Selasa, September 1, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Kita dan Sampah

Redaksi by Redaksi
September 14, 2022 9:25 am
in Catatan
Akhmad Mukhlis.

Akhmad Mukhlis. Foto/dok TM

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Akhmad Mukhlis*

Ada satu kesamaan saat masyarakat kita berkumpul dalam skala besar. Kesamaannya adalah kita bisa melihat sampah berserakan sesaat setelah hajatan usai.

READ ALSO

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Tugumalang.id – Sepanjang Agustus, kita disuguhi banyak hal yang melibatkan manusia dalam skala besar. Minimal kita melihat bagaimana meriahnya 17-an lewat karnaval. Saya sendiri kebetulan menyaksikan lebih banyak, ada bersih desa, gerebek desa, konser dan beberapa even di kampus seperti ospek dan wisuda.

Perilaku manusia di ruang publik merupakan salah satu hal yang terus menarik untuk diperhatikan. Melalui perilaku massal inilah kita bisa melihat sejauh apakah kita berkembang sebagai masyarakat. Pertanyaannya, apakah yang paling mencolok dan menarik perhatian kita sesaat setelah beberapa even tersebut selesai?

Sampah berserakan. Ya! Kita akan melihat sampah bungkus makanan, dan masih menyisakan makanan. Pun begitu juga botol minuman dengan sisa minumannya. Belum lagi punting rokok dan berbagai jenis sampah lainnya. Sayangnya, banyak diantara sampah tersebut adalah sampah yang tidak mudah diurai.

Masalah sampah yang tidak mudah diurai adalah hal pertama, membuang makanan dan minuman merupakan masalah kita selanjutnya. Kita tahu dampak sampah bagi kesehatan dan lingkungan di masa depan, namun kita jarang tahu dan peduli tentang biaya dan anggaran yang dihabiskan dalam program-program berkait dengan sampah. Itu belum terkait bagaimana evaluasi dan tindak lanutnya.

Membuang sampah sembarangan (littering behavior) merupakan masalah estetika, ekologis dan sekaligus masalah psikologis. Jangan bilang jika masalah ini dibiarkan begitu saja, terutama oleh pemerintah.

Beberapa upaya untuk mengurangi membuang sampah sembarangan, seperti larangan, ketatnya undang-undang, sampai penyediaan fasilitas tempat sampah telah ditempuh dan dijalankan. Nayatanya, kita masih melihat bagaimana sampah berserakan, terutama di tempat umum dan terlebih sesaat setelah even. Bahkan itu terjadi setelah even wisuda di kampus.

Kita tahu, bahwa mereka adalah kaum terdidik dan keluarga yang mengantar adalah keluarga yang mengusahakan pendidikan bagi anak-anaknya. Nyatanya itu tidak cukup. Littering adalah masalah lintas kelas sosial ekonomi di Indonesia, siapapun memiliki kemungkinan yang sama.

Psikologi Sampah

Perilaku kita banyak dipengaruhi oleh norma sosial yang kita sepakati. Kita bersepakat bahwa littering adalah perilaku negatif, tidak keren dan bahkan buruk. Kebersihan adalah dambaan setiap orang, buktinya semua orang akan lebih memilih tinggal di tempat yang cenderung bersih dan rapi.

Tapi nyatanya, pemandangan sampah berserakan tetap saja kita temukan setiap kita berkumpul, apalagi dalam skala besar. Harusnya kita dapat dengan mudah memprediksi perilaku manusia karena setiap dari manusia mempercayai apa yang pantas atau tidak pantas secara sosial. Namun nyatanya tidak, bukan?

Cialdini, Reno dan Kallgren adalah sekelompok ilmuan psikologi yang menyebut bahwa perilaku manusia dipengaruhi oleh perilaku orang lain. Dalam tulisan yang dipublikasikan dalam Journal of personality and social psychology tahun 1990, mereka menyebut terdapat dua jenis norma sosial yang mempengaruhi perilaku manusia, descriptive dan injunctive.

Norma deskriptif berkaitan dengan perilaku terlihat sedangkan norma injuctive berkaitan dengan kepercayaan terkait apa yang benar dan salah. Seperti kebanyakan orang menyeberang sesuai rambu lalu lintas (descriptive) dan itu memang yang seharusnya (injuctive). Masalahnya adalah tidak selamanya kedua norma ini berjalan beriringan.

Misalnya, kebanyakan orang percaya bahwa lingkungan bersih adalah baik dan diharapkan (injunctive) namun banyak orang membuang sampah tidak pada tempatnya (descriptive) karena melihat banyak sampah berserakan.

Inilah yang disebut Cialdini yang juga seorang professor psikologi di Arizona State University sebagai isyarat alam, atau perilaku sangat bergantung pada apa yang orang lihat di sekitar mereka.

Mereka menyarankan dua cara untuk menstabilkan kedua norma tersebut. Yang pertama, untuk memantik norma descriptive mereka menyarankan agar tempat umum dibuat serapi dan sebersih mungkin. Jika ada yang secara sengaja atau tidak menempatkan sampah tidak pada tempatnya, maka hal tersebut akan sangat menonjol.

Cara kedua untuk meantik norma injunctive mereka menyarankan agar para pekerja kebersihan sengaja meninggalkan beberapa sampah dan kemudian baru memungutnya setelah beberapa pengunjung datang. Tujuannya agar dilihat oleh pengunjung dan memberikan pelajaran secara langsung bahwa sampah harus berada pada tempat yang semestinya.

Teori jendela pecah (broken windows theory) adalah teori yang cukup menarik terkait perilaku manusia membuang sampah sembarangan. Teori yang dipopulerkan James Q. Wilson dan George L. Kelling tahun 1982 tersebut menyatakan bahwa isyarat kecil kerusakan lingkungan dapat menyebabkan perilaku anti-sosial.

Sati bagian kaca jendela pecah akan memantik orang untuk merusak bagian lainnya. Dari teori ini kita bisa melihat bahwa bisa jadi seseorang membuang sampah secara sembarangan karena mereka melihat banyak sampah berserakan di tempat tersebut. Sebaliknya, menurut teori ini seseorang cenderung tidak membuang sampah sembarangan di lingkungan yang hijau dan rapi.

Artinya, perilaku massa sangatlah rentan. Satu saja orang membuang sampah sembarangan, maka bisa jadi ini dianggap sebagai bagian jendela yang pecah. Ini memantik orang lain untuk memecahkan bagian jendela lainnya.

Prediktor lain yang bisa menjadi perhatian adalah kecenderungan manusia untuk lebih ‘malas’ jika dalam kondisi sosial. Psikologi menyebutnya sebagai social loafing. Konsep ini sebenarnya digunakan untuk melihat kemalasan dalam sebuah kondisi kelompok dan ada tujuan khusus.

Jika kita transformasikan teori ini dalam konteks membuang sampah, maka kita bisa melihat melalui beberapa faktor. Kita cenderung menjadi pemalas dalam kondisi sosial dan mengharapkan orang lain (petugas kebersihan) untuk menyelesaikan tugas dan bertanggung jawab (diffusion of responsibility).

Ukuran kelompok juga menyebabkan kita menjadi pemalas, itulah mengapa kita melihat sampah dalam even besar daripada di perkantoran atau pusat perbelanjaan. Selanjutnya adalah tidak adanya motivasi.

Hal ini berhubungan dengan bagaimana kepercayaan individu akan sebuah nilai atau norma. Seorang litter mungkin telah terbiasa dengan keadaan kotor dan atau tidak merasa memiliki dan bangga dengan tempat tersebut.

Melanjutkan bersama

Memahami perilaku dibalik littering setidaknya memberikan gambaran spesifik mengapa banyak dari kita masih melakukan hal tersebut. Kampanye dari berbagai elemen harus terus mendapatkan dukungan dan perluasan. Pemerintah dan otoritas terkait membutuhkan kajian lebih komprehensif dalam mengambil kebijakan terkait sampah, terutama kebijakan terkait kantong plastik.

Pembangunan fasilitas yang ramah dan nyaman untuk membuang sampah harus terus dikembangkan. Masyarakat juga membutuhkan edukasi berkelanjutan, terkait sampah dan pengelolaannya. Tak kalah penting adalah kampanye terkait perasaan memiliki dan mencintai lingkungan, karena seseorang cenderung akan lebih merawat sesuatu yang menjadi miliknya.

Jika menggunakan kacama psikologi, kita tahu bahwa membuang sampah hanyalah sebuah pengambilan keputusan yang tidak lebih dari beberapa detik sesaat setelah kita menghabiskan makanan atau minuman.

Pekerjaan rumah kita selanjutya adalah bagaimana pendidikan benar-benar membangun pondasi karakter anak-anak untuk mencintai dan memperlakukan lingkungannya. Sudah waktunya kurikulum pendidikan kita mengarah serius juga pada lingkungan.

*Dosen Psikologi PIAUD FITK UIN Malang

Tags: Dosen UIN MalangKita dan SampahSampah dan Kerumunan

Related Posts

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas
Catatan

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Senin, 31 Agu 2026
Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah
Catatan

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Minggu, 30 Agu 2026
Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Next Post
Marselino Ferdinand, pemain Timnas U-20, ketika di wawancarai awak media setelah latihan ringan di lapangan Thor Surabaya.

Kualifikasi Piala Asia U-20, Timnas Ditarget Menang, Tidak Boleh Seri Apalagi Kalah

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.