Malang, Tugumalang.id – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa optimistis Indonesia mampu mewujudkan swasembada daging dalam tiga tahun ke depan. Optimisme itu disampaikannya saat mengunjungi Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari, Kabupaten Malang, Minggu (28/6/2026).
Menurut Khofifah, target tersebut dapat dicapai apabila seluruh daerah memaksimalkan pemanfaatan teknologi inseminasi buatan sekaligus meningkatkan kualitas pendampingan kepada para peternak. Dalam upaya itu, BBIB Singosari dinilai memiliki peran strategis sebagai pusat pengembangan genetika ternak.
“Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari ini menjadi focal point pengembangan sapi di tingkat Asia dan Afrika. Saya berharap kapabilitas BBIB Singosari bisa dimanfaatkan seluruh daerah di Indonesia,” ujar Khofifah.
Baca juga: Tinjau SPBU Karanglo, Gubernur Khofifah Pastikan Pasokan Biosolar di Jawa Timur Aman
Optimistis Swasembada Daging
Khofifah mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan daging sapi secara mandiri. Apalagi, banyak daerah telah memiliki basis peternakan yang cukup baik.
Potensi tersebut, kata dia, tinggal diperkuat melalui peningkatan layanan inseminasi buatan serta pengawasan kebuntingan ternak.
“Pada dasarnya Indonesia ini punya potensi besar dalam mewujudkan swasembada daging. Kalau petugas inseminasi buatan dan pengawas kebuntingan bisa dimaksimalkan, secara hitungan saya, tiga tahun ke depan kita bisa swasembada daging,” paparnya.
Ia menambahkan, peningkatan produksi daging nasional juga penting untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap impor di tengah dinamika nilai tukar mata uang dan kondisi ekonomi global.
Pengembangan Sapi Belgian Blue dan Wagyu

Khofifah juga mengapresiasi keberhasilan BBIB Singosari dalam mengembangkan semen beku sapi unggul Belgian Blue sejak 2018. Saat ini, pengembangan sapi tersebut telah berlangsung di sejumlah daerah di Jawa Timur, seperti Mojokerto, Situbondo, Bondowoso, dan Jember.
“Kebetulan sebelum Iduladha kemarin saya bertemu pembudidayanya di Mojokerto dan membeli sapi Belgian Blue untuk hewan kurban. Saya melihat upaya pengembangan sapi Belgian Blue sudah sukses,” ujarnya.
Pengembangan sapi Belgian Blue di Indonesia dilakukan melalui persilangan karena ukuran tubuh sapi yang besar sehingga membutuhkan perlakuan khusus saat proses kelahiran.
Selain Belgian Blue, BBIB Singosari juga mengembangkan bibit sapi Wagyu melalui produksi semen beku.
Menurut Khofifah, peluang pengembangan sapi Wagyu di Indonesia cukup besar mengingat tingginya permintaan pasar domestik, terutama dari hotel berbintang dan restoran.
“Stok semen beku Wagyu di sini sudah cukup banyak. Tinggal bagaimana peternak memberikan perlakuan yang sesuai seperti yang dilakukan di Jepang,” katanya.
Namun, ia mengakui kualitas Wagyu yang diproduksi di Indonesia masih belum setara dengan produk impor. Selain bibit unggul, peternak juga harus menerapkan manajemen pemeliharaan yang baik, mulai dari pemberian pakan hingga perlakuan terhadap ternak.
“Wagyu itu proses perlakuannya luar biasa, bahkan harus dipijat dan pakannya juga khusus. Karena itu biaya produksinya juga tidak murah. Tetapi inisiasi yang dilakukan BBIB Singosari sejak sekitar lima tahun lalu ini patut diapresiasi,” ujarnya.
Baca juga: Gubernur Khofifah Hadiri Sidang Disertasi Penerima Beasiswa LPPD Jatim di Unisma
Dorong Daerah Manfaatkan BBIB Singosari
Khofifah mengajak seluruh pemerintah daerah memanfaatkan fasilitas dan teknologi yang dimiliki BBIB Singosari untuk mempercepat peningkatan populasi sekaligus kualitas sapi di daerah masing-masing.
“Provinsi-provinsi lain saya rasa bisa memanfaatkan kehadiran BBIB Singosari. Kalau kita mulai sekarang dengan komitmen yang kuat, saya optimistis tiga tahun Indonesia bisa mewujudkan swasembada daging,” harapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko


















