Malang, Tugumalang.id – Siapa sangka, berawal dari hobi utak-atik motor di bengkel dekat rumah, Igo Alvito Rosyid kini resmi menyandang predikat lulusan terbaik Teknik Mesin D-3 Institut Teknologi Nasional Malang. Pemuda asal Banyuwangi ini lulus dengan IPK 3,55 dan membawa inovasi yang berpotensi membantu pelaku UMKM.
Igo diketahui memiliki dasar kuat di bidang otomotif. Ia kerap mengikuti kontes modifikasi motor dan pernah meraih Juara 3 Kelas Lokal Pro di Universitas Politeknik Jember. Namun, ketertarikannya pada dunia industri membawanya merantau ke Malang untuk menempuh pendidikan tinggi.
“Dulu kalau ditanya kampus teknik mesin di Malang, ya tahunya ITN. Saya pilih D-3 karena memang ingin cepat lulus dan kerja,” ujarnya.
Mahasiswa Fakultas Teknologi Industri (FTI) itu dijadwalkan mengikuti Wisuda ke-75 Periode I pada 25 April 2026 mendatang.
Berawal dari Hobi Bengkel hingga Jadi Lulusan Terbaik
Perjalanan Igo menuju predikat lulusan terbaik tidak lepas dari kebiasaannya sejak muda yang gemar membongkar dan mempelajari mesin kendaraan. Pengalaman tersebut menjadi bekal berharga saat menempuh studi di jurusan Teknik Mesin.
Semangat belajar dan ketekunan selama kuliah mengantarkannya meraih hasil akademik memuaskan. Capaian ini sekaligus menjadi kebanggaan tersendiri bagi keluarga di kampung halaman.
Baca juga: Optimalkan Peternakan Ayam Lewat Teknik Industri, Dwi Apink Dela Nesfian Raih Predikat Lulusan Terbaik ITN Malang
Ciptakan Mesin Pengemas Otomatis untuk UMKM
Ketertarikannya pada dunia konstruksi dibuktikan melalui tugas akhir berupa rancangan mesin Auto Cup Filling Sealing. Bersama tiga rekannya, di bawah bimbingan dosen Dr. Ir. Aladin Eko Purkuncoro, ST., MT., Igo menciptakan mesin otomatis pengisi dan pengemas air mineral gelas 200 ml berbahan stainless steel.
Dalam proyek tersebut, Igo bertanggung jawab pada bagian konstruksi, mulai dari pembuatan kerangka, pengukuran komponen baut, hingga memastikan tingkat presisi mesin.
“Tujuannya biar serba otomatis. Dari yang tadinya pakai tenaga manusia, sekarang tinggal pencet, mesin jalan sendiri mulai dari ambil cup, isi air, ngepres, sampai keluar sendiri lewat bantuan sistem pneumatik,” jelasnya.
Meski menghabiskan biaya sekitar Rp21 juta, Igo mengaku puas dengan hasil yang dicapai. Tantangan terbesar justru muncul saat merakit kabel otomatisasi serta memotong rangka agar benar-benar presisi.
Menariknya, mesin tersebut rencananya tidak dijual, melainkan akan dihibahkan kepada UMKM agar produktivitas usaha semakin meningkat.
Baca juga: Antara Cireng Isi dan Barisan Kode: Kisah Marita, Lulusan Terbaik Informatika ITN Malang yang Kuliah Sambil Jualan
Cara Kerja Mesin dan Rencana Besar ke Selandia Baru
Pengoperasian mesin rakitan Igo dan tim terbilang praktis. Proses dimulai dengan mencelupkan pompa ke dalam wadah air hingga terendam, lalu menata cup bersih pada bagian tray.
Setelah itu, mesin dihubungkan ke aliran listrik dan tombol daya diaktifkan. Sistem akan menjalankan proses homing untuk menyesuaikan posisi awal secara otomatis.
Selanjutnya, mesin bekerja berurutan mulai dari mengambil cup, mengisi air, melakukan pengepresan tutup plastik, hingga mendorong hasil kemasan keluar tanpa sentuhan tangan.
Setiap produk yang keluar juga langsung terhitung otomatis melalui layar LCD. Untuk menghentikan proses, pengguna cukup menekan saklar ke posisi stop hingga layar menampilkan tulisan “IDLE”.
Pencapaian tersebut membuat orang tuanya di Banyuwangi terkejut sekaligus bangga. Igo mengaku semasa sekolah dirinya bukan sosok yang menonjol dalam prestasi akademik.
Kini, alumnus SMA Taruna Bhayangkara Banyuwangi itu telah menyiapkan rencana berikutnya, yakni menyusul saudaranya bekerja ke Selandia Baru.
“Sekarang disuruh fokus memperdalam bahasa Inggris dulu sebelum berangkat ke sana,” pungkasnya optimistis.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
redaktur: jatmiko
























