Kota Batu, Tugumalang.id – Penurunan kunjungan wisatawan ke Kota Batu, Jawa Timur sepanjang 2025 menjadi tantangan serius bagi seluruh pelaku pariwisata. Kondisi ini mendapat sorotan tajam dari DPRD Kota Batu, khususnya terkait kualitas dan efektivitas kalender event wisata yang dinilai perlu dievaluasi secara menyeluruh.
Anggota Komisi B DPRD Kota Batu, Sujono Djonet, menyebut penurunan angka kunjungan wisata sebagai pekerjaan rumah besar bagi pemerintah daerah. Berdasarkan data sementara, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Batu pada 2025 tercatat sekitar 8,5 juta kunjungan.
Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 2,5 juta wisatawan dibandingkan 2024 yang mencapai 11 juta kunjungan. Penurunan ini dinilai cukup signifikan dan berdampak langsung terhadap sektor ekonomi pariwisata.
Baca juga: Rekomendasi Wisata Kota Batu: Destinasi Wisata Bumiaji yang Wajib Dikunjungi
Data Kunjungan Wisata Dinilai Perlu Divalidasi
Djonet mengungkapkan, posisi Kota Batu saat ini hampir sejajar dengan daerah lain seperti Kota Mojokerto. Menurutnya, fenomena ini patut menjadi perhatian serius, mengingat sebelumnya banyak daerah lain justru belajar pengelolaan pariwisata dari Kota Batu.
Merespons kondisi tersebut, DPRD Kota Batu telah menggelar hearing bersama Dinas Pariwisata. Salah satu sorotan utama dalam pertemuan itu adalah soal sumber dan akurasi data kunjungan wisata.
Menurut Djonet, validitas data menjadi sangat penting untuk membaca tren pariwisata secara objektif. Ia menilai, secara kasat mata, kunjungan wisata pascapandemi sebenarnya mulai menunjukkan peningkatan, meski daya beli wisatawan masih cenderung menurun.
“Kalau dilihat secara kasat mata, kunjungan wisata pasca pandemi itu sebenarnya sudah mulai naik. Hanya saja memang daya belinya agak menurun. Tapi saya kira sekarang sudah mulai bergeliat lagi,” kata politisi Partai Nasdem tersebut, Senin (19/1/2026).
Baca juga: Cara Mudah Jelajahi Wisata Kota Batu dengan Trans Jatim Koridor I Malang Raya
DPRD Dorong Evaluasi Kalender Event Pariwisata
Selain soal data, Djonet juga mendorong pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan dan strategi pariwisata. Salah satu aspek yang menjadi perhatian khusus adalah efektivitas kalender event pariwisata yang disusun oleh Pemkot Batu.
Ia menilai, kalender event perlu diuji kembali, apakah benar-benar mampu menjadi magnet wisata atau justru tidak memberikan dampak signifikan terhadap kunjungan. Menurutnya, tanpa event pun wisatawan tetap datang ke Kota Batu karena daya tarik destinasi wisatanya.
“Ini karena saya melihat tanpa kalender event pun, wisatawan tetap datang ke Kota Batu karena tertarik ke destinasi wisatanya, bukan ke event yang sifatnya temporer,” ujarnya.
Dari berbagai event yang tercantum dalam kalender wisata, Djonet menyebut hanya beberapa yang memiliki daya tarik kuat, seperti Festival 1.000 Banteng dan Batu Art Flower Carnival. Sementara event lain dinilai perlu dievaluasi, diperbarui, atau bahkan diganti agar lebih relevan dan menarik.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta dalam pengembangan event pariwisata. Menurutnya, sinergi tersebut dapat menciptakan event yang lebih berkualitas dan berkelanjutan.
Baca juga: Eksplorasi Keindahan Bukit Jengkoang: Rekomendasi Wisata Kota Batu yang Wajib Dikunjungi
Meski demikian, Djonet tetap mengapresiasi berbagai pembangunan fisik yang telah dilakukan, seperti trotoar, taman kota, dan fasilitas publik lain yang dinilai semakin menunjang kenyamanan wisatawan. Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut belum cukup tanpa diimbangi peningkatan kualitas layanan.
“Ini harus jadi momentum evaluasi bersama. Yang tidak kalah penting adalah keramahan kota ini. Itu harus terus diperjuangkan agar menjadi layanan publik yang benar-benar berkualitas,” tegasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Redaktur: jatmiko





























