Tugumalang.id – Angka kehamilan pada usia remaja di Kota Batu, Jawa Timur masih terbilang tinggi. Berbagai upaya dan strategi khusus menekan hal itu terus menjadi perhatian utama bagi Dinas Kesehatan Kota Batu (Dinkes Kota Batu).
Terbaru, Dinkes Kota Batu menggelar Workshop Kemitraan Pendidikan Kesehatan Reproduksi di usia remaja pada Selasa (26/8/2025). Workshop itu dihadiri oleh seluruh guru UKS di sekolah tingkat SMP dan SMA di Kota Batu.
Mereka mendapat wawasan dan pengetahuan soal bagaimana meningkatkan kesadaran untuk menjaga kesehatan reproduksi sejak di usia remaja, bahkan sejak usia dini. Dalam hal ini, guru-guru UKS juga punya peranam penting.
Baca Juga: Dinkes Kota Batu Perketat Keamanan Pangan Pasar Takjil, Targetkan Bebas Boraks

Hadir sebagai narasumber Sayekti Pribadiningtyas, S.Psi., M.Pd., Psikolog dari Himpunan Psikologi Indonesia Cabang Malang Raya dan dr. M. Arief Adibrata, Sp.OG, M.Ked.Klin. selaku Dokter Obstetri dan Ginekologi dari RSUD Karsa Husada Kota Batu.
Dalam workshop tersebut membahas pentingnya kesehatan reproduksi remaja sebagai indikator penting suksesnya pembangunan kesehatan masyarakat.
Usia remaja merupakan masa transisi pertumbuhan yang penting diperhatikan oleh orang tua, guru dan lingkungan sekitar.
Angka Kehamilan Remaja di Kota Batu Masih Tinggi
Kenapa begitu penting? Jika merujuk pada data dari Dinkes Kota Batu bahwa pada 2024, tercatat ada 43 kasus kehamilan pada remaja dan 111 kasus persalinan pada usia remaja.
Baca Juga: Cegah Dini Penyakit Tak Menular, Dinkes Kota Batu Skrining Kesehatan Para ASN
Tren ini rupanya masih berlanjut di 2025 hingga periode April yang sudah tercatat ada 31 kasus kehamilan pada anak dan 21 kasus persalinan remaja sebanyak 21 anak.
Secara nasional, Kemenkes RI juga mencatat setiap tahun kira-kira 15 juta remaja berusia 15-19 tahun melahirkan, 4 juta melakukan aborsi dan hampir 100 juta terinfeksi penyakit Menular Seksual (PMS) yang dapat dicegah.

”Parahnya, kami juga mencatat kasus kehamilan dan persalinan termuda terjadi pada anak usia 14 dan 15 tahun. Jadi tidak bisa dibayangkan anak usia 14 tahun sudah melahirkan bayi” ungkap Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Susana Indahwati.
Perhatian Minim, Orang Tua Anggap Edukasi Seks Itu Tabu
Susan, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa sebab terjadinya kasus kehamilan pada remaja utamanya rata-rata karena minimnya pengawasan, perhatian dan edukasi dari orang tua. Banyak dari orang tua masih menganggap tabu edukasi terkait kesehatan seksual.
Situasi itulah yang mendorong anak untuk mencari tahu sendiri terkait rasa penasarannya terhadap kegiatan seksual dari sumber informasi yang tidak memadai. Seperti dari media sosial bahkan dari lingkungan pergaulannya.
”Sehingga dari masukan-masukan itu, tidak bisa mereka sortir sehingga akhirnya terjerumus dan berujung pada kehamilan di luar pernikahan atau bahkan masih remaja,” jelasnya.
Perkuat Peran Guru UKS di Sekolah
Sebab itu, pihaknya merasa perlu mengintervensi hal itu dengan memperkuat peranan guru-guru UKS di sekolah-sekolah. Ini mengingat waktu produktif anak sebagian besar terjadi di sekolah dan memerlukan intervensi khusus.
Dalam kesempatan itu para guru UKS diberikan strategi khusus untuk memberi pendampingan pada remaja. Salah satunya dengan memberikan layanan konseling. Dalam layanan itu, perlu digarisbawahi cara guru untuk bersikap kepada anak-anak tidak dengan cara lama.
”Jadi gen Z hari ini tidak bisa diperlakukan seperti zaman kita dulu. Kita berikan edukasi pada mereka bukan sebagai guru, bukan sebagai orang tua, tapi sebagai sahabat,” kata dia.
Selain itu, pihaknya juga menekankan kepada para guru UKS, termasuk juga pada orang tua untuk mulai adaptif dengan zaman modern.
Di era keterbukaan ini, sudah tidak ada lagi hal yang bisa ditutupi karena sumber informasi tersedia banyak di media sosial dan jika tidak didampingi, itu bisa berbahaya.
”Tak hanya guru, orang tua, tapi juga masyarakat termasuk kepada tokoh-tokoh di komunitas seni maupun budaya untuk juga turut andil dalam edukasi ini,” tuturnya.
Ia memandang remaja perlu memiliki pengetahuan seputar kesehatan reproduksi agar tidak terjebak dalam kegiatan yang merugikan. Hal ini juga menjadi bagian dari penanganan kasus stunting pada bayi yang juga memerlukan intervensi dan edukasi sejak remaja.
”Harapan dari upaya-upaya ini nantinya juga akan berpengaruh terhadap pembangunan generasi masa depan yang sehat dan berkualitas sesuai cita-cita Indonesia Emas 2045,” harapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























