Selasa, September 1, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Lembar Tragedi Stadion Kanjuruhan

Redaksi by Redaksi
Oktober 13, 2022 11:51 am
in Catatan
Winartiningsih memegang amplop dengan foto mendiang anaknya.

Winartiningsih memegang amplop dengan foto mendiang anaknya. Foto/Aisyah Nawangsari

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Aisyah Nawangsari Putri, wartawan tugumalang.id

Tugumalang.id – Notifikasi ponsel “centang-centung” berbunyi, Sabtu malam 1 Oktober 2022. Saya intip, banyak kiriman di grup redaksi tugumalang.id. Saya pikir itu laporan wartawan terkait liputan pertandingan Arema FC versus Persebaya.

READ ALSO

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Saya buka grup, isinya gambar-gambar tragedi di Stadion Kanjuruhan. Gas air mata, penonton di lapangan, dan narasi-narasi chaos. Saya kira waktu itu, mungkin biasa terjadi pada pertandingan olah raga.

Tapi subuh hari saya cek ponsel, notifikasi lebih 100. Ini gawat. Tidak hanya di grup redaksi, tapi juga grup wartawan Malang, semua tentang Kanjuruhan. Satu persatu saya buka.

“Ya Allah, apa ini,” saya tak menyangka ratusan suporter menjadi korban di Stadion Kanjuruhan. Gemetar seluruh badan saya. 127 korban jiwa. Itu yang disampaikan Kapolda Jatim Nico.

Sejak November tahun lalu, saya belum pernah liputan peristiwa mengerikan seperti ini. Di grup penugasan, redaktur sudah memberi arahan saya harus ke mana.

Wartawan Semalaman Tak Tidur

Pagi-pagi sekali saya dari Gondanglegi, langsung berangkat ke Polres Malang. Di jalan, saya gemetaran di atas motor. Gugup. Lewat Kanjuruhan, saya seperti melihat peristiwa yang besar. Seperti habis tsunami, seperti habis gempa bumi. Saya melihat puing-puing di luar stadion. Porak-poranda.

Bunga dan syal Arema menggantung di pintu Stadion Kanjuruhan yang terkunci. Foto: Bayu Eka Novanta/Tugumalang.id

Saya tetap ke Polres Malang. Di sana sudah banyak wartawan. Saya lihat mereka kelelahan. Saya tanya, teman-teman tidak tidur semalaman. Setelah membantu evakuasi, mereka lanjut melaporkan peristiwa.

Di Polres itu, redaktur minta saya pindah ke rumah sakit. Saya merasa takut begitu hebat. Saya akan liputan korban jiwa, banyak jenazah.

Sesampainya di RSUD Kanjuruhan, saya lihat kasur-kasur pasien berjejer di ruang gawat darurat, bahkan berderet hingga ke luar. Tapi tidak ada pasien. Saya tanya satpam, dia bilang sudah banyak korban yang dijemput pulang keluarganya.

Tapi saya masih merasakan suasana ngeri, lalu pelan-pelan masuk ke ruang dekat kamar mayat. Sepi memang, hanya ada beberapa orang. Tapi suasananya tetap mencekam. Staf di sana bilang, 21 korban meninggal di RSUD ini.

Menata Emosi

Di depan kamar mayat itu, saya lihat pria paruh baya, raut mukanya cemas, seperti menunggu kabar entah apa. Lalu tim medis meminta pria itu masuk ke kamar mayat. Ya Allah. Dia diminta mengecek apakah salah satu dari jenazah itu adalah keluarganya.

Tenaga medis membuka kain yang menutupi kepala jenazah. Saya lihat itu perempuan, masih muda. “Betul ini keluarganya, pak?,” saya dengar tenaga medis itu memastikan. Pria itu hanya mengangguk dan menangis sejadi-jadinya. Lemas tubuhnya. Dia peluk jenazah itu sambil menangis.

Choirul Anam bersama tim Komnas HAM meninjau Stadion Kanjuruhan. Foto: Bayu Eka/Tugumalang.id

Saya merasakan pria itu sedang terguncang hebat. Kehilangan satu-satunya yang paling berarti dalam hidupnya. Dia menangis dan berteriak. Tenagas medis mendekap pria itu dan memapahnya ke mobil ambulans. Saya tidak bisa apa-apa. Mau bertanya juga buat apa. Orang itu sangat sedih.

Kemudian beberapa orang berdatangan. Mereka menanyakan korban di Stadion Kanjuruhan. Saya semakin takut. Saya gemetar. Akhirnya saya pilih menjauh. Para keluarga korban itu pasti jiwanya berkecamuk.

Ini tragedi besar. Saya cek grup redaksi lagi, banyak notifikasi. Para pejabat negara informasinya sudah di Malang. Berita di dunia fokus pada Tragedi Kanjuruhan ini. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa datang ke RSUD Kanjuruhan. Saya lihat dia juga menteskan air mata. Empati dan emosiku pun ikut larut, tapi saya mencoba menata emosi itu. Saat itu saya pusing. Saya tulis laporan di rumah sakit dengan hati-hati.

Di Kepanjen, kecamatan di mana Tragedi Kanjuruhan pecah, situasinya sangat panik. Di rumah sakit, stadion, jalan, bahkan di rumah saya, Kecamatan Gondanglegi yang berbatasan dengan Kepanjen. Saya diwanti-wanti orang tua agar hati-hati dalam liputan ini. Saya diminta selalu berdoa.

Apalagi Stadion Kanjuruhan, di luar sudah porak-poranda. Dulu saya beberapakali nonton Arema di stadion kebanggaan warga Malang itu. Ingatan saya kembali ke tahun 2004, saat Stadion Kanjuruhan diresmikan. Waktu SMP saya pernah tampil sebagai petugas paduan suara HUT RI di stadion itu, 2004-2006.

Minggu pagi itu, 2 Oktober 2022. Banyak orang berdatangan ke Stadion Kanjuruhan. Saya meratapi stadion besar itu. Pengunjung berjubel tapi suasana hening. Orang yang datang berdoa di patung singa. Berdoa di pintu-pintu stadion yang penuh bunga, doa, dan juga makian buat aparat keamanan.

Menyisir Keluarga Korban

Saya meliput hampir semua pejabat penting negara datang, termasuk Presiden Jokowi. Saya mencatat statemen-statemen mereka. Beberapa saya rasakan, pejabat yang ikut sedih dan berduka. Tapi saya juga rasa ada dari mereka yang datang untuk memastikan hal lain. Belasungkawa untuk korban mungkin nomor sekian. Itu perasaan saya saja.

Kalau orang benar-benar sedih atas peristiwa ini, akan menangis. MENANGIS. Apalagi warga Malang, yang tanpa sekat dengan tragedi ini. HANCUR HATINYA, HANCUR JIWANYA.

Solidaritas semua kalangan ikut tabur bunga dan doa bersama memberikan penghormatan untuk Aremania yang gugur pada Tragedi Kanjuruhan. Foto : Rubianto/Tugumalang.id

Rabu siang, 5 Oktober 2022, saya pergi ke Dusun Bendo, Desa Karangpandan, Kecamatan Pakisaji. Rumah duka korban jiwa bernama Septian Ragil Syahputra. Anak ketiga pasangan Yanto-Winartiningsih.

Winartiningsih, tak henti-hetinya menangis. Kehilangan putranya yang berumur 22 tahun. Sebagai perempuan saya tak sampai hati membayangkan kehilangan seorang anak.

Kata ibunya itu, Agil sudah matang dan dewasa. Agil suka bersedekah di tanggal 3 awal bulan. Sedekahnya dari hasil jerih payah bekerja di kebun jeruk. Gaji yang Agil terima, sebagian disisihkan untuk sedekah.

Winartiningsih tak sanggup bicara panjang lebar, bibirnya selalu bergetar. Kedua matanya jadi sumber air, mengalir ke pipi dan menetes.

Saya lihat, di depan ibu itu ada amplop yang ditempeli foto Agil. Untuk apa bu? Ternyata kedua orang tua almarhum ini menyedekahkan kembali santunan pemerintah untuk korban jiwa Tragedi Kanjuruhan.

Dada saya seperti tertusuk duri tajam. Uang sudah tak ada artinya lagi. Orang tua Agil tak mau berpikir panjang, santunan itu diberikan ke beberapa orang. Ada yang buat akikah, kurban, macam-macam.

“Anak kami sangat mencintai Arema sejak kecil, sekeluarga memang suka Arema. Sejak kecil memang sering nonton, bahkan kalau main di luar kota,” kata Yanto.

Winartiningsih dan Yanto sangat kehilangan. Begitu juga keluarga korban yang lainnya. Anak kecil yang masih lucu-lucunya tak tertolong. Anak-anak sekolah, semua berakhir.

Satu kematian adalah tragedi, satu juta kematian adalah statistik. Demikian Presiden Uni Soviet, Joseph Stalin, pernah mengatakan.

Aremania dan warga Malang saat ini masih diselimuti duka. Ratusan korban luka juga masih berbaring di rumah sakit.

Semoga para korban jiwa mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt. Semoga para korban luka mendapatkan kesembuhan, sembuh seperti semula. Doa kami untuk kalian Aremania, semoga mendapatkan keadilan yang seadil-adilnya.

Aisyah Nawangsari Putri, wartawan tugumalang.id.
Aisyah Nawangsari Putri, wartawan tugumalang.id. Foto/TM

Editor: Herlianto. A

Tags: Korban Tragedi KanjuruhanLembar Trageditragedi kanjuruhan

Related Posts

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas
Catatan

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Senin, 31 Agu 2026
Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah
Catatan

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Minggu, 30 Agu 2026
Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Next Post
Arteria Dahlan, Anggota Komisi III DPR RI memberikan pernyataan terkait tragedi Kanjuruhan.

Komisi III DPR RI Soal Tragedi Kanjuruhan: Jelas Kesalahan Prosedur Pengamanan

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.