MALANG, Tugumalang.id – Sebagai seorang jurnalis yang bergelut dengan tantangan mengabarkan informasi secara cepat dan akurat kepada masyarakat. Wartawan Tugumalang, Aisyah Nawangsari Putri tidak melupakan pentingnya pendidikan.
Berkat konsistensi dan keteguhannya berkarya di dunia jurnalistik, Aisyah menjadi salah satu dari 45 penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism Batch 6 di tahun 2025 ini.
Pencapaian yang begitu membanggakan bagi Aisyah yang berencana melanjutkan studi Strata 2 (S2) di Program Studi Media dan Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.
Baca Juga: Cerita Aisyah, Wartawan tugumalang.id yang Langganan Raih Fellowship Tingkat Nasional
Namun, jalan yang ditempuh Aisyah tidak mudah karena ada berbagai tantangan yang harus dihadapinya untuk bisa lolos Beasiswa BRI Fellowship Journalism.
Harus membagi waktu dengan pekerjaan dan juga tuntutan untuk memenuhi target pemberitaan terkait program-program Bank BRI agar bisa lolos sebagai penerima beasiswa, adalah tantangan yang tidak mudah.
Tetapi Aisyah membuktikan bahwa konsistensi dan keteguhan menjadi jalan baginya menjadi satu dari sekian wartawan dari berbagai daerah di Indonesia, awardee Beasiswa BRI Fellowship Journalism tahun ini.

Prestasi ini bukan sekedar pencapaian pribadi, tetapi juga cerminan dari ketekunan, keberanian, dan cinta terhadap profesi sebagai seorang jurnalis.
Baca Juga: Joko Anwar: Perjalanan dari Wartawan ke Sutradara Horor Terbaik Indonesia
Kisah Aisyah menarik untuk disimak bagaimana seorang jurnalis dari daerah mampu menembus batas nasional dengan kekuatan tulisan dan kepekaan sosial.
Belajar dari Kegagalan di Percobaan Pertama
Bagi Aisyah keikutsertaannya di program BRI Fellowship Journalism Batch 6 bukan kali pertama. Wartawan Tugumalang.id yang bertugas di Kabupaten Malang itu, sebelumnya telah mengikuti program serupa pada tahun 2023 lalu. Namun, saat itu Aisyah masih belum beruntung dan mengakui bahwa ia minim persiapan ketika mengikuti program di Batch 4.
“Pertama ikut tahun 2023, yang batch 4. Awalnya ikut saat itu, aku enggak ada persiapan apa-apa, enggak tau strateginya apa, asal ikut saja dan sepertinya aku salah strategi pada saat itu,” ungkapnya.
Ia mengaku kurang memiliki manajemen waktu yang baik saat itu, untuk memenuhi target pemberitaan sebanyak 14 artikel berita.
Saat itu tema yang ditentukan oleh pihak Bank BRI adalah tentang UMKM. Karena gagal memenuhi target, secara otomatis Aisyah gugur pada di usaha pertamanya mendapatkan Beasiswa BRI Fellowship Journalism.
“Dalam satu bulan, 14 berita itu ternyata tidak gampang walaupun aku sempat berpikir dua hari sekali saja bisa selesai. Ternyata menemui narasumber tidak semudah itu, enggak bisa cepat. Sehingga pada saat itu aku enggak bisa memenuhi kuota berita dalam satu bulan,” beber Aisyah.
Alih-alih menyerah, dari kegagalan di percobaan pertama, Aisyah banyak belajar dari para mentor yang mendampinginya selama mengikuti seleksi BRI Fellowship terutama di sesi jurnalis on site.
Pengalamannya bersama para mentor itulah yang membuat Aisyah dapat mempersiapkan diri lebih baik di kesempatan berikutnya.
“Pada saat itu, aku dua bulan dikasih mentor. Dibuat kelompok-kelompok kecil berisi 4-6 orang untuk satu mentor. Jadi mentor itulah yang tugasnya ngasih arahan ke kita, mereka mengevaluasi berita-berita yang kita tulis. Pada saat itu banyak arahan-arahan yang kemudian aku ingat-ingat lagi dan ikuti saran itu,” papar Aisyah.
“Salah satunya adalah dalam satu berita tidak boleh satu narasumber saja, ada dua narasumber. Di tahun ini aku terapkan hal itu dan alhamdulillah diterima,” imbuhnya.
Curi Start Lebih Awal
Berkaca dari kegagalan di percobaan sebelumnya mendaftar BRI Fellowship Journalism, perempuan yang akrab disapa Sasa itu menerapkan strategi “curi start” lebih awal agar dapat memenuhi target pemberitaan selama proses seleksi.
Memasuki masa pendaftaran Beasiswa BRI Fellowship Journalism Batch 6, ia sudah mencari narasumber untuk kebutuhan liputan selama masa jurnalis on site.
“Tahun ini ada strategi, karena gagal waktu itu yang disebabkan persiapan terlalu mepet. Akhirnya tahun ini aku curi start, sebelum fellowship dimulai aku sudah liputan dan cari-cari narasumber. Walaupun enggak full dan sebagian saja, tetapi meringankan karena juga masih menulis berita reguler,” terangnya.
Selain melakukan persiapan yang lebih awal, Aisyah juga banyak berdiskusi dengan mentornya di program Beasiswa BRI Fellowship Journalism tahun ini.
Ia melakukan saran-saran yang diberikan oleh mentornya itu, termasuk memberi penjelasan kepada pembaca tentang program-program dari BRI yang ditulisnya.
“Aku dapat mentor, wartawan senior yang tugasnya memang membimbing seminggu sekali. Dari arahan yang diberikan, seperti tulisannya ditambah lagi, kurang berkreasi, kemudian arahan mencoba mencari narasumber lain agar dalam satu berita, ada dua narasumber itu aku terapkan,” ucapnya.
“Terus habis itu arahan, kita menulis berita sesuai dengan arahan BRI tentang program-program apa saja yang ingin diangkat. Jadi dalam berita yang aku tulis, di bagian bawah aku jelaskan program ini apa saja yang itu juga sesuai dengan arahan mentor,” terang Aisyah.
Dari masukan-masukan yang diberikan mentor itulah, Aisyah merasa dapat meningkatkan kemampuannya dalam menulis informasi program-program BRI, sebagai salah satu syarat mendapatkan beasiswa. Selain itu, juga merasa lebih bijak dalam melakukan manajemen waktu.
Belajar Banyak Hal dan Tantangan Tak Mudah
Selama mengikuti jurnalis on site Beasiswa BRI Fellowship Journalism, ada banyak hal yang dipelajari oleh Aisyah. Ia menjadi lebih banyak belajar dari para pelaku UMKM yang memang menjadi salah satu tema dari program tahun ini.
Selain itu, selama beberapa kali menemui narasumber, Aisyah mendapatkan cerita-cerita yang unik dari mereka. Mulai dari bagaimana mengembangkan usaha dalam wadah incubator hingga menghadapi pelaku penipuan yang menyasar para pelaku usaha mikro tersebut.
“Tentunya itu (liputan) menambah koneksi dan insight juga. Ketika aku mewawancarai dua orang yang sebenarnya berbeda tetapi dengan usaha yang sama, mereka diuntungkan oleh program ini. Itu bisa bikin angle berita sendiri,” ungkap Aisyah.
“Seperti BRIncubator, sebenarnya berkunjung ke dua UMKM yang berbeda tetapi tanpa menyinggung program BRIncubator, akhirnya mereka cerita sendiri. Habis itu ada agen BRILink yang semula mau aku tulis profilnya ternyata dia punya cerita sendiri, kalau dia pernah mencegah aksi penipuan. Cerita-cerita itu memudahkan untuk membuat angle berita baru juga,” bebernya.
Di tengah pengalaman berkesan tersebut, Aisyah juga tetap dihadapkan pada kewajiban menulis berita reguler. Hal itu menurutnya adalah tantangan yang tidak mudah, sehingga ia harus bisa pintar-pintar bagi waktu termasuk di hari libur tetap melakukan liputan dan menemui narasumber.
“Karena harus tetap menulis berita reguler, untuk mewawancarai narasumber itu, kadang-kadang mengambil waktu di hari libur. Supaya tidak mengganggu pekerjaan yang reguler, apalagi lokasi narasumber juga agak jauh, jadi harus meluangkan waktu untuk itu,” ucapnya.
Selain masalah manajemen waktu, tantangan yang dihadapi Aisyah selama masa jurnalis on site adalah bertemu dengan narasumber yang sulit ditemui dan dihubungi. Situasi tersebut membuatnya harus bisa menyiasati dengan mencari alternatif narasumber lain atau berganti angle lain.
Inilah yang dirasa Aisyah membutuhkan effort lebih karena harus berpacu dengan waktu yang telah ditentukan. Situasi ini yang juga sempat membuat Aisyah pesimis bisa mendapatkan Beasiswa BRI Fellowship Journalism tahun ini.
“Kayak janji wawancara bisa sampai dua minggu lebih, karena orangnya sibuk. Bahkan sampai saat ini enggak bisa wawancara karena narasumbernya sibuk terus.
Akhirnya harus aku akali dengan narasumber lain atau ambil kutipan dari pernyataan BRI pusat meskipun sebenarnya diminta melokal, tetapi yang penting ada. Makanya agak pesimis juga tapi alhamdulillah ternyata lolos,” tutur Aisyah.
Kini setelah dinyatakan sebagai penerima Beasiswa BRI Fellowship Journalism Batch 6 2025, Aisyah bersiap mewujudkan mimpinya melanjutkan studi.
Kisah wartawan Tugumalang.id ini menjadi bukti bahwa konsistensi dan keteguhan akan berujung dengan hasil yang diharapkan, seperti keberhasilan mendapatkan beasiswa. Ini juga kisah tentang bagaimana cerita kecil dari jurnalis di daerah, bisa mengubah hidup dan memberi inspirasi bagi banyak orang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























