Kota Batu, Tugumalang.id– Dunia pendidikan di Kota Batu tengah menghadapi krisis serius akibat kekurangan tenaga pendidik, khususnya di tingkat SD dan SMP. Kondisi ini makin pelik setelah pada tahun 2024 lalu pemerintah tidak membuka formasi penerimaan guru dalam seleksi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Batu, M. Chori, mengungkapkan bahwa kekurangan terbesar terjadi di jenjang SMP dengan defisit sekitar 47 guru. Sementara di tingkat SD, jumlah kekurangan mencapai 16 guru, terutama pada mata pelajaran Agama.
“Kalau SD itu hanya di mata pelajaran tertentu, tapi kalau SMP jumlahnya cukup banyak, kurang sekitar 47 guru dari berbagai mata pelajaran,” jelas Chori, Rabu (24/9/2025).
Baca juga: Datangkan Google, Ratusan Guru Kota Batu Disiapkan Hadapi Transformasi Digital Sekolah
Penyebab Kota Batu Krisis Guru
Menurut Chori, persoalan klasik ini tak lepas dari kebijakan nasional terkait rekrutmen tenaga pendidik. Tahun 2024 lalu, tidak ada formasi PPPK guru yang dibuka, sehingga jumlah tenaga pengajar stagnan, sementara kebutuhan terus bertambah.
“Pengadaan sekarang harus lewat formasi PPPK. Karena 2024 kemarin tidak ada formasi, otomatis jumlah guru kita tetap, padahal kebutuhan meningkat,” tambahnya.
Skema Penugasan Tambahan Jadi Solusi Sementara
Untuk menutup kekosongan, Dindik Kota Batu menerapkan langkah darurat berupa penugasan tambahan bagi guru. Guru yang sebelumnya hanya mengajar di satu sekolah kini diberi mandat mengajar juga di sekolah lain yang kekurangan tenaga pendidik.
Chori menilai kebijakan ini cukup efektif. Selain membantu sekolah yang kekurangan, penugasan tambahan juga memberi dampak positif bagi guru. Mereka bisa memenuhi target jam mengajar yang menjadi syarat sertifikasi, yakni minimal 24 jam per minggu.
“Tugas tambahan ini justru membantu guru mencapai target jam sertifikasi. Jadi selain menutup kebutuhan sekolah, hak guru juga tetap terjamin,” jelasnya.
Baca juga: Dinkes Kota Batu Gandeng Guru-guru UKS Ikut Andil Tekan Angka Kehamilan Remaja
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski harus mengajar di dua sekolah, sebagian besar guru disebut tetap bersemangat. Mereka menyadari bahwa pendidikan anak-anak di Kota Batu tidak boleh terhenti. Namun, Chori menegaskan, kebijakan ini hanya bisa menjadi solusi jangka pendek.
“Kalau formasi PPPK guru tidak segera dibuka lagi, persoalan ini bisa makin pelik,” tegasnya.
Kondisi kekurangan guru ini menjadi ironi tersendiri. Di satu sisi, Kota Batu gencar membangun infrastruktur untuk mendukung pariwisata. Namun di sisi lain, kebutuhan dasar dalam sektor pendidikan masih menghadapi kendala serius.
Dindik menegaskan bahwa prioritas utama saat ini adalah memastikan proses belajar-mengajar tetap berjalan lancar. Semua langkah darurat akan terus diupayakan demi pemerataan pendidikan.
“Kami tidak ingin ada siswa yang tidak terlayani karena kekurangan guru. Semua upaya akan kami lakukan, termasuk membagi tugas guru antar sekolah,” pungkas Chori.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























