Malang, Tugumalang.id – Menjelang Hari Raya Nyepi 1948 Saka, umat Hindu di Malang Raya menggelar rangkaian Tawur Agung Kesanga yang dilanjutkan dengan kirab ogoh ogoh. Kegiatan ini dipusatkan di Lapangan Rampal, Kota Malang pada Rabu (18/3/2026).
Kirab yang diakhiri dengan pembakaran ogoh ogoh tersebut menjadi simbol penyucian energi negatif sebagai bekal menatap kehidupan ke depan.
Ogoh ogoh diarak mengelilingi sejumlah ruas jalan dengan rute dari Jalan Urip Sumoharjo menuju Jalan Terusan Kesatrian. Selanjutnya kirab bergerak ke arah Jalan Hamid Rusdi, melewati Jalan Ronggolawe, sebelum kembali ke Lapangan Rampal sebagai titik akhir.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Malang, I Made Wartana, menjelaskan bahwa rangkaian peringatan Hari Raya Nyepi diawali dengan upacara Melasti yang telah dilaksanakan di Pantai Balekambang pada 14 Maret lalu.

Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan Tawur Agung Kesanga, kirab, hingga prosesi pembakaran ogoh ogoh. Ia menegaskan, seluruh tahapan ini memiliki makna penyucian diri dan lingkungan dari energi negatif agar kembali bersih dan harmonis.
Baca juga: Ogoh Ogoh Karapan Sapi hingga Tokoh 5 Agama Warnai Kirab Budaya HUT RI ke-79 di Muharto
“Selama kita hidup di dunia pastinya ada perkataan atau perbuatan yang menimbulkan hal-hal negatif. Energi atau sifat-sifat negatif ini diwujudkan dalam bentuk ogoh ogoh yang diarak keliling, lalu dibakar sebagai perlambang bahwa sifat negatif telah dinetralisir,” jelas Made Wartana.
Makna Penyucian dan Filosofi Tri Hita Karana
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, diharapkan tercipta keseimbangan hidup yang selaras dengan konsep Tri Hita Karana. Konsep ini mencakup tiga hubungan harmonis, yakni antara manusia dengan Sang Pencipta (Sang Hyang Widhi), manusia dengan sesama, serta manusia dengan lingkungan alam semesta.
Setelah seluruh rangkaian berlangsung, umat Hindu akan memasuki puncak perayaan Nyepi 1948 Saka melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian pada 19 Maret 2026.
Baca juga: Kirab Budaya Ogoh-Ogoh Diusulkan Ada Setiap Tahun di Kota Malang
“Saat Nyepi ini, diharuskan berpuasa dan tidak melakukan kegiatan apapun selama 24 jam. Sehingga benar-benar menyatu dan merefleksikan diri kepada Sang Pencipta, agar ke depannya menjadi pribadi yang lebih baik,” bebernya.
Empat Pantangan Saat Catur Brata Penyepian
Dalam pelaksanaan Nyepi, umat Hindu menjalankan empat pantangan utama sebagai bentuk pengendalian diri dan penyucian batin, yaitu:
-
Amati Geni – tidak menyalakan api, listrik, maupun cahaya
-
Amati Lelanguan – tidak bersenang-senang secara berlebihan
-
Amati Lelungan – tidak bepergian dan berdiam diri di rumah
-
Amati Karya – tidak bekerja atau melakukan aktivitas fisik
Usai pelaksanaan Nyepi, rangkaian perayaan akan ditutup dengan upacara Ngembak Geni yang digelar pada Jumat, 20 Maret di Candi Badut.
“Ngembak Geni ini menandai kembalinya aktivitas normal setelah seharian melaksanakan Catur Brata Penyepian,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
redaktur: jatmiko
























