Tugumalang.id – Kampung Keramik Dinoyo Kota Malang adalah sekian dari banyak tempat kerajinan tanah liat yang masih bertahan di tengah arus teknologi yang semakin maju. Warga di sana masih mempertahankan kekhasan ini, meskipun secara bisnis sudah tidak lagi selancar dulu.
Salah satunya Yono (60) pemilik “Keramik SN Dinoyo”. Dia bercerita banyak tentang naik-turun bisnis keramin saat ini. Menurutnya, perkembangan pasar digital alias market place mengubah pola bisnis keramik dari yang dulunya pelanggan datang langsung kini membeli secara online.
Keadaan ini membuat dia tidak bisa berbuat banyak, karena selain memikirkan kualitas produk juga perlu memikirkan cara pemasarannya yang tentunya membutuhkan konsentrasi.
Desain Bersifat Costume
Yono mengatakan pihaknya telah puluhan tahun menekuni kerajinan keramik. Kampung Keramik Dinoyo memang sudah lama masyhur dan memiliki keunikan tersendiri.

Baca Juga: LP2M UM Dampingi Kampung Wisata Keramik Dinoyo Kembangkan Eduwisata Virtual
Keramik yang dihasilkan dibuat dari tanah liat khusus yang sudah melalui proses pengolahan agar lebih kuat dan tahan lama. Sementara untuk memberikan kepuasan pada pelanggan, desainya bisa costume atau sesuai permintaan.
“Setiap desain biasanya mengikuti permintaan konsumen, ada yang untuk kebutuhan rumah tangga, ada juga yang khusus untuk dekorasi,” ungkapnya saat ditemui di tempatnya membuat keramik pada Selasa (26/8/2025).
Produk keramik Dinoyo tidak hanya diminati masyarakat lokal. Sebagian besar pesanan bahkan dikirim ke luar daerah, terutama ke Bali, sebelum akhirnya menembus pasar nasional. Bali dijadikan jalur utama distribusi karena lebih dekat dengan akses ekspor.
Dia menjelasakan, proses pembuatan keramik di Kampung Wisata Dinoyo memiliki tahapan tersendiri. Para pengrajin menggunakan alat khusus untuk membentuk tanah liat hingga menghasilkan kerajinan siap pakai.

Setelah dibentuk, setiap produk harus dijemur selama kurang lebih dua hari bila cuaca mendukung, agar tidak mudah retak sebelum masuk tahap pembakaran.
Baca Juga: Home Industri Keramik Dinoyo Kota Malang Kebakaran Akibat Selang LPG Bocor
Bahan baku utama berupa tanah liat sebagian besar diperoleh melalui pasokan dari pemerintah, sehingga kualitasnya tetap terjaga. Di kawasan kampung wisata ini juga tersedia penjualan tanah liat dalam jumlah kecil untuk edukasi, terutama bagi anak-anak yang ingin belajar membuat keramik secara langsung.
“Untuk kepentingan belajar, kami juga menjual tanah liatnya. Tetapi jumlahnya tidak banyak,” kata Yono.
Dahulu, jumlah pengrajin yang aktif di kawasan Dinoyo tercatat mencapai sekitar 30 orang. Namun kini jumlahnya menurun karena berbagai faktor, termasuk berkurangnya permintaan serta persaingan dengan produk modern.
Meski demikian, pengrajin yang tersisa tetap berupaya mempertahankan tradisi keramik Dinoyo agar tetap dikenal dan tidak hilang ditelan zaman.
Selain kualitasnya yang dikenal baik, harga keramik Dinoyo juga relatif lebih murah dibandingkan daerah lain. Hal inilah yang membuat banyak pembeli maupun wisatawan datang langsung ke kampung tersebut untuk mendapatkan produk keramik.
Dinoyo pun tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata belanja yang unik di Malang.
Meski demikian, perjalanan para pengrajin tidak selalu mulus. Pandemi Covid-19 sempat memberi dampak besar.
“Banyak desain keramik yang sebelumnya populer terhenti produksinya dan perlahan menghilang. Selain itu, tren jual beli online yang semakin mendominasi juga membuat sebagian pengrajin harus beradaptasi agar tidak kalah bersaing. Banyak kreasi yang akhirnya hilang saat pandemi, karena produksi berhenti lama,” kata Yono.
Kini, Kampung Wisata Dinoyo tidak hanya menjadi tempat produksi keramik, tetapi juga simbol ketekunan dan daya tahan budaya lokal.
Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan pengrajin disana menjadi bukti nyata bahwa tradisi bisa terus hidup dan berkembang.
Keramik Dinoyo pun tetap memancarkan daya tariknya, baik sebagai produk seni bernilai ekonomi maupun sebagai identitas kebanggaan Kota Malang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Imas Salisah Goniyah (Magang)
Editor: Herlianto. A





























