Malang, Tugumalang.id – Upaya menghidupkan kembali budaya Jawa yang nyaris terlupa dilakukan musisi asal Yogyakarta, Kajawi, melalui karya musik yang unik dan berani. Mengemas kisah Wayang Purwo dalam balutan beat hip-hop, musik gamelan, suara sinden, penggalan narasi dalang, serta lirik Jawa yang kental, Kajawi menghadirkan nuansa klasik yang terasa segar dan relevan.
Meski tidak mengisahkan alur Wayang Purwo secara menyeluruh, Kajawi mampu menyuguhkan gambaran besar cerita Mahabharata. Kisah-kisah penting yang dipilih berfokus pada peristiwa besar di Hastinapura dan Amarta, khususnya konflik panjang antara Pandawa dan Kurawa, termasuk perang Bharatayuda yang sarat nilai sejarah dan filosofi.
Tak sekadar menghadirkan ulang cerita pewayangan yang mulai asing di telinga generasi muda, Kajawi juga menyisipkan pesan moral di setiap lagu. Melalui bahasa Jawa yang sederhana dan rangkaian nada yang mengalir, pesan-pesan tentang nilai kehidupan disampaikan dengan cara yang mudah dicerna dan menghibur.
Baca juga: Jejak Bung Karno di Museum Musik Indonesia
Empat Lagu Kajawi yang Wajib Masuk Playlist
1. Wayang Purwo
Lagu ini dibuka dengan alunan gamelan yang berpadu dengan suara lembut sinden, menyuarakan harapan akan kesejahteraan dan kelestarian budaya Jawa. Perpindahan beat yang halus menciptakan kesan harmonis sejak awal.
Dalam lagu Wayang Purwo, Kajawi mengenalkan kembali tokoh-tokoh pewayangan, mulai dari para ksatria Ngastina (Kurawa), Ngamarta (Pandawa), putra-putra Pandawa, hingga empat punakawan sebagai tokoh khas wayang Jawa. Di bagian akhir lagu, terselip pesan dalang pewayangan:
“Elingo papan dunungmu”
“Elingo marang kabudayanmu”
Pesan tersebut mengingatkan pentingnya mengenal asal-usul dan menjaga budaya. Kajawi mengajak pendengar untuk tidak hanya menonton pagelaran budaya, tetapi juga memahami pesan dan tuntunan yang terkandung dalam cerita wayang purwa.
2. Bharatayudha
Bharatayudha mengisahkan perang besar antara Pandawa dan Kurawa. Lagu ini dibuka dengan lolongan terompet perang, teriakan, serta denting suara pedang beradu yang membangun suasana peperangan terasa nyata.
Kajawi menguraikan peran tokoh-tokoh penting di masing-masing kubu, seperti Prabu Bisma sebagai panglima Kurawa serta Krisna, penyebar ilmu pengetahuan yang menjadi kusir Janaka atau Arjuna. Gugurnya para tokoh besar dan alasan kematian yang telah diramalkan para dewa turut diceritakan secara runtut.
Melalui kisah sumpah, pengorbanan, dan pembalasan dendam, perang Bharatayudha menghadirkan pelajaran tentang tugas ksatria Pandawa dalam menuntaskan kejahatan Kurawa, sekaligus refleksi nilai kebajikan bagi umat manusia.
Baca juga: PCHC Rilis Trilogi Music Video, Perkuat Ekosistem Musik Underground Malang
3. Sengkuni Dadu
Lagu Sengkuni Dadu mengangkat kisah liciknya Sengkuni, paman Kurawa, yang menantang Yudistira bermain dadu di Kerajaan Ngastina. Dalam permainan tersebut, Kerajaan Ngamarta, harta kekayaan, pakaian saudara-saudaranya, hingga Drupadi atau Pancali, istri Yudistira, dijadikan taruhan.
Puncak cerita terjadi saat Dursasana mencoba melucuti pakaian Drupadi. Keajaiban pun terjadi ketika kain yang ditarik tak pernah habis, sebagai simbol keberpihakan dewa pada kebenaran.
Melalui lagu ini, tergambar jelas kekejaman Kurawa dan Sengkuni dalam upaya mengalahkan Pandawa dengan segala cara. Pesan tentang karma dan pentingnya menjaga perilaku disampaikan kuat, sesuai dengan nilai yang tertulis dalam kisah Mahabharata.
4. Gojalisuta
Berkolaborasi dengan Ki Probo Sasongko, lagu Gojalisuta dibuka dengan alunan gamelan dan suara dalang yang menyampaikan pesan Krisna kepada putranya, Bomo. Pesan yang diabaikan tersebut memicu terjadinya perang Gojali Suta, konflik antara Krisna dan Bomo.
Lagu ini menyoroti bagaimana cinta dapat menjadi pemantik perang antar saudara. Kisah bermula dari Samba, putra Krisna, yang jatuh cinta kepada istri Bomo, Narakasura. Tindakan tersebut memicu amarah Bomo, yang semakin memuncak akibat hasutan Wilmuna.
Bomantara, simbol angkara murka, digambarkan merasuki jiwa Bomo hingga ia membunuh Samba dengan kejam. Meski akhirnya menyadari konsekuensinya, perang Gojali Suta tak dapat dihindari. Pesan yang disampaikan pun mendalam, bahwa bukan hanya amarah yang perlu dikendalikan, tetapi juga cinta yang harus ditempatkan pada posisi yang tepat.
Melalui lagu-lagu hip-hop Jawa karya Kajawi, banyak nilai kehidupan yang dapat dipetik, mulai dari persaudaraan, pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, pengendalian amarah, hingga cinta yang jika tak terkelola justru membawa petaka.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah (magang)
redaktur: jatmiko
























