Malang, Tugumalang.id – Pernah merasa bisa sabar saat berhadapan dengan orang asing—misalnya kasir yang salah memberi kembalian atau rekan baru yang bicara tanpa pikir panjang—tapi langsung emosi ketika pasangan, sahabat, atau keluarga berbuat sedikit salah? Fenomena ini bukan sekadar soal emosi yang tidak stabil. Ada penjelasan psikologis mendalam di balik kecenderungan kita lebih mudah marah kepada orang-orang terdekat.
Berikut adalah tiga teori psikologi yang menjelaskan alasan di balik fenomena ini:
1. Teori Displacement: Melampiaskan Emosi ke Target yang Lebih Aman
Menurut Sigmund Freud, displacement adalah salah satu mekanisme pertahanan diri, di mana seseorang memindahkan emosi negatif seperti marah atau frustrasi dari sumber sebenarnya ke sasaran yang dianggap lebih aman.
Contohnya, kamu mungkin kesal dengan atasan karena dimarahi di kantor, tapi tidak bisa mengekspresikan kemarahan itu secara langsung. Akhirnya, perasaan marah tersebut malah dilampiaskan ke pasangan atau anggota keluarga di rumah—orang yang secara emosional terasa lebih aman untuk dijadikan pelampiasan.
Masalahnya, mekanisme ini sering terjadi tanpa sadar. Kita merasa “berhak” marah kepada orang terdekat karena mereka lebih memahami kita. Namun, jika terus dibiarkan, hubungan bisa menjadi toxic karena emosi negatif yang seharusnya tidak ditujukan kepada mereka malah menjadi beban hubungan.
Baca juga: Bebas Kecanduan Kopi, 8 Langkah Mudah Hidup Lebih Sehat
2. Attachment Theory: Gaya Keterikatan Mempengaruhi Cara Kita Marah
Teori dari John Bowlby menjelaskan bahwa pola keterikatan atau attachment style yang terbentuk sejak masa kecil sangat memengaruhi cara kita berinteraksi dalam hubungan dekat saat dewasa.
-
Secure attachment: lebih mampu mengelola emosi dengan sehat.
-
Insecure attachment (anxious atau avoidant): cenderung lebih emosional dan sensitif terhadap tanda-tanda penolakan.
Misalnya, seseorang dengan anxious attachment bisa merasa sangat marah hanya karena pasangannya terlambat membalas pesan, karena merasa tidak dicintai. Di sisi lain, mereka yang avoidant justru merasa tidak nyaman dengan kedekatan emosional, dan bisa marah saat merasa terlalu terikat. Dalam kasus ini, kemarahan bukan soal peristiwa kecil, tapi luka lama yang belum sembuh.
Baca juga: Plaanet Stress Malang, Tempat Healing Inovatif Melampiaskan Emosi Negatif
3. Teori Ekspektasi Sosial: Orang Terdekat, Ekspektasi Lebih Tinggi
Psikolog sosial Harold Kelley lewat teori interdependence, menjelaskan bahwa kita memiliki ekspektasi emosional lebih tinggi terhadap orang terdekat dibandingkan dengan orang asing. Kita mengharapkan perhatian, validasi, dan pengertian—dan ketika itu tidak terpenuhi, emosi negatif muncul lebih cepat.
Kesalahan kecil seperti lupa ulang tahun atau tidak peka saat kita sedang stres bisa terasa sangat besar jika dilakukan oleh orang dekat. Padahal jika hal serupa dilakukan oleh orang asing, kita cenderung lebih toleran.
Masalah makin rumit ketika kita berharap orang terdekat bisa “membaca pikiran” kita tanpa komunikasi terbuka. Akhirnya, ekspektasi berubah jadi tuntutan diam-diam yang memicu konflik.
Mudah Marah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Agar tidak terus-menerus menjadikan orang terdekat sebagai pelampiasan emosi, cobalah langkah-langkah berikut:
-
🔹 Sadari emosimu: Tanyakan pada diri sendiri, “Aku sebenarnya marah pada siapa?”
-
🔹 Komunikasikan ekspektasi: Jangan berharap orang lain bisa menebak isi hatimu.
-
🔹 Latih pengendalian diri: Ambil jeda sebelum bereaksi, terutama saat stres atau kelelahan.
-
🔹 Refleksi diri: Periksa apakah kamu punya pola ketergantungan emosional yang tidak sehat atau luka lama yang belum sembuh.
Penutup: Orang Terdekat Bukan Tempat Pelampiasan
Marah adalah hal wajar dalam hubungan. Tapi bagaimana kita mengelolanya menentukan sehat tidaknya relasi tersebut. Semakin kita memahami akar psikologis dari emosi, semakin bijak kita dalam menyikapinya. Ingat, orang terdekat seharusnya menjadi ruang aman untuk tumbuh bersama, bukan menjadi korban dari kemarahan yang salah sasaran.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Nama penulis: Maysa Ayu Raddina (magang)
redaktur: jatmiko
























