Sabtu, Mei 30, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Peristiwa

Kebanggaan Itu Sudah Tak Lagi Ada Mendengar Suara Aremania Pasca Setahun Tragedi Kanjuruhan

Redaksi by Redaksi
Oktober 1, 2023 10:35 am
in Peristiwa
tragedi kanjuruhan

Aremania saat turun ke jalan membentangkan foto-foto para korban Tragedi Kanjuruhan. Foto: Rubianto

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Peristiwa kelam Tragedi Kanjuruhan telah memasuki masa setahun. Setahun berlalu, keadilan bagi 135 nyawa dan 600 lebih luka-luka itu seolah hanya menjadi angin lalu.

Seperti diketahui, penegakan hukum atas perkara Tragedi Kanjuruhan berakhir dengan kesimpulan bahwa gas air mata tidak akan menimbulkan korban jiwa seandainya tidak tertiup angin.

READ ALSO

Hilang Saat Cari Rumput, Kakek di Wagir Ditemukan Meninggal di Sumur

Pelajar SMP di Sumbermanjing Wetan Tewas Usai Serempetan dengan Truk

Ilustrasi aksi gantung syal Aremania pasca Tragedi Kanjuruhan. Foto: Rubianto

Tak hanya itu, banyak kejanggalan dalam proses penanganan hukumnya sejak awal terungkap meski tidak tercantum di atas kertas. Mulai pembenaran tindakan represif, intimidasi saksi korban hingga kejanggalan-kejanggalan lain di persidangan.

Putusan meringankan akibat faktor ‘angin’ semakin menebalkan krisis kepercayaan publik, khususnya masyarakat Malang terhadap aparat penegak hukum. Selain terhadap aparat, sejumlah suporter juga mulai mengalami krisis kebanggaan terhadap klub kebanggaannya.

Libra (40), salah satu suporter Aremania mengaku mulai memuseumkan atributnya sejak tragedi itu pecah. Setahun pasca tragedi berlalu, keputusan gantung syal itu semakin membulat. Bagi dia, tidak ada sepak bola seharga nyawa.

Menurut Libra, klub memiliki peranan besar dalam menegakkan keadilan para korban yang selama ini bertaruh jiwa, raga dan nyawa demi klub. Namun, ketika nyawa itu terenggut, klub yang dibela sepenuh hatinya itu tak berdiri di barisan bersama suporter untuk keadilan.

“Sudah setahun, saya lihat tidak ada langkah konkrit dari klub. Hanya sebatas bela sungkawa, santunan, doa bersama dan tagar #usuttuntas. Tapi buktinya, hasilnya angin? Apakah itu tuntas? Malah sekarang sudah main,” ujarnya sembari geleng-geleng kepala.

Libra sendiri tak menyangka jika penegakan hukum atas ratusan suporter karena respon berlebihan aparat kepolisian itu berujung tragis. Sebab itu, ia berkomitmen untuk tidak lagi menonton Arema FC sampai keadilan benar-benar diusut tuntas.

“Terus terang, saya sudah jadi Aremania sejak kecil. Kebanggan itu sudah lama terukir di dada kami. Tapi sejak tragedi itu, dan apa yang saya lihat setahun ini, saya dengan tegas tidak akan menonton Arema lagi. Kebanggaan itu, sudah mati,” ujarnya.

Torehan grafiti luapan kekecewaan suporter atas penegakan keadilan Tragedi Kanjuruhan. Foto: Azmy

Keputusan untuk gantung syal juga dituturkan Eko (41) yang kini tidak mau lagi disebut Aremania. Eko merasa heran, di tengah kusutnya perkara hukum, di dalam tubuh Aremania sendiri malah bingung soal nama Arema.

“Padahal sudah jelas itu yang mati Aremania, gara-gara gas air mata. 135 orang nyawa temannya mati, bukannya sibuk saling bantu cari keadilan, malah bingung soal logo. Wah, soal ini jujur saya sudah gelap,” ungkapnya.

Situasi runyam ini diperparah dengan sikap klub yang seolah tidak punya empati. Perjuangan klub, selama setahun ini menurutnya hanya formalitas. Alih-alih fokus membela masyarakat pendukungnya, klub malah memilih jalur hukum untuk perkara yang bukan menyoal keadilan Tragedi Kanjuruhan.

“Jujur hasrat saya menonton Arema sudah hilang. Dulu, saya cintai, saya perjuangkan sepenuh hati, sampai nyawa taruhannya. Tapi di situasi seperti ini mereka bisa tega main bola, ada juga yang dukung nyanyi-nyanyi. Disitulah, kebencian saya semakin menguat,” ujarnya geram.

Kendati demikian, dirinya bersama teman-teman lain masih konsisten berdiri memperjuangkan keadilan. Meski dalam hal ini putusan sidangnya sudah final. Bagi dia, ingatannya selama setahun ini tidak bisa dihapus kecuali dengan keadilan.

“Saya respect dan ada di belakang teman-teman yang masih berjuang untuk keadilan sampai hari ini, Untuk teman-teman yang masih ngotot membela klub, saya doakan cepat sadar. Saya tidak benci Arema, tapi saya benci klub yang nir-empati,” tegas dia.

Keheranan yang sama dalam situasi tragedi ini juga disampaikan oleh Pak Midun, pegowes asal Kota Batu yang menyampaikan aspirasi keadilan Tragedi Kanjuruhan dengan mengayuh sepeda ke Senayan tempo hari lalu.

Selama perjalanannya itu pula dia memantik spirit para suporter di berbagai daerah untuk mengawal keadilan Tragedi Kanjuruhan dan perdamaian antar suporter seluruh Indonesia.

Baca Juga: Peringati Setahun Tragedi Kanjuruhan, Curva Sud Arema Gelar Doa Bersama hingga Khitanan Massal

Terlepas dari, bagi dia, selama setahun penegakan keadilan Tragedi Kanjuruhan tidak menghasilkan solusi sama sekali. Buktinya, hingga hari ini keluarga korban yang melaporkan penanganan hukum dengan model B justru ditolak.

“Harusnya setahun itu kan ada resolusi. Saya jadi bingung 1 Oktober ini diperingati sebagai hari apa? Hari Pancasila apa Hari Tragedi Kanjuruhan?,, Terus terang sebagai pecinta bola, saya prihatin sekali,” ujar Midun.

Setahun Keluarga Korban Berjuang, Kandas?

Gelombang menuntut keadilan masih terus mengalir dari keluarga korban yang menolak nyawa anak-anaknya sebanding dengan uang donasi. Berbagai langkah hukum mereka tempuh demi mencari keadilan.

Devi Athok, ayah dari 2 anak keluarga korban meninggal Tragedi Kanjuruhan yang terus mencari keadilan hingga saat ini. Foto: Aisyah Nawangsari Putri

Seperti dilakukan Devi Athok, bapak dari Natasha dan Naila yang meninggal di Stadion Kanjuruhan malam itu. Devi Athok menjadi salah satu sosok Aremania yang paling getol memperjuangkan keadilan 135 korban sejak awal peristiwa kelam tersebut.

Berbagai macam tekanan dan intimidasi menjadi ‘Sego Jangan’ Devi Athok. Mulai ancaman dibunuh, ditabrak, ditodong pistol hingga percobaan suap senilai Rp 20 miliar. Tujuannya hanya satu, agar dia berhenti mencari keadilan.

Terbaru, Devi Athok bersama keluarga korban lain tengah mencari jalan mencari keadilan. Mereka menyerahkan dokumen laporan polisi model B ke Bareskrim Mabes Polri pada Rabu (27/9/2023). Ini dilakukan setelah laporan mereka di Polres Malang jalan di tempat.

Di tengah keadilan yang belum didapat, pemerintah sudah sibuk merealisasikan renovasi Stadion Kanjuruhan. Saat ini, sebagian bangunan stadion sudah mulai dipugar.

“Fakta-fakta yang kita lihat selama setahun ini sangat-sangat melukai hati semua keluarga korban yang sampai hari ini belum mendapat keadilan,” tegas Devi Athok.

Hal senada dikatakan keluarga korban yang lain, Bambang Bambang Lismono, ayah dari Putri Lestari (21) yang berasal dari Kelurahan Turen, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Menurut dia, renovasi stadion di tengah kusutnya keadilan adalah kejahatan.

“Sampai hari ini, kami keluarga korban masih belum mendapat keadilan. Kami menolak renovasi stadion. Renovasi itu menghilangkan jejak, menghilangkan semua bukti kebiadaban. Di sini, 135 itu nyawa orang, bukan binatang,” tegas Bambang.

Seperti diketahui, putusan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Surabaya pada 16 Maret 2023 terkait vonis bebas dan ringan terhadap 5 terdakwa telah dianulir oleh Mahkamah Agung (MA).

Hanya saja, vonis yang diterapkan menurut keluarga korban tidak adil karena penanganannya menggunakan laporan polisi model A, dimana laporan itu yang melaporkan juga adalah polisi, bukan warga.

Sementara itu, janji keadilan untuk korban Tragedi Kanjuruhan yang diucapkan oleh Ketua Umum PSSI Erick Thohir dan Presiden Joko Widodo juga dinilai menguap begitu saja.

Terakhir, dalam prosesi penerimaan gelar Doktor Honoris Causa bidang Manajemen Strategis Universitas Brawijaya di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat (3/3/2023), dia kembali berjanji akan turun tangan.

“Satu-satu harus diselesaikan. Pelan-pelan kita cari lagi penegakan hukum seperti apa,” kata Erick saat itu.

Baca Juga: Keluarga Korban Minta Kasus Tragedi Kanjuruhan Ditangani Bareskrim Mabes Polri

Perlu diingat kembali, malam 1 Oktober 2022 menjadi malam terkelam dalam sejarah sepak bola Indonesia. Bermula dari aksi suporter mencurahkan hati atas kekalahan klub, direspon aparat dengan tindakan represif dan gas air mata.

Letupan gas air mata yang ditembakkan juga ke arah tribun memicu kepanikan penonton untuk mencari jalan keluar.

Di tengah kondisi pintu stadion yang terbatas, penonton panik, terjadi penumpukan dan jatuhlah korban jiwa. Tak hanya satu dua, tapi 135 nyawa dan 600 lebih luka-luka.

Tragedi Kanjuruhan ditetapkan menjadi tragedi sepak bola paling buruk kedua di dunia di bawah insiden serupa di Stadion Nacional, Lima, Peru pada 24 Mei 1964 yang merenggut 328 korban jiwa.

BACA JUGA: Berita tugumalang.id di Google News

reporter: ulul azmy
editor:jatmiko

Tags: AremaniaHeadlinehealinekeluarga korban teragedi kanjuruhansetahun tragedi kanjuruhantragedi kanjuruhan

Related Posts

Proses evakuasi kakek yang ditemukan tewas di sumur. Foto: BPBD Kabupaten Malang
Peristiwa

Hilang Saat Cari Rumput, Kakek di Wagir Ditemukan Meninggal di Sumur

Rabu, 27 Mei 2026
Lokasi terjadinya kecelakaan di Sumbermanjing Wetan. Foto: Satlantas Polres Malang
Peristiwa

Pelajar SMP di Sumbermanjing Wetan Tewas Usai Serempetan dengan Truk

Selasa, 26 Mei 2026
Kondisi rumah di Singosari yang hancur akibat ledakan diduga petasan. Foto: Polsek Singosari
Peristiwa

Ledakan Diduga Petasan di Singosari Malang Sebabkan 1 Rumah Rusak Parah dan 6 Orang Luka-luka

Selasa, 26 Mei 2026
Petugas melakukan olah TKP di lokasi ditemukannya bayi. Foto: Polres Malang
Peristiwa

Bayi Laki-laki Ditemukan Tak Bernyawa di Tepi Jalan Karangploso Malang

Kamis, 21 Mei 2026
Pohon Tumbang
Peristiwa

BPBD Evakuasi Pohon Tumbang di Jalur Nasional Malang-Kepanjen

Rabu, 20 Mei 2026
Lansia Tertabrak Motor
Peristiwa

Lansia di Kota Batu Meninggal Dunia Setelah Tertabrak Motor Saat Menyeberang Jalan

Rabu, 20 Mei 2026
Next Post
Pemuda Pancasila

Terbuka Dengan Berbagai Pihak, Pj Wahyu Bertemu Pemuda Pancasila dan Lira

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pemkab Malang Targetkan Bongkar Ratoon di Lahan 7.500 Hektare Tahun Ini

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Malang PSI Tancap Gas Perkuat Akar Partai, 84 Ribu Bendera Disebar di Jatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.