MALANG, Tugumalang.id – Mahasiswa Program Magister Manajemen Universitas Negeri Malang (UM) melaksanakan kegiatan observasi sebagai langkah awal sebelum menganalisis berbagai permasalahan dalam pengolahan tempe Sanan. Berdasarkan hasil analisis tersebut, tim kemudian menyusun program untuk memperkenalkan konsep zero waste dan digitalisasi.
Kawasan Sanan, yang selama puluhan tahun menjadi pusat industri tempe di Kota Malang, kini mulai memasuki fase transformasi baru. Hasil observasi mendalam oleh tim peneliti Magister Manajemen UM, Muhammad Naufal Aulia Maulana dan Rizky Fahmi Saputra, menunjukkan bahwa industri yang telah berkembang sejak 1995 ini mulai beralih dari usaha tradisional menuju entitas bisnis modern yang berkelanjutan.
Laporan yang disusun di bawah bimbingan Prof. Dr. Agung Winarno, M.M dan Prof. Dr. Wening Patmi Rahayu, S.Pd, M.M ini menyoroti bagaimana industri rumahan mulai mengadopsi prinsip circular economy serta sistem manajemen yang lebih terstruktur.
Salah satu temuan utama dalam operasional pabrik tempe di Sanan adalah penerapan ekonomi sirkular secara mandiri. Selain memproduksi tempe basah dan keripik tempe, pelaku usaha juga mengintegrasikan peternakan sapi dalam rantai produksi guna meminimalkan limbah.
Limbah berupa air ampas dan kulit kedelai diolah kembali menjadi pakan ternak berkualitas. Sementara itu, kotoran sapi dimanfaatkan melalui proses fermentasi anaerobik di dalam digester untuk menghasilkan biogas. Secara ilmiah, proses ini melibatkan bakteri metanogenik yang menguraikan bahan organik tanpa oksigen dan menghasilkan gas metana (CH4) sebagai sumber energi alternatif ramah lingkungan untuk mendukung proses produksi.
Baca juga: Penguatan Wawasan Manajerial Mahasiswa S2 UM dalam Optimalisasi Pemasaran Digital dan Pengelolaan Keuangan BUMDes Sumberdem
Langkah ini menjadi implementasi nyata dari SDG 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) serta SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Pemanfaatan limbah menjadi energi dan pakan tidak hanya menekan biaya operasional, tetapi juga menjadi solusi konkret terhadap tanggung jawab lingkungan di tingkat industri kecil. Strategi zero waste ini sekaligus menjadi nilai jual unik untuk menarik konsumen yang semakin peduli terhadap isu keberlanjutan.
Tantangan Industri dan Adaptasi Teknologi
Meski telah mengadopsi teknologi semi-mekanis, industri tempe Sanan masih menghadapi tantangan berupa fluktuasi harga kedelai impor dari Amerika Serikat. Namun demikian, kondisi ini justru mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan efisiensi produksi sejalan dengan semangat SDG 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) melalui penguatan ketahanan ekonomi lokal.
Keunggulan utama produk tempe Sanan terletak pada konsistensi rasa dan tekstur yang khas, serta daya tahan produk yang optimal berkat teknik fermentasi tradisional yang terus disempurnakan. Penggunaan mesin pengupas kedelai juga terbukti mampu meningkatkan kapasitas produksi tanpa menghilangkan karakteristik autentik, sehingga modernisasi tetap berjalan selaras dengan pelestarian kearifan lokal.
Tim peneliti juga mencatat bahwa hubungan kerja antara pemilik usaha dan 8–10 karyawan telah terjalin secara harmonis melalui pendekatan trust-based management. Meski demikian, aspek formalitas dinilai perlu diperkuat guna menunjang keberlanjutan usaha dalam jangka panjang, sejalan dengan SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi).
Tiga Pilar Penguatan dan Strategi Digitalisasi
Sebagai solusi konkret, tim pengabdian mengusulkan tiga pilar penguatan utama, meliputi:
- Penyusunan SOP tertulis untuk institusionalisasi pengetahuan dan menjaga konsistensi kualitas produksi di setiap shift kerja
- Standardisasi keuangan melalui pemisahan keuangan pribadi dan usaha guna memantau arus kas serta profitabilitas secara akurat
- Optimalisasi manajemen hubungan pelanggan (CRM) dengan membangun basis data pelanggan tetap untuk program loyalitas serta peningkatan kualitas layanan purna jual
Memasuki tahun 2026, tim peneliti berkomitmen mengawal proses transformasi melalui pendampingan intensif dan terukur. Fokus utama diarahkan pada penguatan visibilitas digital, termasuk pendaftaran lokasi usaha di Google Maps serta optimalisasi platform TikTok dan Instagram untuk memperluas jangkauan pasar.
Sebagaimana disampaikan perwakilan tim peneliti, “Kami tidak hanya memperbaiki tampilan fisik melalui banner dan stiker kemasan, tetapi juga membangun sistem digital yang kredibel agar UMKM Sanan memiliki daya saing tinggi di mesin pencari dan media sosial.”
Melalui sinergi antara manajemen modern, inovasi teknologi, dan prinsip keberlanjutan, industri tempe Sanan diharapkan mampu memperkuat posisinya sebagai pelopor ekonomi kerakyatan yang adaptif dan berkelanjutan.
Informasi tambahan: Laporan ini merupakan bagian dari kegiatan observasi akademik Magister Manajemen Universitas Negeri Malang Tahun 2026.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Laporan Mahasiswa Magister Manajemen UM
redaktur: jatmiko


















