Tugumalang.id – Dinas Kesehatan Kota Batu terus berupaya mengintensifkan percepatan penanggulangan kasus penyakit TBC (tuberkulosis), khususnya pada pasien TBC RO (Resisten Obat). Hal ini menjadi bahasan utama dalam kegiatan Monitoring dan Evaluasi Layanan TBC RO di RSUD Karsa Husada Kota Batu, Kamis (21/8/2025).
Kegiatan monev tersebut dihadiri Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinas Kesehatan Kota Batu, dr. Susana Indahwati, Wakil Direktur Umun RSKH dr Sofianita, M.Kes dan jajarannya sebagai RS rujukan TBC RO di Kota Batu, jajaran puskesmas satelit Kota Batu hingga mitra TBC dari Panter TB-RO.
Baca Juga: Wali Kota Batu Tegaskan Evaluasi Kinerja: Tinggalkan Budaya Asal Bapak Senang
Dalam kegiatan monev tersebut membahas banyak hal mulai panduan mentoring klinis, kolaborasi lintas sektor hingga skema pembiayaan baru yang kini sudah tidak lagi ditanggung oleh Global Found, tapi BPJS Kesehatan. Goals utama kegiatan tersebut berangkat dari kasusnya yang sudah semacam menjadi fenomena gunung es.
Kasus TBC Ibarat Fenomena Gunung Es
Kabid Pencegahan, Pengendalian Penyakit, dan Penanganan Bencana Dinkes Kota Batu, dr. Susana Indahwati menerangkan jika penanggulangan TBC sudah jadi program prioritas dari Pemerintah Pusat.

Pemerintah sendiri mencanangkan target eradikasi TBC pada 2030 alias zero TBC. Saat ini, kata dia, kasus penyakit ini di Indonesia sudah menjadi semacam fenomena gunung es, termasuk di Kota Batu.
”Kenapa jadi fenomena gunung es? Karena angka kasus yang diketahui sekarang itu masih yang terlihat saja, sebenarnya yang belum atau bahkan enggan atau abai memeriksakan diri, juga pasti masih banyak, apalagi penyakit ini kan menular,” ungkap Susan, sapaan akrabnya pada tugumalang.id.
Baca Juga: Dinkes Kota Batu Perketat Keamanan Pangan Pasar Takjil, Targetkan Bebas Boraks
Menguatnya gunung es tersebut diperparah dengan situasi denial pada masyarakat yang menganggap penyakit TBC sebagai stigma negatif. Banyak orang abai atau malu memeriksakan dirinya. Padahal, jika rajin skrining kesehatan dan terbuka, maka akan tercipta kondite yang baik.
”Kondite yang baik akan memperluas kesempatan pengobatan sehingga angka penularan bisa ditekan sampai zero kasus di 2030 nanti. Itu akan jadi konsen kita selama bertahun-tahun ke depan,” ujarnya.
Hingga pertengahan 2025 ini, Dinkes Kota Batu mencatat ditemukan ada 330 kasus, 323 orang di antaranya sensitif obat (bisa diobati, red), namun 7 orang sisanya RO atau resisten.
Pasien TBC RO adalah kondisi di mana bakteri mycobacterium tuberculosis dalam tubuhnya sudah kebal terhadap obat-obatan TBC standar (lini 1), terutama rifampisin.
Mengingat kuman TBC-nya kebal, pengobatan untuk pasien TBC RO menjadi lebih sulit sehingga butuh kombinasi obat berbeda dan durasi pengobatan yang jauh lebih lama, antara 9 hingga 24 bulan. ”Ini yang jadi fokus utama bahasan kita di monev tahun ini, khususnya soal mentoring klinis,” tegasnya.
Pertajam Kualitas Layanan TBC-RO
Susan menjelaskan bahwa kegiatan Mentoring Klinis adalah mekanisme konsultasi/OJT baik Mentoring Program dan Mentoring Klinis yang membantu pengembangan profesional dan jejaring tim Layanan TBC RO untuk menghasilkan layanan berkualitas. Di sisi lain juga untuk peningkatan kapasitas dan kompetensi tenaga kesehatan.
Mentoring Klinis harus dilakukan bersamaan dengan Mentoring Program untuk memastikan bahwa implementasi program TBC RO di setiap tingkatan (Provinsi, kabupaten/kota, dan layanan TBC RO) berjalan sesuai dengan tujuan program nasional.
Jika pada saat Mentoring Klinis dilakukan oleh klinisi, maka Mentoring Program dilakukan oleh penanggung jawab program TB dan TO di setiap tingkatan.
Diharapkan dapat diketahui kesimpulan terkait penerapan regimen dan perawatan pasien TBC RO yang dapat disesuaikan dengan kondisi pasien sehingga angka kesembuhan pasien TBC RO terus meningkat.
”Pada 2025 ini, RSUD Karsa Husada resmi ditunjuk sebagai RS rujukan TBC RO. Jadi, di kegiatan ini kita lakukan evaluasi implementasi jejaring internal dan jejaring eksternal Layanan TBC RO di RSUD Karsa Husada Batu guna mendukung pelayanan TBC RO, termasuk menyusun rencana tindak lanjut untuk meningkatkan kualitas layanan TBC RO,” paparnya.
Kolaborasi Lintas Sektor Diperlukan
Selain itu, dalam kegiatan tersebut juga membahas situasi terbaru di mana pembiayaan pengobatan TBC sudah tidak lagi dibiayai Global Found. Kini, tanggungan biaya itu akan dicover oleh BPJS Kesehatan. Kebijakan itu ditetapkan per Juli 2025 ini.

Hanya saja, mengingat pengobatan pasien TBC-RO memerlukan metode dan durasi yang lama, maka kemungkinan buruknya anggaran BPJS tidak cukup.
Sebab itu, kolaborasi lintas sektor, tegas Susan, sangat penting dalam hal ini. Tak hanya sektor lini kesehatan saja, tapi juga butuh peran masyarakat sendiri secara kultural.
”Tadi kita juga membahas peta pembiayaan. Mana saja yang dibiayai pemerintah daerah (Pemkot Batu), dan mana yang akan dibiayai BPJS lewat RSUD Karsa Husada. Sejauh ini, dari hasil rapat tadi, upaya kita bersama untuk menganggulangi kasus TBC masih akan terus jalan,” tegasnya.
Sementara, Wadir RSKH dr. Sofianita menuturkan apresiasi atas kegercepan Dinas Kesehatan Kota Batu atas dukungan yang optimal dalam menjalankan program-program kesehatan. Termasuk dalam hal ini keintensifan koordinasi dengan RSKH (rumah sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Timur) yang berdomisili di Kota Batu.
”Berkat kolaborasi kita yang baik selama ini, upaya penanggulangan TBC-RO di Kota Batu berjalan baik dan harus terus dioptimalkan. Meski tadi juga ada pengalihan pembiayaan, tapi saya yakin upaya menekan angka kasus TBC di Kota Batu ke depan tetap akan berjalan optimal,” tuturnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A





























