, Rumah Wijaya, dan pemimpin.id.

Reporter: Irham Thoriq

Tags: desa adatHeadlineJawa-Balijelajah jawa baliketahanan panganlumbung paditasikmalaya

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Senin, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Minggu, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Selasa, 7 Okt 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Selasa, 7 Okt 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Selasa, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Senin, 15 Sep 2025
Next Post
kampung adat tasikmalaya

Kampung Naga Tasikmalaya, Hidup Tanpa Listrik, Pernah Dibakar DI/TII

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Waspada Hujan Ringan! Prakiraan Cuaca Kota Malang Minggu 15 Maret 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.